Perkebunan Nanas Dibidik Jadi Motor Ekonomi Hijau Riau, Pemprov Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

Beritariau.com, PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau terus memperkuat langkah menuju pembangunan ekonomi hijau dengan mendorong pemanfaatan potensi daerah secara berkelanjutan. Salah satu komoditas yang kini dilirik untuk dikembangkan ialah nanas, yang dinilai memiliki peluang besar dalam menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan.
Pengembangan ekosistem perkebunan nanas menjadi salah satu agenda yang dibahas dalam Webinar Green Connect #4 bertajuk Green For Riau, Selasa (27/10/2026). Kegiatan tersebut diikuti secara virtual dari Ruang Kerja Sekretaris Daerah Provinsi Riau dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menegaskan bahwa pembangunan rendah karbon tidak dapat diwujudkan hanya melalui kebijakan pemerintah. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, hingga organisasi masyarakat sipil agar potensi yang dimiliki Riau dapat dikembangkan menjadi program nyata yang berkelanjutan.
Melalui inisiatif Green For Riau, berbagai gagasan dan potensi daerah diharapkan dapat disatukan dalam satu arah pembangunan yang terintegrasi. Dengan demikian, upaya menjaga lingkungan tidak berjalan sendiri, tetapi menjadi bagian dari strategi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami mengajak seluruh pihak untuk memperkuat kolaborasi dalam mendorong pembangunan yang berkelanjutan di Provinsi Riau. Setiap potensi dan gagasan yang ada perlu disatukan agar dapat memberikan hasil nyata bagi masyarakat,” ujar Syahrial.
Ia menjelaskan, pendekatan Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) berbasis yurisdiksi menjadi salah satu kerangka penting dalam mendukung pembangunan rendah karbon. Pendekatan ini membutuhkan koordinasi yang kuat antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota agar kebijakan, perencanaan, serta pelaksanaan program dapat berjalan selaras.
Menurutnya, sinergi lintas pemerintahan dan dukungan para mitra menjadi faktor penting untuk memastikan agenda perlindungan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi.
“Pemerintah provinsi tidak dapat berjalan sendiri karena pelaksanaan program juga membutuhkan dukungan kabupaten dan kota serta para mitra. Dengan koordinasi dan komitmen bersama, upaya menjaga lingkungan dapat berjalan seiring dengan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Riau, Moh Fredly Nasution, menilai pengembangan ekonomi daerah perlu ditopang akses pembiayaan yang memadai, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Salah satu upaya yang tengah didorong OJK Provinsi Riau ialah membangun ekosistem perkebunan nanas dengan melibatkan petani, pemerintah daerah, lembaga keuangan, serta calon pembeli atau off-taker. Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat membangun rantai usaha yang lebih terintegrasi, mulai dari proses budidaya hingga penyerapan hasil panen.
“Kami sedang mendorong pengembangan ekosistem perkebunan nanas di Riau melalui kolaborasi berbagai pihak. Dengan keterlibatan petani, pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan pihak yang menyerap hasil produksi, diharapkan pengembangan usaha dapat berjalan lebih terintegrasi,” ungkap Fredly.
Menurutnya, pengembangan komoditas nanas juga membuka peluang untuk menyatukan kepentingan ekonomi dengan upaya pelestarian lingkungan. Hal ini menjadi perhatian karena komoditas tersebut dibudidayakan di kawasan lahan gambut yang memerlukan pengelolaan secara cermat dan berkelanjutan.
Karena itu, pengembangan perkebunan nanas perlu dirancang dengan memperhatikan keseimbangan antara produktivitas usaha, peningkatan pendapatan petani, dan perlindungan sumber daya alam. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar potensi komoditas tersebut tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga mendukung agenda pembangunan rendah karbon di Riau.
“Kami melihat adanya peluang untuk menghubungkan pengembangan ekonomi daerah dengan perhatian terhadap lingkungan. Karena itu, kolaborasi perlu terus dibangun agar potensi usaha dapat berkembang sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Melalui penguatan kolaborasi pemerintah, sektor keuangan, petani, dan pelaku usaha, pengembangan perkebunan nanas diharapkan menjadi salah satu peluang untuk memperluas kegiatan ekonomi masyarakat. Di sisi lain, pendekatan ekonomi hijau diharapkan mampu memastikan pemanfaatan potensi daerah tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan untuk jangka panjang. (*)

