UAS Beberkan 10 Kunci Mendidik Generasi Islam Tangguh Menuju Indonesia Emas 2045

Beritariau.com, Bengkalis -- Ustaz Abdul Somad (UAS) membeberkan 10 kunci penting dalam mendidik anak agar tumbuh menjadi generasi Islam yang tangguh, beriman, dan berakhlak mulia menuju Indonesia Emas 2045. Pesan tersebut disampaikan dalam Tabligh Akbar yang digelar Pemerintah Kabupaten Bengkalis di Masjid Agung Istiqomah, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan yang diawali dengan salat Zuhur berjemaah itu mengusung tema “Membina Generasi Islam yang Tangguh Menuju Indonesia Emas Tahun 2045”. Ribuan jemaah serta jajaran pemerintah daerah hadir mengikuti tausiah dai nasional yang akrab disapa UAS tersebut.
Bupati Bengkalis Hj. Kasmarni menegaskan, keberhasilan Indonesia pada masa depan tidak cukup hanya ditopang pembangunan fisik dan infrastruktur. Kualitas sumber daya manusia yang berlandaskan iman, ilmu, dan akhlak juga menjadi faktor penentu.
“Infrastruktur yang hebat tanpa manusia yang berakhlak akan kehilangan arah. Kemajuan ekonomi tanpa moral akan kehilangan kendali. Dan kecerdasan tanpa iman dapat kehilangan tujuan,” tegas Kasmarni.
Ia berharap Tabligh Akbar tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, Pemkab Bengkalis berkomitmen menghadirkan lingkungan yang religius dan inspiratif melalui berbagai program penguatan sumber daya manusia serta pembinaan kehidupan keagamaan.
10 Kunci Mendidik Generasi Islam Tangguh
Dalam tausiahnya, UAS menekankan bahwa pembentukan generasi berkualitas harus dimulai dari keluarga. Pendidikan anak tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga menyangkut fondasi tauhid, keteladanan orang tua, lingkungan pendidikan, serta pembiasaan ibadah.
Berikut 10 poin utama yang disampaikan UAS.
1. Memilih pasangan hidup yang baik
UAS mengibaratkan pasangan hidup seperti tanah tempat menanam benih. Tanah yang subur akan menghasilkan tanaman yang baik, sedangkan tanah yang tidak mendukung akan menyulitkan pertumbuhan.
Karena itu, menurutnya, memilih pasangan hidup merupakan bagian penting dalam mempersiapkan generasi masa depan. Pernikahan bukan tentang mencari manusia yang sempurna, melainkan kesiapan untuk saling menerima dan melengkapi kekurangan.
“Jangan mencari kesempurnaan dalam menikah, melainkan bersiaplah untuk saling menutupi kekurangan. Dari sanalah rahmat dan kasih sayang Allah akan turun,” pesan UAS.
2. Mengutamakan agama dan kelembutan dalam memilih suami
UAS mengingatkan pentingnya memilih pasangan yang memiliki pemahaman dan pengamalan agama yang baik serta bertutur kata lembut.
Menurutnya, kesalehan tidak cukup hanya ditunjukkan melalui ibadah ritual. Sikap, perkataan, dan perlakuan terhadap keluarga juga harus mencerminkan akhlak yang baik.
Ia juga mengajak para istri menghadapi persoalan rumah tangga dengan kesabaran dan mengambil pelajaran dari keteguhan Asiyah, istri Firaun.
3. Menjaga proses menuju pernikahan sesuai tuntunan agama
UAS menekankan pentingnya menjaga pergaulan dan proses menuju pernikahan agar tetap sesuai dengan tuntunan Islam.
Ia mengingatkan kalangan remaja agar menghindari hubungan yang dapat menjerumuskan pada perbuatan yang dilarang agama serta mengarahkan hubungan kepada ikatan pernikahan yang sah.
4. Menunaikan aqiqah sebagai bentuk syukur atas kelahiran anak
Aqiqah menjadi salah satu perhatian UAS dalam pendidikan anak sejak dini. Ia menjelaskan bahwa aqiqah lazim dilaksanakan pada hari ketujuh setelah kelahiran, disertai pemberian nama yang baik dan mencukur rambut bayi.
Apabila orang tua belum memiliki kemampuan pada hari ketujuh, UAS menyampaikan bahwa aqiqah dapat dilaksanakan pada kesempatan berikutnya ketika kondisi keuangan memungkinkan.
5. Memulai pendidikan sejak anak dalam kandungan
Menurut UAS, pendidikan anak tidak seharusnya baru dimulai ketika mereka memasuki bangku sekolah. Orang tua perlu mempersiapkan diri sejak masa kehamilan melalui doa, pembiasaan ibadah, dan penciptaan lingkungan keluarga yang baik.
Setelah anak lahir, orang tua juga dianjurkan memperkenalkan nilai-nilai keislaman sejak dini sesuai tuntunan agama.
6. Memilih lembaga pendidikan Islam yang berkualitas
UAS menyarankan orang tua mempertimbangkan pondok pesantren sebagai salah satu pilihan pendidikan anak, terutama bagi keluarga yang membutuhkan dukungan lebih dalam pembinaan ilmu agama dan pembentukan karakter.
Menurutnya, pesantren saat ini telah berkembang dengan berbagai sistem pendidikan yang memadukan pembelajaran Al-Qur'an, kitab kuning, serta penguasaan bahasa asing, termasuk bahasa Arab dan Inggris.
Pendidikan tersebut diharapkan mampu membekali anak dengan pengetahuan agama sekaligus kemampuan menghadapi tantangan zaman.
7. Menjadi teladan bagi anak
UAS mengingatkan bahwa anak lebih mudah belajar melalui contoh nyata daripada sekadar nasihat. Karena itu, orang tua harus terlebih dahulu menunjukkan perilaku yang ingin ditanamkan kepada anak.
Ia mencontohkan, orang tua akan sulit mengajak anak memakmurkan masjid apabila mereka sendiri tidak memberikan teladan dalam menjalankan ibadah.
Keteladanan ayah dan ibu di rumah menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun karakter dan kebiasaan baik anak.
8. Memastikan makanan yang diberikan halal
UAS turut menekankan pentingnya memastikan sumber penghasilan dan makanan keluarga berasal dari jalan yang halal.
Menurutnya, orang tua perlu memperhatikan bukan hanya kecukupan gizi anak, tetapi juga kehalalan makanan yang dikonsumsi. Hal tersebut merupakan bagian dari pendidikan agama dan pembentukan karakter dalam keluarga Muslim.
9. Mendorong pemimpin memperkuat pembinaan agama
UAS menyoroti peran pemimpin daerah dalam menjaga kehidupan keagamaan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan dan pelayanan publik, tetapi juga tanggung jawab dalam mendukung pembinaan moral dan spiritual masyarakat.
Secara khusus, UAS meminta Bupati Bengkalis mempertimbangkan program pelatihan imam dan ustaz dengan mengirimkan perwakilan dari setiap kecamatan.
Program tersebut diharapkan dapat memperkuat peran masjid sebagai pusat pembelajaran agama, meliputi akidah Ahlussunnah wal Jamaah, fikih, dan akhlak.
10. Memperkuat doa melalui salat hajat
Sebagai penutup, UAS mengingatkan bahwa doa merupakan bagian penting dari ikhtiar orang tua dalam mendidik anak. Ia mengajak para orang tua membiasakan salat hajat dan berdoa pada sepertiga malam untuk memohon kesalehan anak, kelapangan rezeki, serta masa depan yang baik.
Menurutnya, pendidikan dan keteladanan harus berjalan beriringan dengan doa agar anak tumbuh menjadi pribadi yang taat kepada Allah SWT dan bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui Tabligh Akbar tersebut, Pemkab Bengkalis berharap penguatan keluarga, pendidikan agama, dan keteladanan dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam menyiapkan generasi Islam yang tangguh menuju Indonesia Emas 2045.
Pesan yang mengemuka dari tausiah UAS adalah bahwa pembangunan masa depan tidak cukup hanya dengan kemajuan fisik dan ekonomi. Generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak juga harus dipersiapkan sejak lingkungan keluarga agar mampu menjadi fondasi bagi kemajuan bangsa. (*)

