Ditolak Berhubungan Intim Jadi Alasan Pria di Pelalawan Bunuh Teman Wanitanya

Beritariau.com, Pelalawan -- Polisi mengungkap kasus pembunuhan seorang perempuan berinisial SS (46) di Jalan Markisa, Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau. Korban diduga dibunuh oleh pria berinisial Jamal alias Udin (27) setelah ajakan untuk berhubungan intim ditolak.
Kapolsek Pangkalan Kerinci Kompol Shilton mengatakan peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (11/8/2026) malam. Saat itu, korban yang merupakan teman pelaku datang ke tempat kerja Jamal dan meminta kunci rumah kontrakannya untuk beristirahat setelah bertengkar dengan suaminya.
"Korban ini datang menemui pelaku di tempat kerjanya. Korban bilang 'Pinjam dulu kunci rumahmu lah, Kakak mau istirahat. Kakak bertengkar sama abangmu (suami korban)'. Dikasihlah kunci itu ke korban saat itu," ujar Shilton, Jumat (14/8/2026).
Sekitar pukul 21.00 WIB, korban kemudian menghubungi Jamal dan meminta dibelikan air mineral. Pelaku datang ke kontrakan untuk mengantarkan pesanan tersebut.
Saat berada di rumah, Jamal disebut mengetahui kondisi korban yang sedang mengalami masalah rumah tangga. Polisi menyebut pelaku kemudian mengajak korban berhubungan intim, meski mengetahui korban telah bersuami.
Namun, ajakan tersebut ditolak korban. Penolakan itu kemudian memicu pertengkaran.
Menurut keterangan Jamal kepada polisi, korban marah dan berteriak-teriak di dalam rumah. Pelaku disebut merasa terganggu dan malu apabila keributan tersebut didengar tetangga.
Dalam kondisi emosi, Jamal diduga mencekik leher korban hingga korban tidak bergerak lagi.
"Namun korban tidak berhenti marah-marah. Lalu pelaku langsung mencekik leher korban sehingga korban tidak bergerak lagi," ungkap Shilton.
Setelah kejadian tersebut, Jamal meninggalkan kontrakan. Ia kemudian tidur di tempat cuci motor tempatnya bekerja dan baru kembali ke kontrakan pada Rabu (12/8) siang bersama seorang temannya berinisial J.
Rekayasa Seolah Korban Bunuh Diri
Setelah kembali, Jamal diduga mulai menyusun skenario untuk menghilangkan jejak pembunuhan.
Menurut polisi, sebelum meninggalkan kontrakan, pelaku mengunci pintu dari luar. Ia kemudian keluar melalui jendela dan melemparkan kunci ke dalam rumah. Cara tersebut diduga dilakukan untuk menciptakan kesan bahwa pintu terkunci dari dalam.
Saat kembali ke lokasi, Jamal kemudian berpura-pura memanggil korban dan menggedor pintu kontrakan.
Seorang tetangga berinisial P yang mendengar keributan tersebut kemudian menghubungi Jamal melalui WhatsApp dan menyarankan agar pintu didobrak karena khawatir korban mengalami sesuatu.
Ketika pintu dibuka, saksi melihat korban telah tergeletak di dalam rumah dengan kondisi tidak bergerak.
Jamal kemudian berpura-pura memeriksa korban dan menyampaikan kepada saksi bahwa korban telah meninggal dunia.
Peristiwa tersebut selanjutnya dilaporkan kepada Ketua RT dan diteruskan ke kepolisian melalui layanan 110.
Di hadapan polisi, Jamal sempat memberikan keterangan bahwa korban meninggal akibat bunuh diri karena mengalami depresi setelah masalah dengan suaminya.
Namun, keterangan tersebut mulai terbantahkan setelah polisi melakukan penyelidikan dan menemukan sejumlah kejanggalan.
Keterangan Pelaku Berubah-ubah
Shilton mengatakan Jamal sempat memberikan keterangan yang berubah-ubah saat diperiksa. Alibinya juga disebut tidak sesuai dengan keterangan sejumlah saksi maupun rekaman kamera pengawas (CCTV).
"Pelaku waktu kita amankan pertama kali keterangannya selalu berubah-ubah. Alibinya banyak bertolak belakang dengan para saksi lain dan alat bukti CCTV yang kita punya," ujar Shilton.
Penyidik kemudian menunggu hasil autopsi untuk memastikan penyebab kematian korban.
Hasil autopsi dari Biddokes Polda Riau yang keluar pada Kamis (13/8) semakin memperkuat dugaan bahwa korban meninggal akibat kekerasan, bukan bunuh diri.
Setelah bukti-bukti tersebut dikumpulkan, Jamal akhirnya tidak dapat mempertahankan keterangannya dan mengakui perbuatannya kepada penyidik.
Polisi kini masih melanjutkan proses penyidikan untuk melengkapi alat bukti dan mendalami seluruh rangkaian peristiwa yang menyebabkan korban meninggal dunia.
Kasus tersebut sekaligus mengungkap bagaimana dugaan pembunuhan yang sempat dikemas seolah-olah sebagai bunuh diri akhirnya terbongkar melalui hasil autopsi, keterangan saksi, dan rekaman CCTV. (*)

