Gandeng MDI, Pemko Pekanbaru Libatkan 1.000 Mubaligh untuk Cegah Penularan HIV/AIDS

Gandeng MDI, Pemko Pekanbaru Libatkan 1.000 Mubaligh untuk Cegah Penularan HIV/AIDS

Beritariau.com, PEKANBARU – Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru memperkuat upaya pencegahan dan pemutusan mata rantai penularan HIV/AIDS dengan menggandeng Majelis Dakwah Islamiyah (MDI). Kolaborasi ini melibatkan lebih dari 1.000 mubaligh untuk mengedukasi masyarakat melalui dakwah keagamaan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemko Pekanbaru melalui Dinas Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap HIV/AIDS. Para mubaligh diharapkan dapat memanfaatkan kegiatan dakwah, terutama saat menjadi khatib salat Jumat, untuk menyampaikan pesan pencegahan dan pentingnya menjaga kesehatan.

Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, mengatakan peran mubaligh cukup strategis karena mereka memiliki akses langsung kepada masyarakat melalui masjid-masjid di berbagai wilayah Kota Pekanbaru.

“Karena mubaligh kita ini setiap Jumat mengisi masjid-masjid sebagai khatib. Maka tentu ada kesempatan untuk menyampaikan dakwah Islam terkait dengan penyakit-penyakit masyarakat yang berpotensi menyebabkan HIV/AIDS,” kata Markarius usai mengunjungi MDI Pekanbaru, Jumat (30/10/2026).

Menurut Markarius, upaya pencegahan HIV/AIDS tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah dan tenaga kesehatan. Dukungan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen lainnya diperlukan agar informasi mengenai penularan dan pencegahan HIV/AIDS dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Ia menyebutkan, sejumlah faktor risiko penularan HIV berkaitan dengan perilaku seksual yang tidak aman dan penggunaan jarum suntik secara bergantian. Karena itu, edukasi kepada masyarakat dinilai penting untuk mendorong perilaku yang lebih aman sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap persoalan kesehatan tersebut.

“Kita ucapkan terima kasih kepada MDI yang sudah berkenan untuk membantu kita. Mari sama-sama kita melakukan pencegahan dengan melakukan penyuluhan kepada masyarakat,” ujar Markarius yang juga menjabat Ketua KPA Kota Pekanbaru.

Angka HIV/AIDS Jadi Perhatian Serius

Markarius menegaskan, persoalan HIV/AIDS perlu menjadi perhatian bersama mengingat jumlah kasus yang ditemukan di Pekanbaru masih tinggi. Berdasarkan data KPA Kota Pekanbaru yang disampaikannya, hingga September 2026 tercatat sekitar 6.000 warga telah teridentifikasi tertular HIV/AIDS.

Ia menyebutkan, kasus yang ditemukan didominasi laki-laki. Dalam keterangannya, Markarius menyoroti penularan yang berkaitan dengan penggunaan jarum suntik secara bersama-sama serta hubungan seksual antarlaki-laki sebagai sejumlah faktor yang banyak ditemukan.

Kondisi tersebut, menurutnya, membutuhkan pendekatan pencegahan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk melalui edukasi berbasis keagamaan dan penyuluhan kesehatan.

Melalui kolaborasi dengan MDI, Pemko Pekanbaru berharap pesan pencegahan HIV/AIDS dapat disampaikan secara berkelanjutan kepada masyarakat. Para mubaligh diharapkan tidak hanya menyampaikan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga turut membangun kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan, menghindari perilaku berisiko, dan mendukung upaya penanggulangan HIV/AIDS.

Upaya edukasi juga perlu berjalan seiring dengan penyampaian informasi kesehatan yang benar serta penghapusan stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV. Dengan demikian, masyarakat diharapkan semakin memahami cara penularan HIV, pentingnya pemeriksaan, dan perlunya memperoleh layanan kesehatan tanpa diskriminasi.

Pemko Pekanbaru berharap keterlibatan MDI dapat memperkuat gerakan bersama dalam menekan penularan HIV/AIDS sekaligus membangun masyarakat yang lebih peduli terhadap kesehatan dan lingkungan sosialnya. (*)