Polemik Pemberitaan Soal Gubernur Riau

SOWAT : Berita Dugaan Asusila Gubernur Riau Lebih Dahsyat dari Berita Skandal Sex Presiden AS Bill C

SOWAT : Berita Dugaan Asusila Gubernur Riau Lebih Dahsyat dari Berita Skandal Sex Presiden AS Bill C

| Beritariau.com 2014

Beritariau.com, Pekanbaru - Terkait rilis yang disebar yang mengatasnamakan pemimpin media cetak lokal riau di Riau, yang menyatakan bahwa Soemardi Taher telah melukai pers lokal, ditanggapi serius oleh Solidaritas Wartawan untuk Transparansi (SOWAT).

Dari kajian teori jurnalistik, kasus itu sangat layak jadi berita. Bahkan, nilainya lebih tinggi dibandingkan berita "Skandal Sex Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton dengan pegawai Gedung Putih Monica Lewinsky" di pertengahan 1990-an lalu

"Melukai Pers Lokal. Itu kan judulnya? Nah, kita sudah uji. Jika tak setuju, boleh ditanggapi berdasarkan ilmu jurnalistik yang universal," kata Koordinator SOWAT, Syahnan Rangkuti, Minggu (7/9/14).

Sebelumnya, pada Rabu (3/9/14) di Hotel Jatra Pekanbaru, para pimpinan media cetak lokal Riau berkumpul secara tertutup menyikapi pemberitaan kasus dugaan asusila yang dilaporkan oleh WW (38), putri dari Soemardi Taher, dengan terlapor AM (74) alias Gubernur Riau.

Mereka menyesalkan komentar Soemardi yang menyebut bahwa pers lokal Riau telah kehilangan sense of morality crisis karena tak berani memberitakan kasus yang membawa nama Gubernur Riau itu. Pernyataan itu, dinilai melukai pers lokal.

Maksud pernyataan "melukai pers lokal" dari pimpinan media cetak itu ternyata ditanggapi serius oleh SOWAT. Hasil kajian yang dicatat pada 6 lembar kertas itu, memuat sejumlah argumen, bahwa berita kasus itu sangat pantas dimuat.

Menurut Syahnan, dari analisis yang dilakukan, memang diakui bahwa media wajib mengacu kepada kode etik untuk pemberitaan. Namun, harus diingat bahwa sebuah berita layak untuk ditulis atau ditayangkan bukan karena etika.

"Melainkan karena "Nilai Berita" (News Value, red) yang dikandungnya. Etika itu dibutuhkan untuk mengawal berita agar tetap pada rel nya," tegas Syahnan.

Kajian akademis itu merujuk dari buku News Reporting and Editing keluaran tahun 1980 yang ditulis oleh Brian S Brook, George Kennedy, Darly R Moen dan Don Ranly.

Berikut 9 (sembilan) komponen nilai berita yang jadi rujukan jurnalistik dunia yang dikutip Syahnan untuk menganalisis pemberitaan terkait kasus yang diduga menyeret Gubernur Riau :

1. Unusualness atau Luar Biasa. Berita tentang tuduhan perbuatan asusila AM (terlapor) jelas bukan berita biasa.

2. Newness (Baru). Berita itu masih sangat hangat dan kasus hukumnya masih dapat berkembang.

3. Impact atau Berdampak. Kasus AM ini membuat dampak yang luas karena marwah Riau sesungguhnya dipertaruhkan.

4. Aktual. Sudah pasti berita itu tidak basi.

5. Proximity atau Kedekatan. Kasus ini terjadi di Pekanbaru, Ibukota Provinsi Riau, lokasi dimana koran lokal dicetak dan disebar.

6. Information. Kasus ini menyediakan terlalu banyak informasi yang bisa digali dan dikaji untuk dijadikan bahan diskusi.

7. Conflict. Kasus ini berisi dimensi pertentangan.

8. Prominence or Newsmaker. Tokoh dalam berita ini adalah orang nomor 1 di Riau.

9. Surprising atau Mengejutkan. Setiap orang pasti terkejut adanya pejabat tinggi di Riau yang berusia 74 tahun dituduh berbuat asusila.

Selain itu, dari buku itu juga, dikatakan Syahnan, beberapa pakar menemukan dua komponen tambahan yakni :

10. Human Interest. Kasus itu penuh dengan kisah kemanusiaan terutama perempuan yang melaporkan dirinya di lecehkan.

11. Sex. Awal dari berita ini adalah soal Sex.

"Dari kajian berdasarkan teori itu. Kasus ini bernilai berita sangat tinggi karena memenuhi semua unsur. Jarang ada peristiwa memiliki nilai berita setinggi ini," kata Syahnan.

Berita seputar kasus ini menjadi diskusi di sejumlah pewarta. Bahkan, dengan nada berbeda, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau juga berkomentar. [Baca : Berita Gubernur Riau, Ketua PWI Dheni Kurnia : Media Umum dan Infotainment Jelas Berbeda]. [red/roy]

Tags :# hukum