Misteri Kematian Dokter di Siak, Polisi Libatkan Psikologi Forensik

Beritariau.com, Pekanbaru - Untuk mengungkap penyebab pasti kematian dokter muda, Alex Cristo Loris Situmorang (30), penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Siak akhirnua melibatkan tim psikologi forensik serta dokter forensik.
Kasatreskrim Polres Siak AKP Raja Kosmos mengatakan proses penyelidikan masih terus berlangsung dengan mengumpulkan berbagai alat bukti, memeriksa saksi-saksi, serta melakukan pendalaman dari aspek ilmiah.
“Kami masih melakukan penyelidikan secara mendalam. Selain itu, kami juga berkoordinasi dengan psikologi forensik untuk membantu mengungkap penyebab kematian korban,” ujar AKP Raja Kosmos, Rabu, 22 Juli 2026.
Sementara itu, Tim Dokter Forensik Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Riau sebelumnya telah mengungkap hasil sementara autopsi terhadap jenazah Alex Cristo Loris.
Kasubdit Penmas Bid Humas Polda Riau, AKBP Rudi Samosir, mengatakan autopsi dilakukan di Instalasi Kedokteran Forensik dan Pemulasaran Jenazah RS Bhayangkara Polda Riau pada Selasa (14/7/2026).
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, korban telah memasuki fase pembusukan awal.
“Tim forensik menemukan adanya luka berbentuk titik disertai pembengkakan pada punggung tangan kiri serta memar pada bagian kepala yang diduga akibat kekerasan benda tumpul,” ungkap Rudi.
Selain itu, ditemukan sejumlah luka pascakematian (post mortem) di bagian leher, dada, perut, punggung, dan kedua lengan yang diduga merupakan bekas gigitan serangga setelah korban meninggal dunia.
Pemeriksaan organ dalam juga menunjukkan adanya pelebaran pembuluh darah dan kongesti atau pembendungan darah pada sejumlah organ.
Meski demikian, tim dokter forensik belum dapat memastikan penyebab pasti kematian korban.
“Kepastian penyebab kematian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium berupa histopatologi forensik dan toksikologi forensik terhadap sampel darah, urin, serta organ dalam yang telah diambil saat autopsi,” jelasnya.
Dari analisis sementara, korban diperkirakan telah meninggal dunia sekitar 12 hingga 24 jam sebelum autopsi dilakukan.
Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut nantinya akan dipadukan dengan hasil penyelidikan kepolisian, termasuk kajian psikologi forensik, guna mengungkap secara utuh penyebab kematian dokter asal Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, tersebut. (*)

