Si Jantan, Harimau Sumatera Bahagia di Dharmasraya

Beritariau.com, Pekanbaru - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau berhasil menyelamatkan dan mengevakuasi harimau sumatera yang terjebak di kawasan Pasar Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir selama tiga hari terakhir.
Kepala BBKSDA Riau, Suharyono, Senin (19/11/2018) mengatakan si raja rimba bernama latin Panthera tigris sumatrae tersebut berhasil dievakuasi setelah proses pembiusan tahap kedua dilakukan pada Minggu dinihari kemarin.
"Saat ini harimau sumatera sudah berada di kandang evakuasi," kata Haryono.
Proses penangkapan yang telah memakan waktu selama tiga hari sejak Rabu (14/11) itu berhasil dilakukan setelah petugas berhasil membius harimau sumatera dewasa tersebut sekitar pukul 01.48 dinihari.

Pembiusan tahap kedua itu dilakukan saat si kucing besar tersebut tengah terjebak di kolong-kolong gedung rumah toko kawasan Pasar Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.
"Sekitar pukul 01.48 tim BBKSDA Riau berhasil melakukan pembiusan harimau di kolong Ruko Pulau Burung," ujarnya.
Pasca dibius, harimau tersebut selanjutnya tertidur akibat pengaruh obat. Pada waktu bersamaan, tim BBKSDA Riau langsung berupaya membongkar sebagian pondasi lantai Ruko hingga si karnivora atau hewan pemakan daging itu berhasil dievakuasi ke kandang.
Dari pemeriksaan tim medis yang terdiri tiga dokter hewan itu menyatakan bahwa harimau yang terjebak di kawasan pasar tersebut merupakan harimau jantan dengan usia tiga tahun.
Saat ini tim medis masih terus melakukan observasi dan pemeriksaan kesehatan terhadap satwa yang mulai kehilangan habitatnya itu.
Sementara itu, dari pemeriksaan juga terungkap bahwa harimau malang itu mengalami sejumlah luka. Diduga, luka itu akibat jeratan pada beberapa bagian tubuh harimau sumatera jantan yang dalam tiga hari terakhir terjebak di kawasan pasar Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir.
"Ada luka pada bagian kaki kiri depan. Menurut analis tim medis kami, tiga dokter hewan, luka itu karena jeratan," katanya.
Ia menambahkan tim medis juga menemukan luka pada kaki kanan belakang harimau, yang taring dan giginya ada yang retak.
"Saat ini luka-lukanya dalam proses pengobatan," katanya.
Dia menduga taring dan bagian struktur gigi lain harimau jantan berusia tiga tahun itu retak saat berupaya melepaskan diri dari jeratan dengan cara menggigit jerat.
"Kemungkinan karena mengigit jerat," katanya.
Suharyono menjelaskan saat ini timnya masih fokus pada proses evakuasi dan pengobatan satwa malang itu, yang terjebak di kawasan pasar Pulau Burung sejak Rabu (14/11).
Dibawa ke Dharmasraya
Usai ditangkap, petugas selanjutnya mengevakuasi harimau sumatera yang sempat terjebak di kawasan Pasar Pulau Burung, Indragiri Hilir ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera (PRHS) Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat.
PHRS itu merupakan milik yayasan Arsari yang didirikan oleh Djojohadikusumo.
"Kita akan observasi harimau di sana bekerjasama dengan Yayasan Arsari PHRS Dharmasraya," lanjutnya.
harimau jantan di Dharmasraya, Sumbar. (Foto BBKSDA Riau)
Selain alasan geografis dimana lokasi evakuasi harimau sumatera di Kabupaten Indragiri Hilir lebih dekat dengan Provinsi tetangga, Sumatera Barat tersebut, ia mengatakan sejauh ini Provinsi Riau belum memiliki pusat rehabilitas harimau sendiri.
Selama di PHRS, lanjutnya, Tim medis dari BBKSDA Riau dan Yayasan Arsari akan mengobservasi perilaku harimau dewasa jantan berusia 3 tahun itu.
Termasuk mengetahui penyebab harimau itu hingga terjebak di kawasan pasar Pulau Burung.
"Jika nanti observasi dan penanganan rehabilitasi selesai kita akan segera melepasliarkannya," tuturnya.
Lebih jauh, Haryono mengatakan kedatangan harimau jantan yang terjebak di pasar sejak Rabu kemarin (14/11) ke Dharmasraya akan menambah "koleksi" harimau yang ditangkap di Indragiri Hilir di PHRS tersebut.
Sebelum ini, Bonita, harimau betina dewasa berusia empat tahun juga terlebih dahulu berada di lokasi tersebut sejak awal tahun ini.
Bonita sendiri menjadi harimau yang cukup menarik perhatian publik setelah kehilangan arah hingga masuk kawasan pemukiman dan perkebunan sawit di Indragiri Hilir.
Bahkan, Bonita sempat menerkam tiga warga hingga tewas sebelum akhirnya berhasil ditangkap tiga bulan kemudian. Hingga kini, Bonita masih berada di PHRS Dharmasraya dan belum dilepasliarkan.
Sebuah peristiwa langka terjadi saat seekor harimau dewasa tiba-tiba masuk ke kawasan pasar di Indragiri Hilir, Rabu pagi lalu (14/11).
Haryono menduga bahwa harimau tersebut berasal dari kawasan semak belukar yang berlokasi tidak jauh dari pasar itu. Ia menjelaskan tidak jauh dari kawasan pasar terdapat semak belukar seluas empat hektare yang selama ini dikenal sebagai salah satu tempat persembunyian harimau. [ard]

