Kasus Kematian Pelajar SMK di Pekanbaru Diusut, Polisi Bongkar Makam untuk Otopsi

Beritariau.com, Pekanbaru -- Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam seorang pelajar SMK di Pekanbaru berinisial M Fahri, Kamis (6/8/2026). Tindakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari penyelidikan atas laporan keluarga yang menduga korban meninggal dunia akibat penganiayaan.
Proses ekshumasi berlangsung di Kompleks Pemakaman COVID-19, Kecamatan Rumbai Barat, Pekanbaru. Tim penyidik bekerja sama dengan dokter forensik dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Riau untuk melakukan autopsi dan mengambil sejumlah sampel yang akan diperiksa lebih lanjut di laboratorium forensik.
Selama proses berlangsung, lokasi dijaga ketat aparat kepolisian bersenjata lengkap. Ekshumasi juga disaksikan oleh kuasa hukum keluarga korban.
Kuasa hukum keluarga korban, Leanson TM Siagian, berharap pemeriksaan forensik dapat mengungkap penyebab pasti kematian M Fahri sehingga perkara tersebut segera menemukan titik terang.
"Harapan kita kasus ini cepat terungkap apa penyebab dari kematian adik klien kami ini. Korban ini masih pelajar dan diduga pelaku juga masih pelajar," ujarnya.
Menurut Leanson, korban dan terduga pelaku merupakan teman sepergaulan yang terlibat perkelahian di luar lingkungan sekolah. Setelah kejadian tersebut, kondisi korban terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia dua hari kemudian.
"Yang jelas mereka teman sepermainan, ada perkelahian. Kejadian di luar sekolah," katanya.
Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Riau, AKBP Abdullah Hariri, menjelaskan bahwa ekshumasi dilakukan sebagai tindak lanjut atas laporan keluarga yang meminta kepolisian mengungkap penyebab kematian korban melalui pemeriksaan medis forensik.
"Hari ini kita melaksanakan ekshumasi atau otopsi terhadap jenazah almarhum M Fahri. Sebelumnya kami menerima laporan dari pihak keluarga terkait dugaan tindak pidana yang menyebabkan korban meninggal dunia," ujarnya.
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, korban diduga terlibat perkelahian dengan seorang pelajar berinisial BM pada Minggu (12/7/2026). Setelah kejadian itu, korban sempat menjalani perawatan medis sebelum meninggal dunia pada Selasa (14/7/2026).
Sebelum mengembuskan napas terakhir, korban juga sempat menceritakan kepada keluarganya bahwa ia terlibat perkelahian sebelum pulang ke rumah. Informasi tersebut kemudian menjadi dasar bagi keluarga untuk melaporkan kasus tersebut ke Polda Riau.
Abdullah mengungkapkan, hasil pemeriksaan medis saat korban dirawat menunjukkan adanya dugaan memar pada bagian kepala serta indikasi kerusakan pada leher berdasarkan hasil CT scan.
"Pada saat di Rumah Sakit Aulia dilakukan CT scan, terdapat dugaan memar di kepala dan juga ada kerusakan di lehernya," jelasnya.
Polda Riau menegaskan proses penyelidikan masih terus berlangsung. Hasil autopsi dan pemeriksaan laboratorium forensik nantinya akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab kematian korban sekaligus mengungkap ada atau tidaknya unsur pidana dalam kasus tersebut. Hingga saat ini, polisi masih mengumpulkan alat bukti dan meminta keterangan dari sejumlah saksi untuk mengungkap secara utuh kronologi peristiwa tersebut. (*)

