YKAN Evaluasi Restorasi Mangrove Kembung Luar, Progres Normalisasi Parit Capai 2.259 Meter

YKAN Evaluasi Restorasi Mangrove Kembung Luar, Progres Normalisasi Parit Capai 2.259 Meter

Beritariau.com, Bantan -- Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melakukan monitoring dan evaluasi (monev) secara berkala terhadap program restorasi mangrove yang dilaksanakan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) bersama masyarakat Desa Kembung Luar, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan program restorasi berjalan sesuai rencana sekaligus melihat capaian di lapangan, mengidentifikasi kendala dan menyusun langkah tindak lanjut untuk memperkuat pemulihan ekosistem pesisir.

Monev diawali dengan pemaparan Ketua LPHD sekaligus Sekretaris Desa Kembung Luar, Faizan, di Gedung Serbaguna Kantor Desa Kembung Luar, Selasa (15/9/2026).

Dalam pemaparannya, Faizan menyampaikan berbagai perkembangan kegiatan restorasi yang telah dilakukan LPHD bersama kelompok masyarakat, mulai dari pemulihan dan perlindungan ekosistem mangrove hingga pembibitan, pembangunan jaringan parit, penanaman dan pemeliharaan mangrove.

Ia mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan pesisir yang tengah dipulihkan. Karena itu, dukungan dan pendampingan dari berbagai pihak, khususnya YKAN, diharapkan terus berlanjut.

"Yang tidak kalah penting, kami berharap pihak YKAN dapat terus memberikan support, pendampingan dan bimbingan kepada LPHD Desa Kembung Luar. Dengan adanya dukungan tersebut, kami optimis kegiatan restorasi mangrove dapat berjalan lebih baik dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat," tutur Faizan.

Normalisasi Parit Capai 2.259 Meter

Berdasarkan rekapitulasi hasil monitoring dan evaluasi, LPHD Desa Kembung Luar telah menyelesaikan normalisasi parit primer sepanjang 2.259 meter.

Selain itu, pengadaan benih siap tanam untuk Blok 1.1 telah mencapai 6.672 benih dan ditargetkan segera dituntaskan.

Sejumlah pekerjaan lainnya masih berlangsung. Pembuatan jalur bersih di Blok 4.1 dengan luas kawasan 10.518,52 meter telah mencapai progres sekitar 90 persen.

Sementara pembuatan parit sekunder di Blok 6.1 dengan panjang 1.363,72 meter telah mencapai sekitar 70 persen.

Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki kondisi hidrologi kawasan sekaligus mendukung pertumbuhan mangrove yang ditanam di wilayah restorasi.

YKAN: Monev Jadi Dasar Perbaikan Program

Koordinator Kerja Sama Riau YKAN, Fadil Nandilah, mengatakan monitoring dan evaluasi perlu dilakukan secara berkala untuk mengetahui sejauh mana capaian program sekaligus memastikan kegiatan restorasi berjalan sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan.

Menurutnya, evaluasi tidak hanya dilakukan untuk melihat keberhasilan, tetapi juga menemukan bagian-bagian yang masih membutuhkan perbaikan.

"Monitoring dan evaluasi ini penting dilakukan secara berkala untuk melihat capaian, keberhasilan maupun hal-hal yang belum berhasil dalam pelaksanaan restorasi mangrove. Dari hasil evaluasi tersebut, kita dapat menentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan keberhasilan program ke depannya," ujar Fadil.

Ia menambahkan, hasil monev akan menjadi bahan dalam menyusun strategi dan tindak lanjut kegiatan perlindungan, pemulihan, konservasi serta restorasi mangrove agar lebih efektif dan tepat sasaran.

Fadil berharap program restorasi dapat berjalan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat secara aktif. Dengan keterlibatan tersebut, kawasan mangrove yang telah dipulihkan diharapkan dapat terjaga dalam jangka panjang sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Kepala Desa Dorong Pendampingan Berlanjut

Kepala Desa Kembung Luar, Jamaludin, juga berharap YKAN terus memberikan dukungan dan pendampingan kepada LPHD serta masyarakat.

Menurutnya, dukungan tersebut sangat dibutuhkan agar upaya perlindungan, pemulihan, konservasi dan restorasi mangrove dapat diwujudkan secara nyata dan berkelanjutan.

"Kami berharap YKAN terus mensupport LPHD dan masyarakat Desa Kembung Luar sehingga upaya perlindungan, pemulihan, konservasi, dan restorasi mangrove dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat," harap Jamaludin.

Ia menilai keberhasilan restorasi mangrove tidak hanya penting bagi kelestarian lingkungan, tetapi juga berpotensi membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya pesisir secara berkelanjutan.

Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat memperoleh manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem pesisir.

Tim Turun Langsung ke Kawasan Restorasi

Pada hari yang sama, YKAN bersama Pemerintah Desa Kembung Luar juga menggelar diskusi dan audiensi dengan rombongan Crankstart Foundation Amerika, Global Mangrove Alliance/The Nature Conservancy (GMA/TNC) Amerika dan Kanada, serta CLUA Indonesia.

Rombongan tersebut terdiri dari Jesse Emiliano Hahnel dari Crankstart Foundation Amerika, Emily Charlotte Landis dari GMA/TNC Amerika, Shruti Mittal dari GMA/TNC Kanada dan Dhita Rachmadini dari CLUA Indonesia.

Mereka turut didampingi Direktur Program Kelautan Indonesia-YKAN yang juga Deputi Direktur Eksekutif YKAN M. Ilman, Direktur Mariski Nirwan selaku Senior Manager Program Ketahanan Pesisir YKAN, serta Fadil Nandilah.

Usai pemaparan dan diskusi, tim YKAN bersama LPHD Desa Kembung Luar turun langsung ke sejumlah blok kawasan restorasi mangrove.

Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi kawasan sekaligus mencocokkan perkembangan yang disampaikan dalam pemaparan dengan kondisi faktual di lapangan.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah blok kawasan hidrologi. Tim melakukan pengamatan terhadap kondisi lingkungan dan sistem tata air yang menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pemulihan ekosistem mangrove.

Hasil pengamatan tersebut akan menjadi bahan evaluasi bersama untuk menentukan langkah penanganan dan tindak lanjut yang diperlukan.

Tim YKAN lainnya bersama rombongan juga menyusuri aliran Sungai Kembung Luar menggunakan speedboat. Dari jalur sungai, tim memantau sejumlah kawasan restorasi, termasuk perkembangan pertumbuhan mangrove dan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Monitoring langsung tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan program restorasi tidak hanya tercatat dalam laporan, tetapi benar-benar menunjukkan perkembangan di lapangan.

Kegiatan turut dihadiri perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Bengkalis melalui Kepala Bidang PPKLH, Babinkamtibmas, Ketua BPD Kembung Luar, Ketua LPHD Kembung Baru, Ketua LPHD Teluk Pambang serta sejumlah tamu undangan lainnya. (*)