AKBP Mindo Divonis Bunuh Istrinya. Dibela Mertua

Misteri Pembunuhan Sadis Putri Mega Umboh, Keluarga: Tuhan Kirim Bukti Baru..

INSET - Mantan Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Kepri Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun 1995, AKBP Mindo Tampubolon (Kiri) dan Almarhum Istrinya Putri Mega Umboh (Kanan) | Mindo Divonis Atas Tuduhan Membunuh Istrinya pada 10 Tahun Silam | Istimewa

Beritariau.com - Misteri Pembunuhan sadis Putri Mega Umboh, istri AKBP Mindo Tampubolon, yang terjadi 10 tahun lalu, akan memasuki babak baru. Persidangan Peninjauan Kembali (PK) pada akhir November mendatang akan menjadi tirai terakhir mengungkap tabir.

Kasus ini mencuri perhatian masyarakat se Nusantara.

Pasalnya, Putri dinyatakan dibunuh oleh suaminya sendiri, AKBP Mindo Tampubolon, mantan Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Kepri lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1995.

Pengadilan Negeri (PN) Batam dan Pengadilan Tinggi (PT) Pekanbaru menolak dakwaan Jaksa dan Polisi yang menuduh Mindo sebagai Pelaku bersama dengan pembantunya Rosma dan pacar Rosma, Ujang. Namun, Mahkamah Agung (MA) berkata lain, Mindo divonis sebagai pelaku dan dihukum Penjara seumur hidup. Tak terima, Mindo kabur.

Ternyata, kedua Mertua Mindo, Orang Tua Putri, justru membela Mindo. Mereka berkeyakinan kuat, Menantunya itu difitnah sebagai pelaku pembunuh Putri semata wayang mereka itu. Jalan panjang dan waktu yang cukup lama mereka tempuh untuk mencari keadilan terhadap menantunya itu.

Hampir 10 tahun berlalu sejak Putri tewas tahun 2011 lalu, kedua orang tua Putri Umboh akhirnya mendapatkan bahwa ada fakta baru yang akan dimajukan sebagai Novum atau Bukti Baru di persidangan PK akhir November mendatang.

“Waktu Tuhan sudah tiba bagi keluarga besar kami, Keluarga Tampubolon dan Keluarga Umboh, terkhusus bagi menantu kesayangan kami Mindo. Tuhan itu tidak pernah tidur, pergumulan kami selama 10 tahun sudah terjawab,” kata Ibu Kandung Alm Putri Mega Umboh, Getwien Mosse, Selasa (12/10/21).

Diantaranya, beber Getwien, ada petugas keamanan (Security, red) di Perumahan Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang juga pernah difitnah dan dijadikan tersangka, serta 2 (dua) orang anggota kepolisian akan mengungkapkan rahasia yang selama ini mereka sembunyikan.

"Security itu akan mengungkapkan apa sebabnya dia dan 6 orang rekan security lainnya dianiaya dan juga akan menyaksikan bahwa dia melihat AKBP Mindo dan istrinya di dalam mobil keluar dari perumahan sekitar pukul 06:30 wib,” lanjutnya.

Getwien menyatakan, pihaknya juga akan mengajukan 2 orang anggota Polri sebagai saksi untuk mengungkapkan siapa dalang dibalik fitnah terhadap Menantunya itu.

“Kami juga akan mengajukan dua orang anggota Polri menjadi saksi yang akan mengungkapkan siapa dalang yang merubah BAP (Berita Acara Pemeriksaan, red) dan mengungkapkan siapa dalang yang menyembunyikan berbagai BAP dalam merekayasa kasus saat itu,” ujarnya.

Saksi itu, katanya, akan mengungkapkan bahwa pagi hari sebelum kejadian itu, Saksi tersebut melihat Mindo diantar oleh istrinya, Almarhum Putri Mega Umboh, ke Polda bersama putrinya Kezia Tampubolon dan Pembantu mereka bernama Rosma.

“Ada saksi yang datang dengan penuh penyesalan dan meminta maaf kepada kami karena telah melakukan kesalahan yang luar biasa. Selama 10 tahun ini hidup tidak tenang karena terus dihantui perasaan bersalah. Inilah yang menjadi Novum/Bukti Baru dalam pengajuan PK akhir bulan November nanti,” papar Mertua Mindo, Ayah Kandung Putri, Drs James Umboh.

Sebagai ulusan AKABRI Tahun 1981 yang pernah menjabat sebagai Kapolresta Pekanbaru, James Umboh mengaku, pihak keluarga besar mereka tidak takut kepada orang-orang atau kelompok apapun itu.

“Kami percaya ini adalah jawaban doa-doa kami dan anak kami Mindo akan dibebaskan. Bagaimana bisa saksi tersebut menyampaikan permohonan maaf dan siap untuk menjadi saksi, apalagi namanya kalau bukan Tuhan yang atur semuanya,” tegas Pria Asli Keturunan Suku Bantik, Minahasa ini.

“Harapan kami adalah setelah saksi tersebut muncul, maka akan ada lagi saksi-saksi baru. Sebagai orang tua korban (Putri) dan mertua dari Mindo, yang sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri, kami yakin dan percaya atas doa-doa, usaha dan upaya yang kami lakukan selama ini, bahwa anak kami Mindo akan bebas karena dia tidak bersalah,” sambung Getwien.

Keluarga Beberkan Rekayasa Fitnah

Kasus pembunuhan sadis Putri Mega Umboh, ini masih menyisakan derita berkepanjangan bagi keluarga korban. Kasus ini membuat geger. Sebab, kedua Mertua Mindo meyakini tuduhan Mindo sebagai otak pembunuhan adalah rekayasa.

Ayah korban, Drs James Umboh, yang terang-terangan membela menantunya, Mindo, dari tuduhan sebagai otak pembunuhan putrinya itu, tidak puas atas proses hukum yang terjadi.

Dalam siarannya kepada Berita Riau, Senin (23/12/19) lalu, James membeberkan sejumlah kebohongan dan kejanggalan dalam kasus tersebut, termasuk yang diduga dilakukan oleh oknum Penyidik.

Laporan Oknum Penyidik Diduga Bohong
"Sebelum kasus bergulir ke Pengadilan Negeri (PN) Batam, oknum Tim Penyidik membuat laporan bohong dan menyesatkan kepada Mabes Polri, yang tertuang di dalam Laporan Pelaksanaan Tugas Asistensi tertanggal 10 Agustus 2011. Pada laporan itu disebutkan bahwa, Ahli Forensik menyatakan waktu kematian adalah antara pukul 02.00 - 03.30 WIB," ungkap James.

Pada waktu kematian ini lah sebagai dasar tuduhan. Mindo dituduh membunuh istrinya pada saat itu.

Autopsi Digelar Sebulan Usai Pemakaman
Padahal, kata Mantan Kapolresta Pekanbaru Alumni AKABARI Tahun 1981 ini, fakta persidangan saat perkara bergulir di PN Batam mulai bulan Januari 2012, Ahli Forensik dengan jelas mengungkapkan bahwa, waktu kematian tidak dapat diketahui karena jasad sudah membusuk.

Alasannya, karena memang Autopsi tidak langsung dilakukan usai jasad ditemukan, melainkan sebulan usai dimakamkan. Hal ini juga tertulis pada putusan PN Batam.

Pukul 02.00 Korban Masih Menelpon Ibunya
"Fakta lainnya, bahwa pada Subuh sebelum kejadian pembunuhan, Almarhum Putri masih ngobrol lewat telepon dengan ibunya dari sekitar pukul 02.00 WIB lewat hingga sekitar pukul 02.30 subuh," ucap Umboh.

Saat itu, korban menceritakan kepada ibunya, bahwa dirinya baru saja memarahi dan menempeleng Rosma karena membuat pintu rumah rusak sehingga dirinya cukup lama menunggu di luar rumah.

Ada BAP Yang Diduga Disembunyikan
Kemudian, lanjut Umboh, pada persidangan juga terungkap sejumlah Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang disembunyikan oleh Penyidik.

Salah satunya adalah BAP Pertama pelaku pembunuhan yaitu Ujang. Pada BAP pertama itu, Ujang menyebutkan bahwa waktu terjadinya pembunuhan adalah pukul 07.45 WIB pagi.

"Padahal, pada fakta persidangan, terbukti bahwa pada jam tersebut Mindo sudah berada di Polda Kepri sejak pukul 06.55 WIB pagi. Ia diantar oleh anak saya sendiri bersama putrinya, Kezia, dan pembantu rumah tangga, Rosma, yang terlibat dalam kasus pembunuhan itu," terang Umboh.

Anak Korban Saksikan Peristiwa Tragis
Umboh juga mengungkapkan, Cucunya, Kezia, menceritakan bahwa, setibanya di rumah usai mengantar Ayahnya ke kantor, Ujang langsung menarik korban.

"Kezia menyaksikan semua kejadian sadis itu," papar Umboh.

Keluarga Mengetahui Tak Adanya Autopsi Setelah 3 Minggu Usai Pemakaman
Diungkapkannya lagi, pihaknya sebagai keluarga korban, mengetahui bahwa jasad Korban tidak dilakukan autopsi setelah sekitar 3 minggu usai pemakaman.

"Lalu kami mendesak Direskrimum Polda Kepri bahkan sampai menghadap Kapolda agar dilakukan autopsi. Dan akhirnya, autopsi dilakukan setelah lebih dari 30 hari sejak dimakamkan," jelasnya.

BAP dengan Lie Detector & Rekom Mabes
Tak hanya itu, dalam persidangan juga terungkap bahwa, BAP Konfrontir dan BAP Hasil Pemeriksaan menggunakan Alat Uji Kebohongan (Lie Detector) disembunyikan. Tak hanya itu, rekomendasi dari Mabes Polri yang sangat penting, ternyata sama sekali tidak dilakukan oleh Penyidik Polda Kepri.

"Antara lain (Rekomendasi Mabes, red) mengambil Call Dial Record (CDR) kontak, rekaman CCTV lalu mencari Taxi serta wanita yang disebut-sebut Ujang terlibat," ujarnya.

Fakta Sidang Bongkar Kebohongan Ujang
Umboh juga mengungkapkan berbagai fakta persidangan yang secara terang-benderang membuka berbagai kebohongan Ujang dan Rosma, serta pertentangan kesaksian satu dengan yang lainnya.

Mindo Tak Diberitahu Soal Reka Ulang
Belum lagi, kata Umboh, ada 'Sinetron' Rekonstruksi Palsu. Karena dalam rekonstruksi tersebut, tuturnya, peran Mindo digantikan oleh orang lain yang mukanya ditutup dan di dadanya digantung tulisan nama 'Mindo Tampubolon'.

"Padahal, Mindo sendiri tidak pernah dihadirkan atau tidak pernah diberitahu sama sekali. Dan rekonstruksi palsu itu dilihat langsung oleh ibu korban, istri saya, yang hadir dilokasi," paparnya lagi.

Fitnah Adanya Wanita Lain Terpatahkan
Tak hanya itu, lanjut Umboh, ada lagi cerita karangan Ujang mengenai wanita selingkuhan sehingga memperkuat fitnah keterlibatan Mindo.

Padahal dalam fakta persidangan, sama sekali tidak pernah ada wanita yang disebutkan itu. Bahkan hingga saat ini, Mindo tak pernah punya hubungan dengan wanita manapun. Fitnah tersebut pun otomatis terpatahkan.

Aneh, Di Putusan Ujang dan Rosma di MA, Mindo Justru Disebut Tak Bersalah
"Saya juga mengetahui isi putusan PN (Pengadilan Negeri), PT (Pengadilan Tinggi) dan MA (Mahkamah Agung) untuk Ujang dan Rosma, yang menghukum Rosma dengan hukuman maksimal sesuai tuntutan Jaksa," lanjutnya.

Bahkan, Ujang dihukum lebih berat dari tuntutan. Adapun hal yang memberatkan Ujang, kata Umboh, adalah karena membawa-bawa pihak yang tidak bersalah, yaitu AKBP Mindo Tampubolon. Tertuang dalam putusan Ujang dan Rosma.

Sedangkan JPU yang menuntut hukuman seumur hidup untuk Mindo diputus Bebas Murni oleh PN Batam. Putusan itu, menurutnya, memang sesuai dengan fakta persidangan. JPU mengajukan Banding lalu Kasasi, baik untuk Ujang, Rosma dan Mindo.

"Putusan Kasasi menghukum Mindo dengan hukuman seumur hidup adalah putusan yang sesat dan terlihat jelas ada permainan di dalamnya. Saya dapat menunjukkan bukti dan kami juga sudah kami konsultasikan dengan dua mantan Hakim Agung, yang dengan tegas menyatakan bahwa itu adalah 'permainan'," tegas pria keturunan suku Asli Bandik Minahasa ini.

Naluri Reserse & Nurani Seorang Ayah
Sebagai seorang Ayah dari Anak Perempuan yang telah menjadi korban pembunuhan sadis, yang mengakibatkan Cucu-nya menjadi Piatu serta terpaksa terpisah dari Ayahnya, yang dipenjara akibat fitnah kejam dan putusan sesat itu, Umboh memohon kepada Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali, Presiden RI Jokowi serta Kapolri Jenderal Idham Aziz (Kini Jenderal Pol Listyo Sigit, red), untuk menolongnya dari praktek penegakan hukum yang menurutnya sesat.

"Anak menantu kami ini bukan lah pelaku. Bahkan dia adalah korban atas pembunuhan sadis atas istrinya," pintanya.

"Sebagai purnawirawan Polisi, yang memiliki pengalaman Reserse dan hati nurani yang waras serta bertaqwa kepada Tuhan, tidak mungkin saya mampu mengatakan bahwa Anak Menantu Saya bukan pelakunya, jika memang dia lah pelakunya. Saya minta dengan sangat kepada para pihak yang tak mengetahui fakta kebenaran agar tak menebar fitnah, yang semakin menambah derita kami sekeluarga, Anak Menantu saya AKBP Mindo dan Cucu saya Kezia. Saya berharap, jeritan kami ini dapat ditanggapi oleh pihak yang berwenang. Terima kasih," tutup Umboh.

Umboh mengatakan pihaknya selaku keluarga tetap berjuang mencari keadilan untuk Menantunya. Bukti-bukti baru alias Novum yang ditemukan itu akan menjadi dasar upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) atas Putusan MA tersebut.

Awal Cerita Kasus Pembunuhan
Kejadian bermula ketika Mindo Tampubolon mendapati hilangnya Istri, Purtri Mega Umboh (25) dan Anak Perempuan semata wayangnya, Kesya (3), sejak Jumat 24 Juni 2011 malam hingga Minggu pagi, 26 Juni 2011.

Pada hari itu sepulangnya bekerja dia kembali ke rumahnya di Perumahan Anggrek Mas III. Ia tak menemukan istrinya, anaknya serta pembantunya Rosma (22). Bahkan mobil miliknya pun, Nissan X-Trail warna hitam bernomor polisi BP 24 PM, juga raib.

Sejak Jumat malam itu, Ia melaporkan hilangnya Istri dan Anaknya itu ke Polresta Barelang sebagai orang hilang. Saat itu lah pencarian dimulai melibat sejumlah jajaran kepolisian.

Sabtu jelang tengah malam, Ia mendapat kabar dari rekan sesama Polisi bahwa anaknya telah ditemukan di Hotel Bali, di kawasan Jodoh di kamar 206 dalam keadaan selamat dan berhasil dibebaskan dari penculikan yang dilakukan oleh Ros, pembantu korban, dan pacarnya, Ujang.

Setelah didesak untuk memberi tahu keberadaan istrinya, akhirnya Ujang mengaku bahwa Ia telah membunuh Putri dan membuang mayatnya di kawasan hutan di Telaga Punggur, hanya berjarak sekitar 100 meter dari Pelabuhan domestik Telaga Punggur.

Ujang dan Rosma pun diproses hukum.

Tapi tiba-tiba, penyidikan berkembang dan menyeret nama Mindo selaku Otak kejahatan sadis itu. Mindo ditetapkan jadi tersangka.

Baik keluarga Mindo dan Ayah Mertuanya, yang saat itu masih menjadi Perwira Polisi aktif, tidak percaya atas tuduhan itu. Sebagai Reserse Polisi dan Ayah dari korban yang merupakan anak semata wayangnya, James Umboh mempelajari dan meyakini bahwa Menantunya itu difitnah.

Dalam proses Peradilan, melihat fakta persidangan, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN), menganulir seluruh bukti dan saksi yang menuduh keterlibatan Mindo.

Keyakinan yang sama juga dibuktikan oleh Hakim Pengadilan Tinggi (PT) Riau. Namun, kabar mengejutkan turun dari Mahkamah Agung (MA), yang memvonis Mindo terlibat dan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup. Tidak terima, Mindo pun kabur.

Setelah 6 tahun buron, Mindo ditangkap Kejaksaan di Desa Jagabaya II, Kecamatan Way Halim, Lampung, Provinsi Bandar Lampung, Selasa (25/06/19) malam.

Penangkapan Mindo pun mengagetkan publik. Pasalnya, selama buron, ternyata Mindo tinggal bersama anaknya, Kezia dan kedua Mertuanya yaitu James Umboh dan Getruida Winanda Mosse atau Getwien Mosse, yang yakin bahwa Mindo difitnah.

"Sampai mati pun Kami tetap yakin Mindo bukan pembunuh Istrinya," ungkap Getwien Mosse seperti dilansir Tribunnews, Juni 2019 lalu.

Mirip Kasus Sengkon dan Karta                    (Cikal Bakal Lahirnya Peninjauan Kembali)

Mencermari kasus yang dialami Mindo ini, seakan mirip dengan kasus Sengkon dan Karta, yang merupakan sejarah titik balik lahirnya Peninjauan Kembali (PK) dalam sistem hukum di Tanah Air.

Kasus ini bermula dari sebuah perampokan dan pembunuhan menimpa pasangan suami istri Sulaiman dan Siti Haya di Desa Bojongsari, Bekasi pada tahun 1974. Beberapa saat kemudian polisi menangkap Sengkon dan Karta. Keduanya lalu ditetapkan sebagai tersangka kasus perampokan dan pembunuhan sadis itu.

Sengkon dan Karta dituduh merampok dan membunuh pasangan Sulaiman-Siti Haya. Namun karena merasa tak melakukan tuduhan yang dimaksud, Sengkon dan Karta menolak menandatangani BAP.

Keduanya lalu disiksa oleh penyidik. Lantaran tak tahan menerima siksaan polisi, keduanya lalu menyerah dan meneken BAP.

Hakim Djurnetty Soetrisno pun lebih mempercayai cerita polisi daripada bantahan Sengkon dan Karta di pengadilan. Di bulan Oktober 1977, Sengkon akhirnya divonis penjara selama 12 tahun, sedangkan Karta divonis lebih ringan yakni 7 tahun. Putusan itu lalu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Jawa Barat.

Namun kebenaran memang selalu pihak kepada mereka yang benar. Dalam dinginnya penjara, Sengkon dan Karta bertemu dengan Genul yang masih terhitung keponakan Sengkon. Genul sendiri sudah lebih dulu masuk penjara Cipinang lantaran kasus pencurian.

Di dalam penjara itulah Genul akhirnya membuka rahasia dan mengakui bahwa dirinyalah yang merampok dan membunuh Sulaiman dan Siti. Pengakuan ini pun kemudian menjadi bukti baru. Di bulan ada Oktober 1980, Gunel akhirnya dijatuhi hukuman 12 tahun penjara.

Namun bobroknya sistem hukum membuat Sengkon dan Karta tetap mendekam di penjara meski pembunuh aslinya sudah divonis. Karena tidak mengajukan banding, vonis kepada Sengkon dan Karta dianggap telah berkekuatan hukum tetap.

Beruntung ada Albert Hasibuan, pengacara dan anggota dewan yang gigih memperjuangkan nasib mereka.

Akhirnya, pada Januari 1981, Ketua Mahkamah Agung (MA) Oemar Seno Adji memerintahkan agar keduanya dibebaskan lewat jalur Peninjauan Kembali. Inilah untuk pertama kalinya PK diakui dalam sistem peradilan di Indonesia.

Namun, meski sudah bebas, nasib keduanya juga masih terasa pahit. Keluarga Karta kocar-kacir sejak dirinya dibui dengan tuduhan pembunuhan dan perampokan. Rumah dan tanahnya seluas 6.000 meter persegi di Desa Cakung Payangan, Bekasi, juga ludes untuk membiayai perkaranya.

Sengkon juga mengalami nasib yang tak jauh beda. Kondisi kesehatannya terus menurun setelah keluar dari penjara karena mengalami TBC. Sebidang tanah yang selama ini ia andalkan untuk menghidupi keluarga juga sudah ludes dijual. Tanah itu dijual istrinya untuk menghidupi anak-anaknya dan membiayai dirinya saat diproses di polisi dan pengadilan.

Walau hanya menanggung beban seorang istri dan tiga anak, Sengkon tidak mungkin meneruskan pekerjaannya sebagai petani, karena sakit TBC terus merongrong dan terlalu banyak bekas luka di badan akibat siksaan yang dideranya.

Sengkon dan Karta juga sempat mengajukan tuntutan ganti rugi Rp 100 juta kepada lembaga peradilan yang salah memvonisnya. Namun Mahkamah Agung menolak tuntutan tersebut dengan alasan Sengkon dan Karta tidak pernah mengajukan permohonan kasasi atas putusan Pengadilan Negeri Bekasi pada 1977.

Tuhan rupanya berkendak lain. Karta tewas dalam sebuah kecelakaan, sedangkan Sengkon meninggal tak lama dari Karta karena sakit yang dia derita. Hanya kepada Tuhan keduanya bisa mengadu tentang ketidakadilan yang menimpanya.

Berangkat dari kasus Sengkon dan Karta inilah kemudian muncul PK. Namun dalam aturan pasal 268 ayat 3 KUHAP, PK hanya boleh diajukan satu kali.

PK ini akan menjadi Upaya Hukum terakhir bagi AKBP Mindo Tampubolon Alumni Akpol Tahun 1995 ini mencari keadilan. (*)