Kabur dari Rutan Pekanbaru, Tahanan Buronan Ini Akhirnya Ditangkap Warga Saat di Dapur Kurban

Beritariau.com, Pekanbaru - Upaya pelarian seorang warga binaan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I A Pekanbaru berakhir setelah ia berhasil ditangkap warga di kawasan Rumbai pada Rabu (27/5/2026) siang. Tahanan bernama Nasriyatno alias Cili tersebut sebelumnya melarikan diri sejak Minggu (24/5/2026) dan sempat menjadi buronan pihak berwenang.
Pelarian Cili berakhir tak terduga ketika ia mendatangi sebuah lokasi yang tengah digunakan warga untuk kegiatan memasak dan penyembelihan hewan kurban dalam rangka Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Di lokasi tersebut, warga sedang bergotong royong mengolah daging kurban, termasuk memasak rendang.
Aroma masakan yang menyengat diduga membuat pelaku keluar dari tempat persembunyiannya karena rasa lapar. Namun, gerak-geriknya kemudian dicurigai oleh warga yang sedang beraktivitas di lokasi tersebut.
Salah seorang warga mengungkapkan bahwa pelaku tiba-tiba muncul di sekitar area dapur kurban sebelum akhirnya dikenali sebagai buronan yang sedang dicari.
“Katanya dia keluar karena lapar. Kebetulan di dekat situ memang lagi masak rendang untuk kurban,” ujar warga setempat.
Mengetahui hal tersebut, warga segera bertindak cepat dengan mengepung dan mengamankan pelaku sebelum ia melarikan diri lebih jauh, lalu menyerahkannya kepada pihak berwenang.
Kepala Rutan Kelas I A Pekanbaru, Erwin Siregar, membenarkan penangkapan kembali tahanan tersebut. Ia menyebut pihaknya saat ini masih melakukan pemeriksaan dan evaluasi internal terkait insiden pelarian tersebut.
“Benar, sudah ditangkap,” ujarnya singkat.
Sebelumnya, pelarian terjadi saat terjadi kelengahan petugas pada masa pergantian shift jaga. Pelaku diduga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melompati pagar dan meninggalkan area rutan.
Insiden ini menjadi perhatian serius pihak rutan karena menyoroti kembali aspek keamanan dan pengawasan di lingkungan pemasyarakatan. Pihak rutan berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari. (*)

