Libatkan 1.711 Peserta, Kemah Kerukunan di Siak Gaungkan Toleransi dan Pelestarian Lingkungan

Beritariau.com, SIAK – Sebanyak 1.711 peserta mengikuti Kemah Kerukunan, Kemah Madrasah, dan Ekoteologi Siak Hijau yang digelar Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Siak di Bumi Perkemahan Pramuka Tengku Buang Asmara, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Riau.
Kegiatan yang berlangsung mulai Jumat (23/10/2026) tersebut menjadi momentum memperkuat toleransi antarumat beragama, membangun karakter generasi muda, sekaligus menanamkan kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Pembukaan kegiatan pada Sabtu (24/10/2026) dilakukan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Muliardi, bersama Bupati Siak Afni Z dan Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Isyam. Prosesi pembukaan ditandai dengan pemukulan kompang secara bersama-sama.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Siak, Fuadi Ahmad, mengatakan kegiatan tersebut mengusung tiga misi utama, yakni memperkuat kerukunan, membentuk karakter peserta didik madrasah, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Dari total 1.711 peserta, sebanyak 1.300 orang mengikuti Kemah Madrasah, 211 orang mengikuti Kemah Kerukunan, sedangkan 200 peserta lainnya terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Fuadi berharap perkemahan ini dapat memperkuat keharmonisan masyarakat Kabupaten Siak yang hidup dalam keberagaman suku, agama, dan budaya. Menurutnya, kerukunan harus terus dirawat melalui sikap saling menghormati, membangun komunikasi, serta memperkuat semangat persaudaraan.
Tidak hanya menitikberatkan pada hubungan antarmanusia, kegiatan ini juga membawa pesan penting mengenai tanggung jawab bersama dalam menjaga alam.
“Air yang mengalir, udara yang kita hirup, dan tanah yang kita pijak merupakan anugerah Allah SWT. Oleh karena itu, menjaga alam bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua,” ujar Fuadi.
Afni: Perbedaan Harus Memperkuat Persaudaraan
Bupati Siak, Afni Z, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan Kementerian Agama dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Siak tersebut.
Menurut Afni, perkemahan menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk membangun persaudaraan, menumbuhkan rasa kebersamaan, dan memahami arti penting hidup berdampingan di tengah perbedaan.
Ia menilai semangat kebersamaan merupakan modal penting dalam menghadapi berbagai persoalan di tengah masyarakat. Dengan komunikasi dan kerja sama yang baik, perbedaan pandangan tidak harus menjadi sumber perpecahan.
“Selagi kita selalu bersama, insyaallah apa pun masalahnya akan bisa diselesaikan dengan baik,” kata Afni.
Afni juga menekankan pentingnya pendidikan karakter melalui kegiatan kepramukaan. Pembentukan generasi muda, menurutnya, tidak cukup hanya melalui pendidikan agama di madrasah dan pondok pesantren, tetapi perlu dilengkapi dengan pembiasaan disiplin, kemandirian, tanggung jawab, dan kebersamaan.
Melalui kegiatan kepramukaan, para peserta diharapkan belajar menghargai sesama, bekerja dalam tim, serta mengutamakan kepentingan bersama.
Pada kesempatan itu, Afni turut mengingatkan peserta agar menghormati simbol-simbol negara sebagai bagian dari upaya menjaga persatuan dan menumbuhkan rasa cinta Tanah Air.
“Jangan pernah bermain-main dengan Bendera Merah Putih, jangan pernah bermain-main dengan lagu Indonesia Raya, dan jangan bermain-main dengan persatuan kita,” tegasnya.
Muliardi Gaungkan Pesan Kerukunan dan Ekoteologi
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Muliardi, mengatakan Kemah Kerukunan, Kemah Madrasah, dan Ekoteologi Siak Hijau memiliki keterkaitan dalam membangun masyarakat yang harmonis, berkarakter, dan peduli terhadap lingkungan.
Ia menyebut Kabupaten Siak memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Nilai-nilai kerukunan yang tumbuh sejak masa Kerajaan Siak, menurutnya, menjadi warisan yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Keberagaman agama, suku, dan budaya seharusnya menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan, bukan alasan untuk membangun sekat di tengah masyarakat.
“Dari Siak kita belajar bahwa perbedaan bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk diupayakan bersama. Berbeda agama, satu kemanusiaan,” ujar Muliardi.
Selain memperkuat toleransi, Kemah Madrasah menjadi sarana pendidikan di luar kelas untuk membangun kedisiplinan, kemandirian, kepemimpinan, dan solidaritas peserta didik.
Sementara itu, Ekoteologi Siak Hijau mengajak peserta memahami bahwa pelestarian lingkungan tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekologis, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral dan spiritual manusia dalam menjaga alam sebagai anugerah Tuhan.
Muliardi mengingatkan bahwa Sungai Siak dan kawasan hutan gambut merupakan kekayaan alam yang memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan di Provinsi Riau.
“Kabupaten Siak merupakan jantung Provinsi Riau. Sungai Siak dan hutan gambutnya adalah amanah yang harus dijaga oleh kita semua,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, Kementerian Agama Kabupaten Siak berharap tumbuh generasi muda yang menjunjung tinggi toleransi, memiliki karakter kuat, menghargai keberagaman, serta berperan aktif dalam menjaga persatuan dan kelestarian lingkungan.
Perkemahan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa merawat kerukunan dan menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama. Dari lingkungan pendidikan, nilai-nilai tersebut diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, demi mewujudkan Kabupaten Siak yang harmonis dan berkelanjutan. (*)

