Esra Engliwaty Boru Nainggolan Viral di Media Sosial

Tanah SHM hanya diganti Rp18 ribu per meter, Korban Jalan Tol di Siak: Lebih mahal Bakso!

Penulis : admin | Jumat, 29 November 2019 - 18:42 WIB

Riana boru Nainggolan (Baju Merah) Saat Di Lokasi Eksekusi Lahan Jalan Tol, Kamis (28/11/19) | Facebook

Beritariau.com, Pekanbaru - Kisah pilu dan tangisan Esra Engliwaty boru Nainggolan Lumban Raja, istri Suwitno Marbun Lumban Batu, saat eksekusi lahan  untuk pembangunan Jalan Tol Pekanbaru-Dumai di Jalan Limbek Kampung Kecamatan Kandis digelar oleh Pengadilan Negeri (PN) Siak, Kamis (28/11/19) kemarin, ahirnya viral di Jagat Maya.

Dari video viral, Esra tak berdaya melawan eksekusi lahan yang mendapat pengawalan 300 personil gabungan dari TNI/Polri, Pemkab Siak, PN Siak, Satpol PP dan PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI). Eksekusi lahan ini untuk pembebasan lahan sekitar 7000 meter proyek Tol Pekanbaru-Dumai.

Pembacaan eksekusi dilakukan oleh Panitera PN Siak dengan disaksikan pemilik lahan atau yang mewakili, pihak Pemerintah Kabupaten Siak, Polres Siak dan PT Hutama Karya Insfrastruktur ( HKI).

PN Siak akhirnya mengeksekusi tanah milik Suwitno Lumban Batu seluas 25.092 meter, Maruba Lumban Raja seluas 966 meter dan Junter Pandiangan sebanyak 5.044 meter 

Dalam video diposting akun Facebook Senopati Kandis, saat sedang dibacakan keputusan eksekusi lahan, Esra selaku istri dari salah orang pemilik lahan, Suwitno Lumban Batu melakukan protes karena ganti rugi lahannya tak sesuai. Namun eksekusi tetap berlanjut.

"Saya tidak menuntut banyak. Apa yang di putuskan oleh Pengadilan Siak berikan Hak saya. Tapi kenyataan pembohong," teriak Esra sambil menangis dikelilingi sejumlah Polisi Wanita.

Sebelumnya, Ia telah memenangkan Gugatan di Pengadilan Negeri Siak dimana Majelis Hakim memerintahkan agar Negara mengganti rugi tanahnya sebesar sekitar Rp150 ribu per meter. Namun, harapannya Kandas ditingkat Banding.

"Harapan saya kepada bapak Jokowi, tolong perhatikan masyarakat Kandis ini Bapak Jokowi. Harga tanah di Kandis Kabupaten Siak ini lebih mahal Tempe, lebih mahal (dari) Bakso," ungkapnya kesal.

Esra pun menceritakan cara proses ganti rugi yang dilakukan oleh pihak Pemerintah yang terkesan memaksa dan otoriter.

"Saya sudah melakukan segala upaya. Masyarakat tidak pernah diajak mufakat. Pihak mereka (Pemerintah) langsung menentukan harga. 'Tanah ibu sekian, bila tidak setuju ajukan kepada Pengadilan', " terang Esra menirukan cara Panitia Ganti Rugi.

Terpisah, Camat Kandis Irwan Kurniawan MM mengatakan, eksekusi lahan di wilayah Kecamatan Kandis kali ini seluas 3,1 hektare dengan tiga pemilik lahan.

"Eksekusi lahan dilakukan pihak PN Siak di lokasi Kampung Kandis dengan tiga orang pemilik lahan," jelasnya.

Sementara Kapolres Siak AKBP Dody Sanjaya mengatakan bahwa Polres Siak diminta Pengadilan Negeri Siak Untuk mengamankan jalannya kegiatan eksekusi.

"Alhamdulillah, berjalan dengan aman dan lancar tanpa kendala apapun. Eksekusi lahan ini adalah eksekusi damai," ujarnya.

Informasi yang diperoleh, ganti rugi pembebasan Jalan Tol ini dilakukan melibatkan Lembaga Penilai Toto Suharto.

Dikonfirmasi terpisah, Simangunsong (51), keluarga Suwitno mengakui kejadian yang menimpa keluarganya ini sangat miris. Selama berjuang, kata Mangunsong, kasus ini bahkan sudah dilaporkan ke Istana.

"Perjuangan ini bahkan sudah sampai ke Istana. Tapi, hasilnya begini juga," ucapnya, Jumat (29/11/19). (bam) 

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :