Tangis Haru Warnai Wisuda Unilak, 10 Mahasiswa Disabilitas Berhasil Raih Gelar Sarjana

Beritariau.com, Pekanbaru -- Suasana haru menyelimuti prosesi wisuda Universitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru. Di antara ribuan wisudawan yang mengikuti prosesi akademik tersebut, terdapat 10 mahasiswa penyandang disabilitas yang berhasil menuntaskan pendidikan Strata 1 (S1) dan resmi menyandang gelar sarjana.
Keberhasilan mereka bukan sekadar pencapaian akademik. Di balik toga dan ijazah yang diterima, tersimpan perjuangan panjang, ketekunan, serta dukungan keluarga yang mengiringi perjalanan mereka menyelesaikan pendidikan tinggi.
Momen istimewa itu mendapat perhatian langsung dari Rektor Unilak, Prof Junaidi. Dalam prosesi wisuda, kesepuluh lulusan tersebut dipanggil secara khusus ke atas panggung untuk berdialog sekaligus mendapatkan apresiasi di hadapan seluruh undangan.
Junaidi mengajak seluruh hadirin memberikan tepuk tangan berdiri atau standing applause sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan para lulusan disabilitas tersebut.
"Tolong berdiri, kita berikan standing applause untuk adik-adik kita ini," ajak Junaidi, Kamis (29/10/2026).
Suasana yang semula berlangsung khidmat berubah semakin emosional ketika salah seorang orang tua wisudawan, Arifin, bersama istrinya, diberi kesempatan menyampaikan ungkapan hati di hadapan pimpinan universitas dan seluruh civitas akademika.
Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Arifin mengungkapkan rasa bangga sekaligus kebahagiaannya melihat sang anak berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana.
Ia mengaku memilih Unilak sebagai tempat anaknya menempuh pendidikan karena melihat adanya ruang dan kesempatan bagi mahasiswa penyandang disabilitas untuk memperoleh pendidikan tinggi.
"Kami melihat kampus ini beda dari universitas lain, yaitu menerima mahasiswa disabilitas," ungkap Arifin.
Menurutnya, perjalanan sang anak menyelesaikan pendidikan S1 bukanlah perkara mudah. Berbagai tantangan harus dilalui hingga akhirnya berhasil mencapai titik yang selama ini diperjuangkan.
Meski biaya pendidikan anaknya ditanggung pemerintah daerah, Arifin menyebut perjuangan tersebut tetap membutuhkan ketabahan, kesabaran, dan dukungan keluarga.
Ia pun tak mampu menyembunyikan rasa syukur atas pencapaian yang diraih sang anak.
"Tidak ada yang mau mempunyai anak dengan keterbatasan, tapi kami bahagia dan bangga. Ini adalah mukjizat yang diberikan Allah kepada kami," tuturnya.
Ungkapan tersebut sontak mengundang tepuk tangan hadirin. Sejumlah orang tua wisudawan lainnya juga terlihat meneteskan air mata, larut dalam suasana haru yang menyelimuti ruangan.
Namun, kebahagiaan keluarga Arifin rupanya tidak berhenti sampai pada keberhasilan meraih gelar sarjana. Sang anak ternyata masih menyimpan cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2) di Unilak.
Dengan penuh harap, Arifin meminta doa dan dukungan agar keinginan tersebut dapat terwujud.
"Beliau mau melanjutkan S2-nya. Mohon doa Bapak Ibu semuanya, berikan kami kekuatan, kesehatan dan kemurahan rezeki. Mudah-mudahan cita-cita beliau kami ikuti," ucapnya.
Mendengar harapan tersebut, Rektor Unilak Prof Junaidi langsung memberikan respons positif. Ia menyampaikan bahwa universitas akan membuka jalur khusus sekaligus memberikan kemudahan bagi lulusan penyandang disabilitas yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.
"Kami akan memberikan jalur khusus bagi yang ingin lanjut S2 di Unilak. Kami juga akan memberikan kemudahan," tegas Junaidi.
Pernyataan tersebut menjadi harapan baru bagi para lulusan disabilitas untuk terus mengembangkan kemampuan dan meraih pendidikan yang lebih tinggi.
Kisah 10 mahasiswa disabilitas yang berhasil meraih gelar sarjana ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kesempatan memperoleh pendidikan tinggi harus terbuka bagi setiap orang.
Wisuda bukanlah akhir dari perjalanan. Bagi mereka, toga yang dikenakan hari itu menjadi simbol perjuangan, keberanian, dan pembuktian bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita. (*)

