Polda Ambil Alih Laporan Mahasiswi UNRI yang Ngaku Dilecehkan Dosen
Kabid Humas Polda Riau, Kombes Sunarto.
Beritariau.com, Pekanbaru - Kepolisian Daerah Riau (Polda) Riau, mengambil alih penanganan laporan mahasiswi jurusan Hubungan Internasional (HI) inisial L, yang melaporkan dosen pembimbingnya SH ke Polresta Pekanbaru.
Kabar ini dibenarkan Kabid Humas Polda Riau, Kombes Sunarto yang dikonfirmasi Selasa (9/11/2021) saat dihubungi melalui telepon selulernya.
"Iya benar, tadi malam prosesnya pengambil alihan," singkat Sunarto.
Sementara itu, korban L sendiri melapor ke Polresta Pekanbaru, pada Jumat (5/11/2021) sore dia didampingi orang tua, Tante dan temannya.
Atas laporan yang telah masuk dan diterima, ibunya berharap pelaku dihukum sesuai undang-undang yang berlaku.
“Mohon doanya ya,” kata ibu korban.
Sebelumnya viral L, mahasiswi jurusan HI Fisip Unri memberikan pengakuan di akun Instagram @komahi_ur. Bahwa ianya mendapat perlakuan pelecehan seksual dosen pembimbingnya diruang dekan, pada Rabu (27/10/2021) lalu.
Dari pengakuan L melalui video yang sengaja di blur untuk menyamarkan identitasnya, mahasiswi tersebut memperkenalkan diri sedang berkuliah di Jurusan HI Fisipol angkatan tahun 2018.
Korban mengaku perbuatan tak senonoh itu terjadi pada 27 Oktober 2021 pukul 12.30 wib. Saat itu, Ia menghadap Dekan bernama Syafri Harto dalam rangka Bimbingan Proposal Skripsi. Saat itu, hanya mereka berdua diruangan.
Mengawali proses bimbingan, kata Korban, Syafri Harto malah bertanya bukan seputar Proposal Skripsi, namun terkait kehidupan pribadi (personal life). Justru, dalam proses bimbingan proposal itu, Syafri Harto, mengucapkan kata-kata yang tidak pantas seperti 'i love you' kepada korban.
Saat hendak berpamitan usai Bimbingan Proposal, kata korban, Syafri Harto mulai bertingkah aneh.
"Ketika saya ingin berpamitan. Beliau langsung menggenggam kedua bahu saya, mendekatkan badannya kepada diri saya. Langsung beliau menggengam kepala saya dengan kedua tangannya. Setelah itu dia mencium pipi sebelah kiri saya dan mencium kening saya. Saya sangat merasa ketakutan dan saya langsung menundukkan kepala saya. Namun bapak Syafri Harto segera mendongakkan kepala saya dan dia berkata 'Mana Bibir..? Mana Bibir..?'," terang korban.
Kejadian itu, kata korban, membuat dirinya sangat terasa terhina dan terkejut. "Badan saya merasa ketakutan. Namun ketika saya mendorong dan dia mengatakan 'Ya udah kalau tidak mau'," sambung korban.
Korban pun langsung buru-buru meninggalkan ruangan Dekan dan meninggalkan kampus dengan keadaan yang sangat bergetar, ketakutan, sangat merasa dilecehkan.
Rencana korban meminta perlindungan atas perlakuan itu pun malah diganjal oleh para oknum Dosen.
Pasalnya, beberapa hari setelah kejadian tersebut, korban menghubungi salah satu dosen jurusan HI dengan tujuan untuk menemani dirinya menemui Ketua Jurusan.
Namun, oknum dosen tersebut mencoba merayu korban agar tidak mengadu ke Ketua Jurusan. Bahkan, ketika korban hampir sampai ke rumah Ketua Jurusan, oknum dosen tersebut secara aktif mengajak korban untuk bertemu dahulu di salah satu kedai kopi.
Disitu, kata korban, oknum dosen tersebut malah mengancam dirinya agar mengurungkan niat melaporkan peristiwa tersebut ke Ketua Jurusan.
"Jika ini terungkap, pak Syafri Harto akan bercerai dengan istrinya," kata Oknum Dosen tersebut seperti ditirukan korban dalam video pengakuannya.
Ia pun disuruh bersabar untuk tidak mempermasalahkan kasus ini.
Sore hari itu juga, lanjut korban, usai sholat Jumat, akhirnya korban bertemu dengan Ketua Jurusan yang didampingi oleh oknum dosen tersebut.
Ternyata, harapan korban terhadap oknum dosen yang akan melindungi dirinya hanya pepesan kosong.
"Didepan Ketua Jurusan dosen tersebut malah menyalahkan saya ceroboh tidak menggunakan SK dalam melakukan Bimbingan Proposal," tutur korban.
Di pertemuan itu, oknum dosen tersebut, berulang kali menjatuhkan dan menyalahkan korban didepan Ketua Jurusan. Bahkan, kata korban, oknum dosen itu mengintimidasinya dengan mengayunkan kakinya berkali-kali kepada korban bertujuan agar tidak menyampaikan kelakuan Dekan itu.
Parahnya, kata korban, oknum dosen tersebut secara frontal membela Syafri Harto didepan Ketua Jurusan dengan mengatakan, bahwa pelecehan seksual yang dilakukan itu bukan kebiasaan Syafri Harto, melainkan hanya 'accidental' alias kecelakaan.
Korban pun membeberkan kejadian itu. Namun, reaksi yang Ia terima dari oknum Dosen HI dan Ketua Jurusan itu malah membuatnya semakin terhina. Pengakuannya itu malah ditertawakan kedua pendidik itu.
"Mereka berdua menginjak-injak harga diri, saya merasa tidak dilindungi. Dosen-dosen tersebut sangat jahat sama saya," keluh korban sedih.
Kemudian, menurut korban, Syafri Harto mencoba menghubungi dirinya berkali-kali dengan nomor baru. "Dan dia sempat meng-chat saya dengan mengatakan 'kok WA bapak di reject'. Ini membuat saya merasa diteror dan dosen yang mengintimidasi saya tersebut berusaha berkali - kali untuk menghubungi saya untuk berdamai," ceritanya.
Kemudian, lanjutnya, melalui perantara, Syafri Harto menghubungi keluarga korban dan mengatakan alasannya mencium korban karena mengganggap korban sebagai anaknya.
Namun, keluarga korban justru balik bertanya kepada perantara Syafri Harto, "kalau dianggap sebagai anaka, kenapa mencium dibibir ?,".
Setelah beberapa waktu, akhirnya korban memberanikan diri memutuskan untuk mengangkat kasus ini ke publik.
"Saya berharap kepada siapapun diluar sana, siapapun kalian yang mengalami pelecehan seksual, terlebih dilingkungan kampus, saya berharap mereka mampu berbicara atas perlakukan yang mereka alami. Jangan mereka (pelaku pelecehan seksual, red) tertawa atas perbuatan keji yang dilakukan," seru korban.
"Dan, saya ingin ini tidak terjadi, terutama kepada mahasiswi yang ketakutan. Saya harap kalian kuat! Saya harap kalian berani!," tegasnya.***

