Perkuat Mitigasi Bencana, Pemko Dumai Luncurkan Adinda Idaman dan Bentuk Tim PISB

Beritariau.com, DUMAI -- Pemerintah Kota Dumai memperkuat upaya mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana melalui peluncuran aplikasi informasi kebencanaan Adinda Idaman serta pengukuhan Tim Putri Idaman Siaga Bencana (PISB). Langkah ini menjadi bagian dari transformasi penanggulangan bencana, dari yang semula berfokus pada penanganan darurat menjadi upaya pencegahan dan pengurangan risiko sejak dini.
Peluncuran tersebut dilakukan dalam Puncak Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026 yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Dumai di Citimall Dumai, Selasa (13/10/2026).
Kegiatan itu dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Dumai, Muhammad Yunus, yang mewakili Wali Kota Dumai, Ketua DPRD Dumai Agus Miswandi, Kepala Pelaksana BPBD Dumai Wahyu Wicaksono, serta camat dan lurah se-Kota Dumai.
Sebagai kota pesisir sekaligus kawasan industri, Dumai menghadapi beragam ancaman bencana, mulai dari banjir, pasang air laut atau rob, abrasi, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga potensi kegagalan teknologi.
Kondisi tersebut menuntut penguatan sistem peringatan dini, akses informasi kebencanaan, edukasi masyarakat, serta koordinasi lintas sektor agar risiko bencana dapat ditekan dan dampaknya diminimalkan.
Kepala Pelaksana BPBD Dumai Wahyu Wicaksono mengatakan, peringatan Bulan PRB menjadi momentum untuk memperkuat sistem mitigasi sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam membangun budaya sadar bencana.
Salah satu langkah strategis yang diluncurkan adalah aplikasi Adinda Idaman, yang dirancang untuk memudahkan masyarakat memperoleh informasi kebencanaan secara cepat dan akurat.
"Aplikasi ini hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan akses informasi kebencanaan yang cepat, akurat, dan mudah dipahami, mulai dari potensi ancaman, peringatan dini, hingga panduan kesiapsiagaan yang terintegrasi," ungkap Wahyu.
Melalui aplikasi tersebut, masyarakat diharapkan lebih mudah memahami potensi ancaman di lingkungan masing-masing dan mengetahui langkah yang perlu dilakukan untuk menghadapi situasi darurat.
Libatkan Pelajar Perempuan dalam Kesiapsiagaan
Selain memperkuat pemanfaatan teknologi, BPBD Dumai juga mendorong keterlibatan generasi muda melalui pengukuhan Tim Putri Idaman Siaga Bencana (PISB).
Program ini diarahkan untuk meningkatkan peran aktif pelajar perempuan sebagai pelopor budaya sadar bencana, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.
"Program ini dirancang untuk mendorong peran aktif pelajar, khususnya perempuan, agar menjadi pelopor budaya sadar bencana sejak dini di lingkungan keluarga dan sekolah," tutur Wahyu.
Penguatan edukasi kebencanaan di sektor pendidikan selanjutnya akan dilakukan melalui pencanangan program Sekolah/Madrasah Aman Bencana (SMAB) pada 16 Oktober 2026.
Empat sekolah ditetapkan sebagai proyek percontohan, yakni SMPN 2, SD Binsus, SDN 04, dan SDN 05. Program ini diharapkan dapat membangun lingkungan pendidikan yang lebih siap menghadapi potensi bencana melalui peningkatan pengetahuan dan kesiapsiagaan warga sekolah.
Perkuat Peringatan Dini dan Perlindungan Masyarakat
Rangkaian kegiatan Bulan PRB 2026 juga mencakup sejumlah langkah konkret dalam pengurangan risiko bencana dan perlindungan masyarakat.
Sebelumnya, BPBD Dumai telah meresmikan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) untuk memantau ketinggian air. Upaya pelestarian lingkungan turut dilakukan melalui penanaman mangrove di kawasan pesisir sebagai bagian dari langkah menjaga lingkungan dan mengurangi kerentanan wilayah pesisir.
BPBD juga membagikan ribuan masker KN95 kepada masyarakat melalui kolaborasi dengan PT Pertamina Patra Niaga RU II Dumai, Basarnas, dan komunitas Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI).
Dalam kegiatan puncak tersebut, turut dilakukan sosialisasi aplikasi Adinda Idaman serta penyerahan bantuan kesiapsiagaan karhutla untuk Kota Dumai dari PT Pertamina Patra Niaga RU II Dumai.
Sementara itu, Muhammad Yunus menegaskan bahwa penanggulangan bencana membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, bukan hanya menjadi tanggung jawab BPBD.
Menurutnya, perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan kelurahan, dunia usaha, akademisi, relawan, serta masyarakat harus memperkuat koordinasi dan mengesampingkan ego sektoral dalam upaya mengurangi risiko bencana.
"Setiap perangkat daerah, unsur kecamatan, kelurahan, dunia usaha, akademisi, hingga relawan dan masyarakat umum diimbau untuk menghilangkan ego sektoral serta mengintegrasikan pengurangan risiko bencana dalam perencanaan pembangunan daerah secara berkelanjutan," tegas Muhammad Yunus.
Melalui penguatan teknologi informasi, edukasi kebencanaan di sekolah, sistem peringatan dini, dan kolaborasi lintas sektor, Pemko Dumai berharap kesiapsiagaan masyarakat semakin meningkat.
Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah membangun Dumai sebagai kota yang lebih tangguh, dengan pengurangan risiko bencana tidak hanya dilakukan saat keadaan darurat, tetapi juga menjadi bagian dari perencanaan pembangunan dan kehidupan masyarakat sehari-hari. (*)

