Kunlap Komisi III DPRD

Siswa SMP N 38 Pekanbaru Yang Diduga Hajar MFA Punya Keterbelakangan Mental Saat Kecil

Penulis : admin | Senin, 11 November 2019 - 16:45 WIB

KUNLAP - Rombongan Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, melakukan kunjungan lapangan di SMP N 38 Pekanbaru, yang beralamat di Jalan Tuah Sekata, Kelurahan Rejosari Kecamatan Tenayan Raya Pekanbaru. Kunlap dilakukan terkait adanya dugaan bullying antar siswa hingga berujung laporan ke Polisi | Beritariau.com2019

Beritariau.com Pekanbaru - Alvin, Wali Kelas dari MR siswa SMP N 38 Pekanbaru yang diduga melakukan bullying terhadap korban MFA, mengaku bahwa anak muridnya MR  memiliki keterbelakangan mental sejak kecil.

Pengakuan itu dia sebutkan saat Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, mengunjungi SMP N 38 Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, Senin (11/11/19).

Diakuinya di hadapan Komisi III, MR memang berbeda dengan anak lainnya. Bahkan, dengan kondisi latar belakang psikologis tersebut tenaga pendidik sering memantau aktivitas anak didiknya itu.

"Kita dapat informasi MR ini dia punya riwayat penyakit step. Bahkan di umur 6 tahun baru bisa bicara. Makanya umur 16 tahun ini dia masih SMP harusnya sudah SMA kelas 2 atau kelas 3," Kata Alvin, saat berbicara di depan Komisi III

Pengakuan Alvin lagi, karena kelakuan dan punya riwayat penyakit tersebut apa yang dilakukannya diluar batas kewajaran termasuk dalam hal bercanda terhadap teman-temannya. 

"Sebenarnya anaknya (MR dan MFA,red) sama-sama pendiam buk tak banyak bicara. Kadang kita tanya apa, jawabannya tidak sesuai dan berbeda dengan yang kita tanya," jelas Alvin.

Bahkan MR ini katanya, pernah mencalonkan diri sebagai Ketua OSIS di SMP N 38. Meskipun mempunyai sistem penilaian terhadap demokrasi tersebut, namun ada kriteria yang dirasa tidak memenuhi kualifikasi.

"Kondisi membaca MR ini saja agak tersendat-sendat. Beda dengan anak yang lain. Emosinya pun kurang terkontrol. Kalau hiperaktif tidak. Psikologis nya berbeda pak," paparnya lagi.

Sebagaimana diketahui, kejadian dugaan bullying tragis yang menimpa MFA (14) ini terjadi saat jam belajar mengajar berlangsung, Selasa (05/11/19). 

Saat itu guru mata pelajaran, Seni Budaya (SBY), Fatarina, melakukan jam belajar di dalam kelas. Terjadi kegaduhan di dalam kelas hingga menyebabkan MFA mengalami kesakitan pada hidungnya dan mengalami patah hidung akibat diduga dianiaya temannya MR.

Di hadapan Anggota Komisi III DPRD Pekanbaru, Fatarina mengaku bahwa anak didiknya MR memang terkenal memiliki kepribadian nakal. Meskipun begitu, dia selalu mempunyai siasat untuk mengatasi hal tersebut saat jam belajar mengajar.

"Memang anak-anak setiap hari mau belajar selalu saya kasih latihan. MR setiap belajar selalu tak pernah bawa buku latihannya. Pernah saya tanya MR mana buku latihanmu, saya tidak bawak buk, kalau kamu tidak bawak kamu duduk saja jangan mengganggu temanmu," ucap Fatarina.

Namun karena memiliki kepribadian yang kurang baik, MR malah semakin menjadi dan membuat keonaran di dalam kelas dan mengganggu teman-temannya.

"Saya benar-benar tidak tahu bagaimana saat kejadian (kekerasan,red) itu. Jam belajar mengajar habis saya pindah kelas lain. Memang anak-anak tak ada melapor sama saya kalau ada kejadian itu (kekerasan,red). MR itu posisi duduknya di depan," terang Fatarina.

Terhadap hal itu, Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Yasser Hamidy mengatakan bahwa masalah yang terjadi di dalam sekolah SMP N 38 ini tentunya segera ditindaklanjuti dan disikapi.

"Harapan kita bagaimana memperhatikan kondisi anak dari si korban ini. Jangan dilepas gitu saja," pinta Yasser, dihadapan guru.

Anggota Komisi III DPRD Kota Pekanbaru lainnya, Irman Sasrianto dalam menangkap cerita yang terjadi tersebut mengatakan bahwa apa yang terjadi di dalam kelas saat kasus dugaan kekerasan berlangsung sangat ribut dan tidak terkendali.

"Dari keterangan yang saya tangkap dari ibuk itu saya melihat begitu gaduhnya suasana dalam kelas itu. Sampai ibu guru yang mengajar tidak bisa membedakan pemukulan sesama mereka. Padahal satu ruangan tidak begitu luas sebenarnya, tapi kalau kondisi proses belajar mengajar itu tenang, pensil jatuh saja kita pasti tahu. Saya melihat korban ini dipukul tapi korban dalam kondisi tidak membalas," ungkap Politisi PAN ini.

Kunlap yang dilakukan Komisi III DPRD Kota Pekanbaru ini, diketuai oleh Yasser Hamidy, serta didampingi Sekretaris Jepta Sitohang, Anggota, H Ervan, Irman Sasrianto, Suherman dan Kartini. Turut hadir pula Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Pekanbaru Abdul Jamal mendampingi Kepsek SMP N 38, Rima Pepitra. [bam]

 

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :