Satgas Karhutla Sebar 20 Ton Garam Untuk Hujan Buatan

Penulis : user | Kamis, 21 Maret 2019 - 18:58 WIB

Ilustrasi awan di Riau

Beritariau.com, Pekanbaru - Satuan tugas (Satgas) udara penanggulangan kebakaran hutan dan lahan Provinsi Riau menyatakan operasi hujan buatan melalui teknologi modifikasi cuaca telah menghabiskan 20 ton garam sejak dilakukan sepanjang tiga pekan terakhir.

"Sudah sekitar 20 ton garam kita semai ke awan potensial untuk hujan buatan," kata Komandan Satgas Udara Karhutla Riau, Marsekal TNI Ronny Irianto Moningka, Kamis.

Operasi hujan buatan dengan menggunakan pesawat Cassa 212 milik TNI AU yang menyasar awan potensial melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru akan terus berlangsung selama siaga darurat Karhutla Riau.

Dia memastikan, persediaan garam hingga saat ini masih sangat cukup untuk operasi TMC di Provinsi Riau. Selain itu dia juga mengatakan Satgas Karhutla siap menambah persediaan garam selamat dibutuhkan.

Hujan buatan melalui operasi TMC dilakukan sejak awal Maret 2019 ini. Operasi itu berlangsung seketika Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto selesai meninjau lokasi Karhutla di Riau akhir Februari 2019.

Saat itu, Hadi menuturkan TNI AU mengirim peralatan dan personel untuk membantu mengatasi Karhutla di wilayah itu. Selain pesawat Cassa, TNI AU juga mengerahkan Helikopter serta 100 prajurit Kostrad, yang hingga kini berjibaku melakukan penanggulangan Karhutla di Rupat, Bengkalis.

Lebih jauh, Ronny mengatakan kegiatan pengeboman air atau water bombing dengan menggunakan helikopter milik TNI, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta pihak swasta terus dilangsungkan.

Sejatinya, Satgas Udara Karhutla Riau diperkuat 11 armada udara, termasuk helikopter didalamnya. Namun, Ronny mengatakan saat ini hanya ada dua helikopter yang siaga dan siap untuk dimanfaatkan. Keduanya adalah helikopter jenis MI-8 dan Bell 412. Sementara helikopter lainnya dalam masa pemeliharaan rutin.

"Water bombing tetap kita dukung dengan helikopter yang ada. Sekarang ada dua, jadi baru kita maksimalkan dengan dua helikopter yang ada tersebut," tuturnya.

Water bombing ke titik api yang ada dikatakan Ronny, mengedepankan skala prioritas. Terutama ke titik api yang sudah cukup besar dan berpotensi meluas. Ronny menuturkan, jika unit water bombing lebih banyak, maka akan lebih efektif untuk disebar ke titik api yang lain. [ard]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :