USMAN DATUOK DUBALANG KAYO "Pesilat Tangguh Pembantai Kolonial"

Penulis: Ilham Afandi, Andika Ilahi, Indra Yusneaydi
Desain Sampul: Abiel
Penata Letak: Abiel
Penerbit: Salmah Publishing
Tahun Terbit: 2026
Jumlah Hal: xxii + 190
ISBN:-
Harga: -
Buku “Usman Datuok Dubalang Kayo: Pesilat Tangguh, Pembantai Kolonial” merupakan sebuah karya sejarah yang menelusuri perjalanan hidup dan perjuangan Usman Datuok Dubalang Kayo, seorang Dubalang tangguh dari Persukuan Mandeliong Datuok Bandaro Mudo, Kenegerian Bangkinang, yang dikenal sebagai salah seorang tokoh utama dalam perlawanan rakyat Kampar terhadap penjajahan Belanda pada penghujung abad ke-19.
Nama Usman Datuok Dubalang Kayo tercatat dalam arsip kolonial sebagai “orang Melayu yang diikat”, dan "Dubalang Kayo yang kepalanya dipenggal oleh kolonial" namun selain itu, ia dikenang sebagai pembunuh Clifford, seorang insinyur pertambangan Belanda, dalam Pertempuran Pulau Godang (5-6 April 1899), pertempuran heroik yang menjadi simbol keberanian dan perlawanan rakyat Kampar.
Buku ini menguraikan bagaimana V Koto Kampar, sebagai bagian dari wilayah Tanah Andiko yang dikenal tangguh dan beradat, menjadi daerah yang paling sulit ditaklukkan oleh kolonial Belanda. Dalam konteks itu, peran para Dubalang, terutama Usman bersama sahabat seperjuangannya seperti Gandulo Datuok Tabano, Saleh Datuok Si Ampang Langka, Karim Datuok Saibu Gaghang dan Kasir Datuok Saibu Gaghang menjadi kunci dalam membangun kekuatan rakyat dan mempertahankan marwah negeri.
Melalui pendekatan ilmiah dan berbasis arsip, penulis menggabungkan sumber-sumber kolonial Belanda, naskah sejarah perjuangan rakyat Kampar, wawancara adat, serta arsip lapangan dari berbagai sumber resmi dan masyarakat adat. Buku ini tidak hanya memotret sosok Usman sebagai seorang pejuang, tetapi juga menempatkannya dalam sistem sosial dan nilai Dubalang di Kampar sebagai penjaga kehormatan, penegak disiplin, dan pelindung rakyat.
Buku ini terdiri atas sepuluh bab utama yang tersusun secara sistematis. Bab I menguraikan latar belakang dan metode penulisan; Bab II menggali Kampar dalam arsip asing dan catatan kolonial; Bab III hingga Bab VIII menelusuri perjalanan hidup, peran, hingga gugurnya Usman Datuok Dubalang Kayo pada 28 Agustus 1899 bersama para pejuang lainnya; sementara Bab IX dan Bab X membahas warisan nilai perjuangan serta langkah menuju pengakuan nasional.
Melalui karya ini, penulis berharap agar Usman Datuok Dubalang Kayo tidak hanya dikenang sebagai tokoh lokal, tetapi juga diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia: simbol keberanian, keteguhan, dan pengabdian Dubalang Kampar yang berjuang “hingga tetes darah terakhir” demi marwah negeri dan kemerdekaan bangsa. (*)

