Oleh Roy Manurung

Mengadang Gaduh, Onar & Demoralisasi Negara (Via IT)

Penulis : admin | Sabtu, 18 Mei 2019 - 23:51 WIB

ilustrasi

KATA 'People Power', 'Curang', 'Makar', 'Penghasutan', 'Kawal KPU', yang menjadi topik perbincangan saat ini bermuara kepada Pengumuman Rekapitulasi Perhitungan Suara Nasional Pemilu 22 Mei 2019 dan Penetapan Pemenang Pemilu 5 Mei 2019 mendatang oleh Komisi Pemilihan Umum.

Tensi Politik di Media Sosial kian memanas. Namun di dunia nyata, ternyata berbeda.

Di salah satu media, seorang Walikota Perempuan, mengaku sudah melihat sendiri bahwa keriuhan di Medsos ternyata berbeda dengan kenyataan. Dimana masyarakat  sudah kembali sibuk dengan aktivitas pekerjaan dan ibadah di Bulan Suci Ramadhan.

Fakta menunjukkan bahwa Pemilu tahun 2019 sudah diprediksi menjadi Pemilu yang paling banyak beredar narasi jorok dan narasi kebencian. Paling banyak di Medsos.

Fenomena ini sebenarnya sejak awal sudah diduga akan terjadi sebab Pemilu 2019 kali ini cenderung bernarasi emosional daripada rasional.

Ujaran kebencian, Penghasutan, Hoax, Fake News berseliweran. Karena di Pemilu 2019, minim pilihan kata dan data objektif untuk membentuk narasi yang baik dalam mengekspresikan pilihan politik. Yang ada hanya narasi berbasis emosional yang bermain.

Apakah sengaja dikelola? Jawabannya, pasti.

Narasi negatif itu, secara massif membanjiri laman informasi network society, baik melalui platform seperti Facebook, Twitter, Youtube dan lainnya sebagai media berdiskusi (Discuss), menyebarluaskan Informasi (Publish) dan berbagi Informasi (Share).

Sadar atau tidak, dampaknya berbahaya. Lantas, muncul pertanyaan, 'Kenapa bisa dibiarkan terjadi?'.

Karena salah, tak mau dan tak bisa memanfaatkan Teknologi Komunikasi dan Informasi (TIK) dengan baik.

Ada sejumlah uraian dari literatur tentang apa yang dihadapi Bangsa Indonesia sekarang yang harus diulas dan dicermati.

Algoritma hingga Groupthink
Hampir semua platform baik Facebook, Twitter dan Youtube, memakai algoritma, yang tujuannya mendeteksi pola.

Jika dikelola secara salah untuk tujuan politik tertentu, akan berpotensi besar menghancurkan kehidupan sosial politik sebagai konsekuensi logis dampak negatif dari Kecerdasan Buatan alias Inteligensi Artifisial (Artificial Inteligence/AI).

Dimana letak bahayanya?
Kita tahu, Algoritma dahulu dipakai sebagai panduan matematis untuk mendeteksi pola atau tren pasar, sebagai dasar pengambilan kebijakan bagi pelaku bisnis. Kini, justru dikelola oleh pelaku politik menyebabkan perang opini melalui Cyber War.

Algoritma dulunya dipakai pebisnis untuk membaca pola gaya hidup dan belanja masyarakat untuk membentuk produk yang disukai pasar. Demi profit dan Omzet. Apa pun pola atau tren pasar akan menjadi pertimbangan untuk keputusan komoditas bisnis tertentu.

Namun sekarang disalahgunakan. Algoritma justru dipakai untuk mendeteksi pola masyarakat, dengan tujuan untuk merubah sikap sosial dan politik berdasarkan emosi.

Algoritma bekerja mendeteksi pola prilaku daring (online) baik melalui data gambar, foto, percakapan yang beredar yang disukai masyarakat.

Dan, dengan adanya aktivitas di daring (online) seperti searching, browsing, posting dan acces data serta aktivitas lainnya, Algoritma akan otomatis dan sistematis membentuk Digital Path yang kemudian membentuk kelompok data bergelembung (Filter Buble) dan menggema (Echo Chamber). Akhirnya, viral lah sesuatu yang sebenarnya memang mereka sukai.

Algoritma akan mendeteksi pola akun-akun Medsos, isi dan frekuensi percakapan dan segala informasi yang ada yang disimpan dalam sebuah Big Data.

Kemudian ada aktivitas searching, browsing dan akses data, akan membentuk jalur alias Digital Path yang menghubungkan antar gelembung data dan akhirnya menggema.

Video viral, foto viral dan berita viral yang masuk ke akun Medsos kita sebenarnya sudah diatur oleh sistem Algoritma, Digital Path, Filter Buble dan Echo Chamber tadi, berdasarkan pola prilaku kita selaku pengguna medsos.

Pola prilaku akun Medsos yang sudah dideteksi dan ditebak, tentunya akan diisi oleh informasi yang diatur oleh sistem tadi.

Dan, ketika ada informasi atau data dengan gagasan baik yang bertolak belakang dengan pola yang dibentuk itu, akan sulit masuk ke network society kita tanpa ada dorongan massif.

Bahayanya, dan sudah terjadi, sistem itu terkontaminasi berat dengan berita palsu. Namun jangan salah, informasi itu malah tetap disukai masyarakat yang terpapar emosi, tentu sangat berbahaya ke ekses kehidupan sosial.

Secara umum, berita palsu yang muncul dalam beberapa bentuk, terbagi dalam beberapa kategori.

Antara lain; berita bohong (Fake News), tautan jebakan (Click Bait) dengan judul atau gambar yang dibuat semenarik mungkin, bias konfirmasi (Confirmation Bias) yaitu tendensi untuk menginterpretasi kejadian yang baru terjadi sebagai bukti atas kepercayaan yang sudah ada, misinformation yakni informasi yang tidak akurat, satire yakni tulisan dengan nuansa humor untuk mengomentari suatu kejadian, Post-truth yakni penggunaan emosi melebihi fakta untuk membentuk opini publik, Propaganda yakni penyebarluasan informasi setengah benar untuk menggiring opini publik.

Groupthink Terbentuk Secara Massif
Lama kelamaan, membentuk kelompok masyarakat yang berbasis tipologi groupthink, yang tanpa disadari adalah salah satu dari Perangkap Jaringan Sosial (Social Network Trap).

Groupthink adalah pemikiran dari kelompok yang hanya didasari oleh semangat solidaritas, emosional dan keputusan bersama sehingga tak lagi mengambil keputusan secara objektif berdasarkan kajian ilmiah. Hanya mempertimbangkan emosional belaka bukan rasional.

Aliansi pikiran groupthink yang diperankan dan diperkuat oleh sosok-sosok cerdas dan intelektual ini, akan cenderung menggiring masyarakat tenggelam dan larut dalam lautan opini bersama dan jumlahnya bertambah banyak secara massif.

Post-Truth Era
Literatur menyebutkan, Era Pasca Kebenaran atau Post-Truth Era bukan lah sebuah era dimana ada kebenaran baru. Namun, era pemuasan atas keyakinan dimana sisi objektif dan rasional seolah memberikan jalan bagi bujukan emosial atau hasrat untuk memihak atas sesuatu yang diyakini padahal fakta sesungguhnya jelas memperlihatkan hal sebaliknya.

Kalimat yang diasumsikan berbasis data berupa 'saya pelajari', 'kami analisa', yang dikeluarkan ke publik, seharusnya berdasarkan logika berfikir ilmiah. Karena sangat berbeda dengan kalimat 'saya rasa', 'kami meyakini' yang hanya berdasarkan perasaan dan emosional.

Namun, di era pasca kebenaran ini, kalimat 'Saya pelajari', 'Kami Analisa', justru malah akan dipakai untuk mempublikasikan keyakinannya agar seolah tampak rasional dan logis padahal hanya berdasarkan emosional semata. Disini, Groupthink sudah bekerja.

Ide Goebbels vs Akal Sehat
Michiko Kakutani dalam bukunya The Death of Truth: Notes on Falsehood in the Age of Trump (2018) mengungkapkan bahwa, zaman ini adalah era matinya kebenaran dan kejayaan kebohongan. Inilah era pasca-kebenaran (post-truth). 

Sebenarnya bukan hal baru, fenomena taktik agar piawai mengelola kebohongan dan mengalahkan akal sehat ini, sudah dikenalkan oleh Jozef Goebbels, Menteri Propaganda pada era Nazi Jerman.

"Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang akan diterima sebagai kebenaran," kata Goebbels.

Sayangnya, pemikir di Bangsa ini terkesan gagal menghadang masuknya pikiran atau ide pentolan Nazi masa lalu itu di era Teknologi saat ini. 

Lalu, bagaimana dengan regulasi perundang-undangan kita menghadapi Post-Truth Era ini? Sebenarnya, seluruh lalu lintas informasi di ruang publik, baik dunia nyata dan dunia maya sudah diatur dengan berbagai aturan hukum mengikat.

Tinggal aparat hukum saja yang menilai jenis kejahatan apa yang akan dijerat kepada para pelanggar lalu lintas dunia maya tersebut.

Demoralisasi Negara & Nasib Rakyat Kecil
Jika uraian-uraian tersebut dikaitkan dengan topik bermuatan 'People Power', 'Curang', 'Makar', 'Penghasutan', 'Kawal KPU', yang kini berseliweran di Medsos dan mulai dibumikan dalam aksi jelang tanggal 22 dan 25 Mei 2019 mendatang dibiarkan, tentu akan berpotensi mendemoralisasi dan mendeligitimasi kemampuan negara.

Masyarakat mungkin tidak sadar, bahwa perasaan yang mereka miliki ternyata sengaja diciptakan, direkayasa dan dikelola oleh kelompok provokasi tertentu, yang mengetahui bahwa mesin platform Teknologi Informasi dan Komunikasi yang tanpa perasaan itu, akan mendorong terjadinya kegaduhan, keonaran bahkan mendemoralisasi negaranya sendiri.

Jika aparat negara lalai sedikit saja, maka, kondisi terburuk mampu lolos seperti pikiran Gobbles yang lolos masuk tanpa upaya mengadang.

Disisi lain, jika aparat hukum juga aktif menindak pelanggar lalu lintas dunia maya ini tanpa pandang bulu, maka masyarakat yang tidak melek hukum, akan jadi pelaku sekaligus korban dalam pelanggaran ini.

Akibat ketidakpahaman, bagi rakyat kecil akan terjadi One Click One Suicide usai memencet tombol 'send' di gadgetnya.

Kalimat 'menyesal akibat terlalu emosional' akan muncul saat hukum ditegakkan. Lalu, bagaimana dengan para pelaku intelektual, pengelola konflik dan aktor pencipta narasi yang sengaja ingin membentuk Groupthink ini?

Berfikir Kritis dan Rasional
Selain paparan uraian masalah, literatur hanya memberikan sedikit solusi mengatasi ini. Walau tidak konkrit, namun literatur sangat menyarankan membiasakan berpikir Kritis secara rasional untuk menganalisis memecahkan masalah, menafsirkan dan mengenal Bias dari informasi, dalam menemukan pembuktian sosial (Social Proof).

Selain itu, pemerintah dan DPR harus mengatur ulang regulasi ini agar Gaduh, Onar dan upaya mendeligitimasi dan Demoralisasi Negara dan aksi One Click One Suicide ini dapat teratasi.

Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat serta Public Figure di seluruh penjuru Negara yang setia kepada Pancasila ini, harus kendalikan diri dan saatnya merajut kembali 'benang kusut' ini. Jangan memperkeruh melalui narasi di mesin dengan mengorbankan tiang Bendera.

Masih ada waktu. Ini masalah yang lebih serius yang harus ditangani bersama dibandingkan politik elektoral. Agar cita-cita mulia para Founding Fathers tak luluh oleh pekerjaan Mesin Teknologi yang tanpa perasaan handal mengelola narasi emosional dari pembuat dan akhirnya membuat onar dan kegaduhan. Mari kita sadar dan hentikan provokasi. Viva!

Penulis ada Pemimpin Redaksi Beritariau.com

(Bersertifikat Kompetensi Wartawan Utama dari Dewan Pers)

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :