Sita 120 Rakit Kayu dan Alat Tebang

Polda Buru Kaki Tangan Anak Jenderal

Kapolda dan rombongan saat menyisir lokasi Illog.

Beritariau.com, Pekanbaru - Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setia Imam Efendi SH SIK MSi dan jajaran langsung turun ke lokasi pengungkapan Illog di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis. Selain berhasil menangkap Selain menggulung Mat Ari alias Anak Jenderal, tim juga menangkap HM alias Heri Muliyono, yang merupakan kaki tangannya, pada Rabu (17/11/2021).

Saat ini keduanya sedang diproses oleh Direktorat Reskrimsus Polda Riau atas keterlibatannya melakukan illegal logging dalam kawasan hutan di Cagar Biosfer tersebut.

Kapolda didampingi Direktur Reskrimsus, Dansat Brimob dan Kabid Humas, menyisir masuk hingga ke jantung hutan lindung Cagar Biosfer Giam Siak Kecil (GSK), yang merupakan lokasi illegal logging.

Dengan tegas, Agung mengatakan, pihaknya akan memburu mereka yang terlibat illegal logging di Cagar Biosfer GSK.

“Mat Ari alias Anak Jenderal dan Heri Muliyono ini terkenal licik. Keduanya diduga sebagai dalang dalam kasus tersebut,” ungkap Kapolda.

Kapolda menegaskan, pihaknya masih akan terus mengejar kaki tangan dari kelompok anak Mat Ari alias Anak Jenderal ini.

Dari hasil pendalaman, Mat Ari alias Anak Jenderal, lanjut Kapolda, diketahui sebagai cukong dan pemodal di balik aktivitas ilegal tersebut.

“Hari ini, Jenderal beneran yang datang ke sini untuk menangkap kelompok Mat Ari alias anak jenderal. Tentunya kita akan dalami lagi,” tegas Agung.

Otak pelaku kata Kapolda, memodali Rp3 juta untuk para pekerja berangkat menebang pohon di dalam hutan lindung yang sudah tumbuh puluhan tahun. Setelahnya, sebagian langsung diolah di dalam hutan dan beberapa lainnya masih dalam bentuk gelondongan atau log.

Setelah ditebangi, para pelaku membawa kayu-kayu ke tepian tasik (danau musiman) dengan diikat seperti rakit lalu ditarik menggunakan sampan bermotor untuk dibawa ke daratan.

“Hasilnya kami sita sedikitnya 42 rakit kayu olahan dan 78 rakit kayu log. Berikut mesin chainsaw, genset kecil dan mobil cold diesel untuk mengangkut kayu saat sudah di daratan,” lanjut Kapolda.

Dikomandoi Kapolda Riau, rombongan masuk ke dalam lokasi hutan, dan berhasil menemukan pondok sementara yang dijadikan tempat menginap kelompok Anak Jenderal.

Hasil pengecekan di dalam pondok yang berada di tengah hutan, tim gabungan mendapati bungkusan bekas mie instan, tungku memasak, lentera/lampu minyak untuk penerangan saat malam hari, serta komponen alat chainsaw.

“Kita temukan juga banyak sabun batangan. Ini dipakai mereka untuk melicinkan rel kayu agar mudah membawa kayu yang mereka tebang hingga ke tepian danau,” kata Irjen Agung.

Tim juga mendapati jalur mengeluarkan kayu mirip serupa rel, namun bermaterial kayu. Fungsi rel tersebut, pohon yang mereka tebang dan olah bisa dengan mudah dibawa menuju tepian tasik.

“Caranya kayu-kayu ini dibawa melewati rel menggunakan sepeda bermesin yang dimofikasi. Dengan panjang rel mencapai sekitar satu kilometer, dari tepian tasik hingga ke dalam hutan,” jelas Kapolda.

Menelusuri lebih dalam, Kapolda dan rombongan yang berjalan kaki menyisir rel kayu dengan dibagian kanan dan kiri masih hutan belantara. Saat ditengah perjalanan kembali ditemukan beberapa pohon yang sudah ditebang dan sisa ampas hasil olahan.

“Ada yang masih baru ditebang, yang kemungkinan ditinggalkan para pekerja ketika mengetahui kedatangan polisi,” ujar Kapolda.

Operasi ini, kata Kapolda, karena kawasan biosfer ini merupakan penyangga, ekosistem di sini harus dijaga.

“Kita sedih mendapati banyak pohon yang besar yang berusia puluhan tahun jadi sasaran mereka. Sebab itu, penindakan tidak boleh berhenti sampai di sini saja. Penegakkan hukum harus terus berjalan. Ini juga pekerjaan rumah (PR) kita untuk tempat lainnya," tegasnya.***