Kak Seto Sebut Kasus Dugaan Bullying Di SMP N 38 Pekanbaru Terkesan Ditutupi

Penulis : admin | Rabu, 13 November 2019 - 16:41 WIB

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Dr Seto Mulyadi, S.Psi M.Si

Beritariau.com Pekanbaru - Kasus dugaan perundungan atau bullying di SMP Negeri 38 Kota Pekanbaru disinyalir dan terkesan disembunyikan sehingga kasus ini puncaknya mencuat dan viral di Media Sosial (Medsos).

Hal itu disampaikan oleh Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, kepada beritariau.com, usai menggelar pertemuan di ruang Mapolda Riau, Rabu (13/11/19).

Menurut pencipta karakter Si Komo yang terkenal di awal tahun 80-an ini, pihak yang bertanggungjawab dalam kasus dugaan perundungan tersebut adalah guru yang mengajar serta Kepala Sekolah (Kepsek) sebagai pimpinan di sekolah tersebut.

"Guru di kelas yang tahu saat peristiwa itu, asyik bermain handphone dan tidak memberikan tindakan tegas. Dan saya lihat malah ada suara-suara yang cenderung ditutup-tutupi dan tidak diungkapkan," kata Kak Seto.

Apalagi kata Kak Seto, kejadian ini berlangsung saat jam belajar mengajar di dalam kelas. Bahkan kejadian dugaan bullying ini, sudah berlangsung sekitar 5 bulan lamanya serta terkesan adanya pembiaran.

"Tidak hanya anak ini (MFA,red) yang mengalami, tapi beberapa korban yang lain juga. Orang tua terkesan takut untuk mengadu dan melapor. Jangan ada intimidasi terhadap korban maupun keluarga dan korban sehingga semua bisa terungkap," pinta Psikolog yang pernah populer di tayangan acara televisi Aneka Ria Taman Kanak-kanak tersebut.

Dia meminta kejadian dugaan kekerasan terhadap anak di sekolah tidak terjadi lagi di Kota Pekanbaru. Harapan Kak Seto yakni, bagaimana menyelesaikan kasus besar ini dan tidak terulang lagi di kemudian hari.

"Mohon ciptakan Kota Pekanbaru yang layak anak, dan tidak ada kekerasan lagi terhadap anak baik dirumah maupun di sekolah," pintanya.

Diketahui, kasus penganiayaan yang dialami oleh korban berinisial MFA (14) siswa kelas VIII SMP Negeri 38 Pekanbaru, terjadi pada Selasa (05/11/19). Penganiayaan diduga dilakukan oleh tiga orang teman korban.

Akibat dugaan penganiyaan tersebut, korban mengalami patah tulang hidung dan harus dirawat intensif di rumah sakit. Selain lima saksi, penyidik Satreskrim Polresta Pekanbaru memanggil sejumlah saksi lain.

Hasil pemeriksaan sementara, terungkap bahwa kasus dugaan penganiayaan dialami oleh korban dilakukan secara brutal. Peristiwa terjadi saat jam belajar, dan ada guru di dalam kelas. Parahnya, meskipun ada guru, kejadian (bullying,red) tetap berlangsung. 

Sebelumnya diberitakan, kasus dugaan bullying yang terjadi di SMP N 38 Pekanbaru ini, diceritakan oleh orang tua korban, dr Rosilawati. Dokter yang dipanggil lala ini menceritakan kisah tragis yang menimpa anak ketiganya tersebut MFA, yang diduga diperlakukan tidak manusiawi oleh ketiga rekannya yakni MR, RY dan CL. 

Adegan dilakukan secara bergantian dan ada jeda dalam pemukulan tersebut. Ibu korban bahkan mengungkapkan sempat dihubungi oleh anaknya usai kejadian minta dijemput karena sakit. 

Lala saat itu menceritakan bahwa dirinya sedang lagi ramai pasien. Karena kesibukan itu, paman korban menjemput keponakan ke sekolah. Dari sana diketahui anaknya mengalami patah hidung dan harus mendapat penanganan medis di Rumah Sakit.

Dari keterangan anaknya tersebut, dia mendapat perlakukan tidak senonoh saat berlangsung jam belajar mengajar mata pelajaran Seni Budaya (SBY). Guru pada saat itu ada di depan kelas. 

Dari keterangan ibu korban diketahui juga bahwa sebelum mengalami patah hidung, anaknya dipukul menggunakan kayu dan ditinju di bagian lengan. Bahkan, anaknya sering di palak setiap hari.

Kejadian ini viral di media sosial. Terjadi pada hari Selasa (05/11/19). Pada hari itu langsung dilakukan tindakan operasi sampai hari Rabu (06/11/19). [bam]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :