Desau Desa Dekat Desau Kota Jauh

Penulis: Rahmat Ali
Desain Sampul: Abiel
Penata Letak: Abiel
Penerbit: Salmah Publishing
Harga: -
ISBN: -
Tujuh belas tahun adalah usia peralihan—bukan lagi kanak-kanak, belum sepenuhnya dewasa. Ia datang membawa pertanyaan, kegelisahan, dan pencarian. Untuk mencapainya, jalanku tidak selalu lapang. Ada hambatan yang terasa berat, ada pula yang nyaris luput dari perhatian namun diam-diam membentuk watak. Meski demikian, aku bersyukur. Di tengah keterbatasan dan perubahan, kasih sayang Tuhan Yang Maha Agung masih mengalirkan kesehatan, kesempatan, dan waktu untuk terus belajar mengenali hidup.
Tahun-tahun yang terlewati tidak benar-benar pergi. Ia menetap sebagai ingatan—kadang muncul sebagai kilas balik yang lembut, kadang sebagai gema yang tiba-tiba menghantam batin. Dari sanalah kesadaran ini tumbuh: bahwa hidup bukan hanya soal bergerak maju, melainkan juga tentang menoleh, mengingat, dan berdamai dengan apa yang pernah ada.
Aku lahir di bawah zodiak kepiting—makhluk amfibi yang mampu bertahan di dua alam: darat dan air. Barangkali lambang itu tidak sekadar penanda tanggal, melainkan metafora perjalanan. Hidupku memang bergerak di antara dua ruang. Darat adalah tanah air, dusun, dan desa—tempat langkah pertama diletakkan, tempat bahasa ibu dilafalkan dengan sederhana, tempat hidup terasa dekat dan manusia saling mengenal. Air adalah sungai dan laut—simbol perjalanan, peralihan, dan keberangkatan; jalur yang menghubungkanku dengan dunia lain, dengan pendidikan, dengan cita-cita, hingga akhirnya menuntunku ke bangku universitas.
Desa dan kota adalah dua wajah kehidupan yang saling berhadapan, namun tak bisa dipisahkan. Desa memberiku akar. Ia menyimpan memori paling jujur: kebersamaan kawan masa kanak-kanak, lumpur di telapak kaki, aroma tanah selepas hujan, dan cerita-cerita kecil yang tak pernah dicatat sejarah. Aku ingat sebuah peristiwa sederhana namun membekas—ketika jembatan bambu di desa runtuh diterjang banjir. Tak ada amarah, tak ada keluhan panjang. Yang ada hanyalah warga yang datang membawa alat seadanya, bekerja bersama, saling menyemangati, membangun kembali dengan tangan dan harapan. Dari sana, aku belajar tentang gotong royong, tentang arti pulang, dan tentang makna menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Namun waktu tidak pernah benar-benar menetap. Aku hanya beberapa tahun tinggal di desa. Setelah itu, langkahku berbelok menuju kota—ruang yang asing, cepat, dan penuh perhitungan. Kota memperkenalkanku pada dunia yang bergerak tanpa henti: deru kendaraan, hiruk-pikuk manusia, serta persaingan yang sering kali mengikis keheningan. Di kota, segala sesuatu seolah memiliki harga—waktu, tenaga, bahkan perhatian. Aku belajar berhati-hati, belajar membaca wajah, belajar berdiri sendiri di tengah keramaian.
Perjalanan belum berhenti. Tugas dan keadaan membawaku ke kota yang lebih besar lagi. Di sana, aku kian merasakan jarak—bukan hanya jarak geografis, tetapi juga jarak batin. Keramaian tidak selalu berarti kebersamaan. Gedung-gedung tinggi dapat berdiri berdampingan dengan kesunyian yang dalam. Dari satu kota ke kota lain, aku menyerap perbedaan ritme hidup, cara manusia memaknai waktu, serta bagaimana kenangan desa kerap datang sebagai penawar rindu.
Dari perjumpaan antara desa dan kota, antara dekat dan jauh, antara ingatan dan kenyataan, sajak-sajak dalam buku ini lahir. Ia bukan sekadar rangkaian kata, melainkan catatan batin seorang yang berpindah, yang belajar memahami diri melalui perubahan ruang. Sajak-sajak ini mencoba merawat ingatan desa tanpa menafikan kenyataan kota; mencoba berdamai dengan jarak, tanpa kehilangan akar.
Kumpulan sajak ini kususun dengan kesadaran bahwa ia jauh dari sempurna. Namun dengan segala keterbatasan itu, aku menaruh kejujuran sebagai landasan. Aku membuka diri atas kritik, saran, dan tafsir—sebab sastra, bagiku, adalah dialog: antara penulis dan pembaca, antara pengalaman pribadi dan makna yang lebih luas.
Kepada mereka yang pernah tumbuh di desa dan merantau ke kota,
kepada mereka yang menyimpan rindu pada rumah yang kian jauh,
dan kepada siapa pun yang sedang mencari diri di antara perpindahan,
TERSEDOT
Kekuatan itu
tak terbayangkan betapa dahsyatnya
Ia datang perlahan seolah menimbang waktu
hingga potensi yang selama ini
kokoh mencengkeram bumi
tak lagi mampu bertahan
akar-akar pun tercabut
yang semula tumbuh
melorot indah melunjur
sejauh pandangan kedua mata
kini tersedot buyar, putus, berserak dan terbakar
Segalanya hanyut menjadi keping-keping lembut
Berpartikel lebih halus dari atom
lebih sunyi dari sub atom
Tak lagi ada gedung atau infrastruktur
tak pula flora dan fauna termasuk insan
yang pernah menamai dunia
Inilah ujung dari segala ujung
Tak ada kelahiran setelahnya
Tak pula makna yang perlu dirundingkan
Semua selesai
bahkan sebelum sempat dipikirkan
Jakarta, 12 November 2016

