Dikunjungi DPR & DPRD Partai Demokrat

Sering Di Bullying Di SMPN 38 Pekanbaru, Ibu Korban Sebut Sempat Anak Niat Tak Mau Sekolah

Penulis : admin | Minggu, 10 November 2019 - 15:16 WIB

KUNJUNGI KORBAN - Rombongan Anggota DPR RI, DPRD Provinsi Riau dan DPRD Kota Pekanbaru, mengunjungi rumah korban Bullying, MFA (14) di Jalan Bambu Kuning, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Minggu (10/11/19) pagi | Beritariau.com2019

Beritariau.com Pekanbaru - Rombongan Anggota DPR RI, DPRD Provinsi Riau dan DPRD Kota Pekanbaru, mengunjungi rumah korban Bullying, MFA (14) di Jalan Bambu Kuning, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Minggu (10/11/19) pagi. 

Kunjungan dipimpin oleh Anggota DPR RI Achmad dan Muhammad Nasir, Ketua Fraksi Demokrat DPRD Riau Agung Nugroho, Wakil Ketua DPRD Kota Pekanbaru, Tengku Azwendi Fajri SE dan Anggota Komisi III DPRD Kota Pekanbaru Jepta Sitohang serta Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (DPPPA) Provinsi Riau.

Di depan para wakil rakyat tersebut, orang tua korban Bullying, dr Rosilawati menceritakan kisah tragis yang menimpa anak ketiganya tersebut. 

Dari pengakuan anaknya kata dokter yang biasa dipanggi Lala itu, pemukulan dilakukan oleh 3 orang oknum siswa SMP N 38 Rejosari (MR, RY dan CL). Adegan dilakukan secara bergantian dan ada jeda dalam pemukulan tersebut.

Ibu korban sempat dihubungi oleh anaknya usai kejadian minta dijemput karena sakit. Lala saat itu menceritakan bahwa dirinya sedang lagi ramai pasien. Karena kesibukan itu, paman korban menjemput keponakan ke sekolah. Dari sana diketahui anaknya mengalami patah hidung dan harus mendapat penanganan medis.

"Saya langsung hubungi suami saya untuk melihat kondisi anak saya itu. Saya baru tahu dari suami kalau anak saya dilarikan ke RS Awal Bros Pekanbaru dan dilakukan tindakan operasi, kalau dilakukan operasi berarti emergency. Saya langsung ke Rumah Sakit," ucap Lala.

Lala menggali keterangan dari anaknya tersebut. Awalnya anaknya mengakui kalau dirinya jatuh. Setelah digali keterangan lebih jauh dia baru tahu kalau anaknya ini mengalami tindakan tidak manusiawi oleh teman satu kelasnya.

"Saya tanya sama anak saya ternyata dia dipukul saat berlangsung pelajaran Seni Budaya (SBY). Gurunya ada di depan kelas. Proses belajar berlanjut. Dipukul pakai kayu, ditinju di bagian lengan, terakhir pakai dua tangan di jedot dekat meja. Tahunya patah hidung setelah dia berlari ke dalam WC," terang Lala.

Aksi keji yang dilakukan oleh 3 orang temannya itu katanya sudah acapkali terjadi. Bukan hanya sekali, selama 5 bulan MFA belajar mengajar bahkan anaknya sering di palak setiap hari.

"Terus terang saya salah, anak saya sempat berontak katanya abang tidak mau sekolah situ. Ternyata karena ini (Bullying,red) anak saya komplain. Saya tidak tahu kejadian seperti ini. Anak saya sempat niat tak mau sekolah lagi katanya. Rupanya karena perlakuan teman-temannya itu," cetusnya.

Kejadian ini kata Lala, terjadi pada hari Selasa (05/11/19). Pada hari itu langsung dilakukan tindakan operasi sampai hari Rabu (06/11/19). Kamis (07/11/19) dr Rosilawati resmi melaporkan kasus ini ke Polresta Pekanbaru. 

"Anak saya sempat dikunjungi guru-gurunya di Rumah Sakit. Kejadian ini viral di Medsos. Di Viralkan tantenya Rani Chambas. Kepada saya gurunya mengaku tidak tahu atas kejadian ini dan meminta maaf. Sebagai manusia saya maafkan tapi proses hukum tetap berjalan," tegasnya.

Demokrat Kawal Kasus Bullying

Anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat, Achmad, yang datang ke rumah korban Bullying memberikan support atas kejadian tragis yang menimpa dunia Pendidikan di Kota Pekanbaru ini. Dari parlemen RI dirinya langsung tinjau lokasi begitu kasus ini viral di medsos.

"Sama-sama kita ketahui, memang benar anak ini di bully oleh teman-temannya. Kita harapkan kejadian ini tidak terulang lagi," Kata Achmad, kepada wartawan usai kunjungi lokasi.

Menurut Achmad, kasus bullying ini terjadi karena lemahnya pengawasan dari tenaga pengajar yang ada di sekolah Pekanbaru. Harusnya, anak yang mempunyai kepribadian kasar diawasi secara khusus sehingga tidak mengorbankan anak lainnya.

"Kita minta kepada tenaga pengajar ada kepedulian sosialnya. Tenaga pendidik perhatikan anak kita keselamatannya, keamanannya, selama disekolah. karena orang tua titipkan anak untuk dididik bukan diajar saja," pintanya.

Achmad berharap kasus ini tidak hanya selesai begitu saja. Ada  tindaklanjut dan proses yang diambil sehingga ini menjadi pelajaran kedepan. 

"Kita tahu orang tua korban minta anaknya dipindahkan. Mudah-mudahan Fraksi DPRD Kota Pekanbaru membantu. Karena ini kasus anak kita minta dilakukan pengusutan," pintanya.

Sementara itu, Ketua Fraksi Demokrat DPRD Riau, Agung Nugroho, mengungkapkan, dari cerita yang ditangkap hasil kunjungan di lapangan ini tidak hanya  semata-mata kenakalan anak di dalam kelas. Kejadian ini mungkin dialami di sekolah lainnya.

"Disini kita lihat ada kurangnya pengawasan dari guru. Kita tentu menyalahkan dinas pendidikan Kota Pekanbaru. Jika memang benar hal itu kita pastikan Disdik Kota Pekanbaru gagal," tegasnya.

Senada juga diungkapkan Wakil Ketua DPRD Kota Pekanbaru, Tengku Azwendi Fajri. Dia berharap dengan adanya pemberlakukan zonasi tidak ada lagi sekolah yang high class. Sekolah yang merasa kualitas sekolahnya hebat. 

"Anak-anak yang tidak nyaman lingkungannya akan menghadapi hal seperti kasus inilah, ada dampak sosial. Lingkungan sosial tidak baik sehingga berdampak terhadap anak itu sendiri," pungkasnya. 

Kasus Bullying yang terjadi di SMP N 38 ini rencananya akan dibawa dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi III DPRD Kota Pekanbaru. Selain korban dan orang tua korban serta pelaku, Disdik Pekanbaru dan guru-guru akan diundang dalam RDP itu untuk dicari tahu masalahnya terutama sistem manajemen pengawasan sekolah. [bam]

 

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :