LAMR Gandeng Seluruh Paguyuban, Hari Kebudayaan Nasional 2026 Bakal Jadi Panggung Keragaman Riau

Beritariau.com, Pekanbaru -- Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) melibatkan berbagai paguyuban yang tergabung dalam Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Riau dalam persiapan peringatan Hari Kebudayaan Nasional 2026.
Pertemuan lintas paguyuban tersebut berlangsung di Balairung Tenas Effendi, lantai II Balai Adat Melayu Riau, Jalan Diponegoro, Pekanbaru, Selasa (15/9/2026). Pertemuan menjadi ruang untuk menyatukan langkah dalam menghadirkan beragam seni dan budaya masyarakat Riau dalam satu rangkaian kegiatan.
Rapat dipandu Kepala Sekretariat LAMR Datuk Arman dan dihadiri Ketua Umum MKA LAMR Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf serta Ketua Umum DPH LAMR Datuk Seri Taufik Ikram Jamil.
Turut hadir Ketua FPK Provinsi Riau Dr. H. Ramli Walid, SE, M.Si., bersama para ketua paguyuban yang tergabung dalam FPK Riau.
Pertemuan tersebut membahas persiapan rangkaian peringatan Hari Kebudayaan Nasional yang akan digelar pada 17 Oktober 2026.
Bagi Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, agenda tersebut tidak sekadar menjadi perayaan kebudayaan, tetapi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi masyarakat dari berbagai latar belakang yang hidup di Riau.
"Sejak 17 Oktober 2025 ditetapkan Hari Kebudayaan Nasional, sejak setahun belakangan ini," kata Taufik.
Dalam rangkaian kegiatan, LAMR bersama Lembaga Adat Serumpun Melayu Sumatera akan menggelar bengkel hukum adat. Selain itu, disiapkan pula pameran usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) serta panggung keragaman seni dan budaya.
Panggung keragaman menjadi salah satu agenda utama karena memberikan kesempatan kepada berbagai etnis yang hidup dan berkembang di Riau untuk menampilkan seni dan budayanya masing-masing di Balai Adat Melayu Riau.
"Seluruh etnis yang ada di Riau ini bisa tampil di LAMR. Silakan mendaftar ke panitia kegiatan," ujar Taufik.
Menurutnya, peringatan Hari Kebudayaan Nasional tahun ini juga menjadi momentum untuk mengingat kembali peristiwa 17 Oktober 2025, ketika LAMR bersama berbagai elemen masyarakat memaklumatkan perjuangan Daerah Istimewa Riau (DIR).
Taufik menekankan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai latar belakang. Melalui seni dan budaya, setiap kelompok memiliki kesempatan untuk saling mengenal dan membangun kebersamaan.
"Harapan saya, kegiatan ini nantinya berjalan lancar dan mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat di Riau ini," katanya.
Semua Budaya Tampil dalam Satu Panggung
Ketua FPK Riau Dr. H. Ramli Walid menilai pelibatan berbagai paguyuban dalam peringatan tersebut penting untuk memperkuat pembauran masyarakat di Riau.
Menurut Ramli, selama ini kehidupan masyarakat di Bumi Lancang Kuning berlangsung relatif aman dan tidak terdapat gesekan antarkelompok yang berkembang menjadi permusuhan.
Karena itu, kesempatan bagi berbagai etnis untuk menampilkan seni dan budaya dalam satu panggung dinilai dapat menjadi gambaran pembauran masyarakat Riau.
"Kesempatan menampilkan seni budaya di Riau ini pada Hari Kebudayaan nantinya sangat luar biasa karena semua seni budaya setara dalam satu panggung," ujar Ramli.
Ia mengatakan semakin banyak ruang yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dapat memperkuat interaksi sosial sekaligus menunjukkan keberagaman yang hidup berdampingan di Riau.
Dukungan juga disampaikan sejumlah paguyuban yang tergabung dalam FPK Riau. Mereka menyatakan siap berpartisipasi dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk kebersamaan dan representasi masyarakat Riau.
Para paguyuban bahkan menyatakan kesediaannya untuk tampil tanpa membebankan biaya kepada panitia.
"Karena kegiatan yang akan dilaksanakan sesuatu yang baik, mendapat dukungan dan apresiasi dari paguyuban. Sebagai bentuk kebersamaan sebagai representasi masyarakat Riau, para paguyuban siap untuk tampil tanpa biaya," ujar Ramli.
Ketua Umum MKA LAMR Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf mengapresiasi dukungan dari seluruh paguyuban tersebut.
Menurutnya, kekompakan berbagai kelompok masyarakat menjadi bagian penting dalam menyukseskan peringatan Hari Kebudayaan Nasional di Riau.
"Semoga kegiatan ini berjalan lancar dan semakin memperkuat rasa kebersamaan kita semua," ujar Datuk Seri Marjohan.
Hari Kebudayaan Nasional diperingati setiap 17 Oktober berdasarkan Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 162/M/2025 yang ditandatangani Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Juli 2025.
Penetapan tersebut merujuk pada peristiwa 17 Oktober 1951 ketika pemerintah menyetujui penggunaan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" pada lambang negara Garuda Pancasila.
Hari Kebudayaan Nasional bukan merupakan hari libur nasional. Peringatan tersebut diarahkan untuk memperkuat identitas nasional, menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya serta menempatkan kebudayaan sebagai salah satu bagian penting dalam pembangunan bangsa. (*)

