Inflasi Riau Tembus 5,30 Persen, Tembilahan Catat Angka Tertinggi

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Asep Riyadi
Beritariau.com, Pekanbaru – Laju inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Provinsi Riau pada Februari 2026 mencapai 5,30 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,06. Kenaikan harga tertinggi tercatat di Tembilahan yang menyentuh 7,32 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Asep Riyadi, menjelaskan bahwa tekanan inflasi terjadi hampir di seluruh wilayah penghitungan. Selain Tembilahan, inflasi juga terjadi di Kabupaten Kampar meski menjadi yang terendah, yakni 5,14 persen dengan IHK 112,90.
Secara bulanan (month to month/m-to-m), Riau mengalami inflasi 0,32 persen. Namun secara tahun kalender (year to date/y-to-d), masih tercatat deflasi tipis sebesar 0,12 persen.
Menurut Asep, lonjakan inflasi tahunan dipicu kenaikan harga pada sembilan kelompok pengeluaran. Kenaikan paling signifikan terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak 19,60 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 16,27 persen.
Selain itu, kenaikan juga terjadi pada kelompok pendidikan (5,05 persen), makanan, minuman dan tembakau (3,90 persen), pakaian dan alas kaki (2,37 persen), kesehatan (2,08 persen), penyediaan makanan dan minuman/restoran (1,97 persen), transportasi (0,61 persen), serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,07 persen).
Di sisi lain, dua kelompok mencatat deflasi, yakni perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,99 persen serta rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,10 persen.
Sejumlah komoditas yang menjadi pendorong utama inflasi antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, bawang merah, beras, telur ayam ras, hingga sepeda motor. Sementara komoditas seperti cabai merah, kentang, bensin, dan minyak goreng justru menahan laju kenaikan harga.
Secara umum, IHK Riau meningkat dari 106,42 pada Februari 2025 menjadi 112,06 pada Februari 2026. Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang inflasi terbesar secara tahunan dengan andil 1,89 persen.
BPS menilai perkembangan harga pada Februari menunjukkan tekanan inflasi masih cukup kuat, terutama dari sektor kebutuhan dasar dan jasa. (*)

