Kepsek SMP N 38 Pekanbaru Sebut Siswanya 50 persen dari Keluarga Broken Home & Anak Pungut

Penulis : admin | Senin, 11 November 2019 - 19:19 WIB

KUNLAP - Ketua Fraksi DPRD Provinsi Riau dari Partai Demokrat, Agung Nugroho dan Wakil Ketua DPRD Kota Pekanbaru dari Fraksi Demokrat, Tengku Azwendi Fajri serta Sekretaris Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Jepta Sitohang, dan Dinas Perlindungan Perempuan & Anak (DPPA) Provinsi Riau, berkunjung ke sekolah, Senin (11/11/19) | Beritariau.com2019

Beritariau.com Pekanbaru - Kepala Sekolah (Kasek) SMP Negeri 38, Rejosari, Tenayan Raya, Rima Pepitra, mengatakan jika kasus dugaan bullying yang terjadi di sekolah yang dia pimpin adalah salah satu bentuk kelalaian.

Hal itu dia ungkapkan saat Ketua Fraksi DPRD Provinsi Riau dari Partai Demokrat, Agung Nugroho dan Wakil Ketua DPRD Kota Pekanbaru dari Fraksi Demokrat, Tengku Azwendi Fajri serta Sekretaris Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Jepta Sitohang, dan Dinas Perlindungan Perempuan & Anak (DPPA) Provinsi Riau, berkunjung ke sekolah, Senin (11/11/19).

"Memang kita akui anak-anak kita disini memang agak lebih aktif. Hampir 50 persen rata-rata anak yang sekolah di SMP Negeri 38 Pekanbaru ini berasal dari anak yang rumah tangganya kacau balau (Broken Home,red) Dan memang ada anak yang dipungut dan dipelihara sama masyarakat," Kata Rima, dalam pengakuannya.

Bahkan saat DPPA mempertanyakan apa siswa siswi yang masuk kesekolah sudah memiliki akte kelahiran, Rima mengakui tidak ada. Dan bahkan anak yang dipanggil katanya berstatus yatim piatu.

"Awal yang datang om-nya, tante-nya lalu bapak-nya. Ya bapak, ya bapak kita bawak saja dulu ke rumah sakit sampai kondisi di rumah sakit kondisinya sehat," ucap Rima.

Diceritakannya, sejak awal kasus dugaan kekerasan ini mulai viral di media sosial pada Rabu (06/11/19) malam. Bahkan sejak kasus dugaan bullying ini terungkap, pihaknya berupaya mempertemukan dan menyelesaikannya secara kekeluargaan.

"Kita tak pernah lepaskan kasus ini sejak diviralkan itu. Padahal kondisinya tidak demikian (yang di viralkan,red). Kita memang mencoba komunikasi antara orang tua dan anak, kami dan orang tua. termasuk anak kita yang terjadi sekarang ini," terangnya.

Rima menjelaskan, dari pengakuan orang tua pelaku (MR) diakuiny anaknya memang agak pasif. Sementara korban (MFA,red) orangnya sangat tertutup dan susah diajak berkomunikasi.

"Dia (MFA,red) susah diajak bicara. Harus pandai kita mencongkelnya. Termasuk maknya sendiri. Kalau dilihat anaknya itu berbicara model-model nge-blank nggak sama dengan yang diucapkannya," cetus Rima.

Kasus ini katanya meledak karena diviralkan oleh tante korban (MFA,red). Di sekolah katanya, MFA ini tidak pernah melapor apa yang pernah dialaminya.

"Jadi kalau 5 bulan terjadi pembiaran itu tidak benar. Berita yang viral ini karena kemajuan teknologi, jadi ada dampak negatifnya. Saya yakin masyarakat tidak bodoh dan cerdas. Tak mungkin membiarkan. Kalau memang nampak tapi membiarkan itu guru gila namanya," terangnya.

Kasus ini juga kata Rima, membuat pihaknya shock. Apalagi dirinya dan Ibu Fatarina (guru mata pelajaran Seni Budaya) tidak pernah berurusan dengan kepolisian. Bahkan Rima kata, dia terus mengawal apa yang dialami anak muridnya sampai mendatangi rumah sakit.

"Disana (rumah sakit,red) kita ketemu dengan bapak polisi. Tapi dia baik santun. Itulah dia menemui orang tua MFA. Disana kami diminta keterangan dan dibawa ke kantor untuk informasi. Sampai saya bilang, boleh disini saja, ooo tidak bisa. Sepertinya saya penjahatnya sama ibuk Fatarina. Itulah buat kami shock. Guru kami punya riwayat penyakit jantung, takutnya dia jantungan," tutupnya. 

Sebagaimana diberitakan, kasus dugaan bullying yang terjadi di SMP N 38 Pekanbaru ini, diceritakan oleh orang tua korban, dr Rosilawati. Dokter yang dipanggil lala ini menceritakan kisah tragis yang menimpa anak ketiganya tersebut MFA, yang diduga diperlakukan tidak manusiawi oleh ketiga rekannya yakni MR, RY dan CL. 

Adegan dilakukan secara bergantian dan ada jeda dalam pemukulan tersebut. Ibu korban bahkan mengungkapkan sempat dihubungi oleh anaknya usai kejadian minta dijemput karena sakit. 

Lala saat itu menceritakan bahwa dirinya sedang lagi ramai pasien. Karena kesibukan itu, paman korban menjemput keponakan ke sekolah. Dari sana diketahui anaknya mengalami patah hidung dan harus mendapat penanganan medis di Rumah Sakit.

Dari keterangan anaknya tersebut, dia mendapat perlakukan tidak senonoh saat berlangsung jam belajar mengajar mata pelajaran Seni Budaya (SBY). Guru pada saat itu ada di depan kelas. 

Dari keterangan ibu korban diketahui juga bahwa sebelum mengalami patah hidung, anaknya dipukul menggunakan kayu dan ditinju di bagian lengan. Bahkan, anaknya sering di palak setiap hari.

Kejadian ini viral di media sosial. Terjadi pada hari Selasa (05/11/19). Pada hari itu langsung dilakukan tindakan operasi sampai hari Rabu (06/11/19). Kamis (07/11/19) dr Rosilawati resmi melaporkan kasus kekerasan ini ke Polresta Pekanbaru. Kasus ini kini tengah dalam penyidikan kepolisian. [bam]

 

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :