PT Godang Tua Jaya dan Samhana Indah Tak Bekerja Maksimal

Sampah di Pekanbaru Masih Menumpuk, GPS Plastik Bentang Spanduk di Badan Jalan

Tim GPS Plastik membentang spanduk di Jalan Lintas Sumatera (Siak 2).

Beritariau.com, Pekanbaru - Dua perusahaan yang saat ini mengelola pungutan sampah di Kota Pekanbaru, yakni PT Godang Tua Jaya dan Samhana Indah, tampaknya belum dapat bekerja maksimal. Paska dilakukan penandatanganan kesepakatan pengelolaan yang dilakukan pada 18 Maret lalu.

Fakta ini jelas terlihat nyata, karena sampai saat ini masih terjadi tumpukan sampah dibeberapa titik di kota Bertuah ini.  

Hal ini menjadi perhatian dari Tim Koalisi Gerakan Puasa Sampah (GPS) Plastik, yang menilai perlu adanya sosialisasi, pembinaan dan evaluasi dalam pengelolaan sampah oleh DLHK Kota Pekanbaru. 

Merespon masih terjadinya penumpukan sampah tersebut, Tim ini bertindak dengan membentangkan spanduk, bertuliskan "Selamatkan PKU!!! dari sampah plastik dan banjir, GPS Plastik". Kemudian, #Atasi Covid-19, batasi sampah plastik, Koalisi GPS Plastik. Lalu, pengelolaan buruk, sampah menumpuk".

Sebagai informasi, didalam kontrak tersebut, PT Godang Tua Jaya menyepakati mengelola pengangkutan sampah di zona satu, meliputi Kecamatan Binawidya, Tuah Madani, Payung Sekaki dan Marpoyan Damai. Sedangkan wilayah kerja PT Samhana Indah meliputi di zona dua yakni di Kecamatan Bukit Raya, Sukajadi, Pekanbaru Kota, Senapelan, Lima Puluh, Sail, Tenayan Raya dan Kulim.

Ilham Riyanda, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Universitas Riau berpandangan, bahwa Kasi Peningkatan Kapasitas Informasi dan Komunikasi Lingkungan DLHK Pekanbaru, harus melakukan sosialiasi pembatasan sampah plastik bagi masyarakat.

"Selain swastanisasi pengangkutan sampah, DLHK Kota Pekanbaru harus melakukan sosialisasi terkait pembatasan sampah plastik kepada masyarakat," Kata Ilham.

Menurut pantauan Tim GPS Plastik yang turun di beberapa lokasi, pihaknya masih menemukan tumpukan sampah khususnya sampah plastik seperti di jalan Lintas Sumatera (Dekat Jembatan Siak 2), Air Hitam, Pasar Pagi Arengka, Soekarno Hatta, Sumber Sari dan Tengku Umar. 

Agus Tri Nur Huda, Wanapalhi STMIK Amik Riau, menambahkan, bahwa penumpukan sampah dibeberapa lokasi itu terjadi secara berulang-ulang. Dimana hal ini menandakan, bahwa DLHK Kota Pekanbaru belum merata dalam menyediakan sarana dan wadah pemilahan sampah di kawasan pemukiman, komesrsial, industri, pasar, fasilitas umum dan khusus.

Dia berharap, penggunaan produk sekali pakai dalam aktifitas harian, sebisa mungkin manfaatkan kembali barang tersebut agar tidak menjadi sampah dan berakhir di TPA, insenerator atau bahkan mengalir ke sungai dan laut. 

"Pola pembatasan produk plastik harus mulai kita lakukan agar terbiasa dan menjadi budaya ramah lingkungan," ujarnya.

Hardinan Haniel, Mapala Suluh FKIP Unri turut menambahkan, pihaknya tidak mau fenomena itu terus berlanjut kedepannya.

"Kita tidak mau melihat sampah plastik di sungai dan laut yang mengganggu biota laut seperti ikan yang sering kita konsumsi," tegas Hardinan.

Karena belum teratasi oleh dua perusahaan pengelola tersebut. Pihaknya dari Tim GPS Plastik tentunya mendukung gugatan warga dalam hal mengugat Walikota Pekanbaru, DPRD Koa Pekanbaru dan Kepala Dinas LHK Kota Pekanbaru atas kerugian warga, terkait pengelolaan sampah khususnya sampah plastik sekali pakai yang dilayangkan oleh Tim Advokasi Sapu Bersih di Pengadilan Pekanbaru pada 16 September nanti. 

"Salah satu bentuk kesadaran kolektif warga adalah dengan cara melakukan koreksi, agar target target 30 persen mengurangi sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga dan 70 persen dalam penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga pada tahun 2025 nanti bisa tercapai," pungkas Ilham Riyanda.***