Tikam18 liang, perampok & pembunuh sadis di Rohul ditembak, ini modusnya..

Tikam18 liang, perampok & pembunuh sadis di Rohul ditembak, ini modusnya..

ilustrasi/net

Beritariau.com, Pekanbaru - ‎2 dari 3 orang perampok dan pembunuh sadis yang beraksi di Simpang Surau Munai, Sei Siyih Pekan Tebih, Kecamatan Kepenuhan Hulu, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) yang menewaskan Yefiaro Nduru (35 tahun), berdomisili di Perkebunan Akasia Cerenti PT RAPP di Teluk Kuantan, ‎pada 16 Februari 2016 lalu, akhirnya ditangkap.

‎Kedua pelaku yang ditangkap yakni Frans Gulo (19 tahun) dan Fatinudi Hallawa ‎(30 tahun), nekat menghabisi secara sadis Yefiaro, warga asal Desa Tugo'owo Kecamatan Hilimegai Kabupaten Nias Selatan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ini. Lantaran melawan, 1 orang ditembak dibagian kaki.‎ Sedangkan, pelaku lainnya yaitu Patasia Lembu, kini dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kepolisian.

‎‎"Kita tangkap Senin (29/2/2016) pagi tadi di persembunyiannya, kawasan Kepenuhan Rohul," sebut Kapolres Rohul, AKBP Pitoyo Agung Yuwono, didampingi Kabid Humas, AKBP Guntur Aryo Tejo, di Pekanbaru.‎

Selain mengamankan pelaku, Satuan Reserse Kriminal Polres Rohul juga menyita barang bukti sebilah pisau yang diduga digunakan menghabisi korban serta handphone.‎

"Kita belum tahu sudah berapa kali mereka melakukan aksi perampokan serupa," lanjut Kapolres saat ekspose di Mapolda Riau.

Perampokan sekaligus pembunuhan ini bermula pada Selasa 9 Februari lalu. Saat itu, melalui seluler, pelaku Patasia Lembu menghubungi korban, Yefiaro, menawarkan sebanyak 17 orang untuk dipekerjakan di Cerenti PT RAPP Teluk Kuantan.

"Modusnya tiga pelaku menawarkan pekerja kebun, makanya korban datang ke Rohul (dari Pelalawan, red), mereka berkomunikasi via HP dan tak saling kenal," urai Pitoyo.‎

Lalu, pada Senin 15 Februari sekitar pukul 20.00 wib, Patasia kembali menghubungi Yefiaro agar datang menjemput para pekerja itu di Simpang Kumu Kecamatan Rambah Hilir, Rohul dan membawa uang sebanyak Rp10 juta untuk melunasi hutang para pekerja.

Alhasil, keesokan harinya, Selasa 16 Februari sekitar pukul 22.00 wib, Patasia bersama Fatinudi dan Frans berangkat ke Simpang Kumu menggunakan 2 unit Sepeda Motor. Saat bertemu, Yefiaro pun dibonceng oleh Frans. Sedangkan Patasia berboncengan dengan Fatinudi.

Saat dalam perjalanan menuju PT PISP, Patasia dan Fatinudi, melaju mendahului Frans dan Yefiaro dan kemudian berhenti di Simpang Surau Munai. Mereka pura-pura mengaku bahwa rantai sepeda motornya rusak. Akhirnya, Frans dan Yefiaro pun ikut berhenti.

Saat Yefiaro turun dari sepeda motor itulah, Ia langsung ditikam dengan pisau secara bergantian di bagian dada dan punggung.‎‎

"Jadi korban ditikam 18 kali, 10 tikaman di depan dan delapan tikaman di punggung. Setelahnya mereka membawa kabur uang Rp5 juta dari saku Yefiaro," terang Pitoyo.

"Saat itu korban membawa uang Rp10 juta. Rp5 juta disimpan di saku (dicuri, red) dan Rp4,5 juta disimpan dalam kaos kaki (tak dicuri, red).‎ Sedangkan Rp500 ribu, digunakan untuk ongkos dari Pelalawan ke Rohul. Jadi tak semua uangnya dicuri," beber Pitoyo.

Lalu, para pelaku kabur dan meninggalkan Yefiaro bersimbah darah. ‎

Sebelumnya, Jumat (19/02/16) sore sekitar pukul 15.00 wib, warga digegerkan dengan temuan mayat pria yang sudah membusuk dalam posisi tertelungkup, yang belakangan diketahui bernama Yefiaro.

Lalu 10 hari pasca kejadian, aparat akhirnya meringkus dua pelaku, sedangkan satu orang lagi masih buron. [red]‎