Riau Darurat Asap, Kampus UNRI Kembali Liburkan Mahasiswa Selama Sepekan

Penulis : admin | Senin, 23 September 2019 - 15:58 WIB

SURAT RESMI LIBUR - Universitas Riau (UNRI) kembali meliburkan mahasiswa nya setelah dampak kabut asap berada di level Berbahaya berdasarkan papan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau | Istimewa

Beritariau.com Pekanbaru - Universitas Riau (UNRI) kembali meliburkan mahasiswa nya setelah dampak kabut asap berada di level Berbahaya berdasarkan papan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Pemberitahuan libur tersebut dimulai hari ini, Senin (23/09/19) hingga Jum'at (27/09/19) depan. 

Pengumuman disampaikan melalui surat resmi nomor :T/6902/UN19/PK.01.03.2019 yang ditandatangani langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UNRI, Prof Muhammad Nur Mustafa, Minggu (22/09/19) yang ditembuskan melalui Kemenristek Dikti.

Ada 5 poin penting yang disampaikan melalui pihak rektorat kepada dekan di lingkungan UNRI dalam surat tersebut.

Selain poin pertama meliburkan mahasiswa selama 5 hari dan meninjau keadaan, poin kedua juga ditekankan oleh dosen yang mengajar di Universitas Negeri dibawah Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) tersebut.

"Selama perkuliahan diliburkan, maka diminta semua dosen untuk memberikan tugas mandiri kepada mahasiswa sebagai pengganti jam tatap muka perkuliahan," ucap Prof Muhammad Nur Mustafa, dalam surat pengumuman resmi yang ditulis tersebut.

Di poin ketiga, seluruh ASN dan tenaga kontrak tetap mengisi presensi dan melakukan kegiatan pelayanan administrasi perkantoran sebagaimana mestinya.

Kegiatan itu dikecualikan dan diliburkan bagi yang ASN dan tenaga kontrak yang memiliki riwayat penyakit asma, jantung, ibu hamil dan menyusui, serta Lanjut Usia (Lansia) dengan menyertakan Surat Keterangan dari Dokter.

Level berbahaya dan tidak memungkinkan, di poin ke empat, seluruh keluarga besar UNRI diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. 

"Apabila kondisi udara membaik atau normal, maka kegiatan perkuliahan akan diaktifkan kembali sebagaimana mestinya," Katanya dalam surat tersebut.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau resmi menetapkan status "darurat pencemaran udara" setelah papan ISPU menyentuh level berbahaya akibat dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Riau.

Langkah penurunan kualitas udara di wilayah Riau khususnya Kota Pekanbaru ini, diumumkan langsung oleh Gubernur Riau, Syamsuar, didampingi wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution, di Pekanbaru, dalam acara Coffee Morning bersama media, di Kantor Media Center Karhutla Jl. Gajah Mada Pekanbaru.

Penetapan darurat pencemaran udara di Riau ini berlaku Senin, (23/09/19) hingga Sabtu (28/09/19). Syamsuar mengatakan status tersebut berpotensi diperpanjang dengan catatan melihat kondisi udara di Kota Pekanbaru ke depan.

Dengan adanya penetapan itu, maka Syamsuar mengatakan pemerintah daerah akan menyiapkan posko kesehatan pengungsian korban asap. Posko itu sendiri akan tersedia di tengah masyarakat dengan menyasar anak serta ibu hamil.

Mengawali pekan terakhir di September di 2019, kualitas udara di Kota Pekanbaru semakin berbahaya. Bahkan, kualitas udara berbahaya itu sempat menyentuh angka di atas 800 µgram/m3 pada Senin dinihari.

Data itu diperoleh dari laman resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Padahal, BMKG menyatakan jika ambang batas Partikulat (PM10) yang merupakan Partikel udara berukuran lebih kecil dari 10 mikron (mikrometer) itu adalah 150 µgram/m3.

Berdasarkan citra satelit Terra dan Aqua, tercatat sedikitnya 1.591 titik panas yang mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan di sembilan provinsi di Sumatera. Jambi, yang selama ini menjadi pabrik dan penyumbang asap ke Riau tercatat 505 titik panas.

Sumatera Selatan 675 titik, Bengkulu 1, Lampung 54, Sumbar 25, Sumut 15, Kepri 15, Babel 45 dan Riau 256.

Khusus di Riau, titik panas menyebar di Rokan Hilir 73 titik, Indragiri Hilir 58, Indragiri Hulu 42, Pelalawan 29, Rokan Hulu 1, Pekanbaru 1, Bengkalis 17, Meranti 12, Kampar 7, Dumai 9 dan Kuansing 7 titik panas.

Dari 256 titik panas, BMKG memastikan 172 diantaranya sebagai titik api atau indikasi kuat terjadinya kebakaran hutan dan lahan dengan tingkat kepercayaan hingga 100 persen. Titik api tersebut menyebar di Bengkalis 13, Meranti 8, Kampar 2, Dumai 5, Kuansing 2, Pelalawan 22, Rokan Hilir 45, Rokan Hulu 1, Indragiri Hilir 40, dan Indragiri Hulu 34.

Selain berdampak dengan kualitas kesehatan, kebakaran hutan dan lahan juga berdampak dengan kualitas visual atau jarak pandang akibat tertutup asap pekat. Di Pekanbaru, kabut asap pekat menyebabkan jarak pandang berkisar 500 meter, yabg berpotensi mengganggu penerbangan. [bam/red]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :