Peristiwa Kematian Pria Di Hotel Evo

Di Hadapan DPW NasDem Riau, Lianita Dewan Meranti Ungkap Kronologi Pertemuan Dengan MA

Di Hadapan DPW NasDem Riau, Lianita Dewan Meranti Ungkap Kronologi Pertemuan Dengan MA

PEKANBARU — Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti dari Fraksi Partai NasDem, Lianita, memberikan klarifikasi kepada jajaran DPW NasDem Riau terkait rangkaian peristiwa meninggalnya MA di Hotel EVO Pekanbaru pada 20 Agustus 2026.

Klarifikasi tersebut disampaikan setelah nama Lianita ikut menjadi sorotan karena diketahui berada di Hotel EVO dan sempat berkomunikasi serta bertemu dengan MA sebelum korban ditemukan tidak sadarkan diri dan akhirnya meninggal dunia.

Lianita menyampaikan keterangannya langsung di hadapan jajaran DPW NasDem Riau yang dipimpin Sekretaris H. Yopi Arianto, Ketua Bappilu Dedi Harianto Lubis, serta sejumlah pengurus partai.

Dalam keterangannya, Lianita menegaskan bahwa pertemuannya dengan MA berkaitan dengan komunikasi dan pembahasan kegiatan. Ia juga membantah keras adanya hubungan lain dengan MA sebagaimana tudingan yang beredar di media sosial.

Menurut Lianita, komunikasi dengan MA berkaitan dengan agenda kegiatan yang akan dilaksanakan di Meranti. Ia menyebut pertemuan tersebut tidak berkaitan dengan hubungan pribadi sebagaimana isu yang berkembang.

Rangkaian peristiwa kemudian berlanjut ketika MA ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di kamar 229 Hotel EVO sekitar pukul 04.00 WIB.

Sebelumnya, sekitar pukul 03.45 WIB, seorang teman korban meminta bantuan untuk mengecek kondisi MA. Saksi kemudian datang ke hotel dan bersama petugas resepsionis serta keamanan memeriksa kamar korban.

Saat kamar diperiksa, MA ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri. Korban kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Tabrani untuk mendapatkan pertolongan medis.

Namun, sekitar pukul 04.20 WIB, dokter menyatakan MA telah meninggal dunia. Rangkaian waktu tersebut menjadi bagian penting dalam proses penelusuran peristiwa karena kematian MA kemudian memunculkan berbagai informasi dan tudingan di ruang publik.

Kepolisian sebelumnya menyatakan telah memeriksa sejumlah saksi dan melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban. Pada saat itu, polisi belum menyimpulkan penyebab kematian MA.

Nama Lianita menjadi sorotan karena dirinya diketahui berada di Hotel EVO dan sempat bertemu dengan MA sebelum korban mengalami kondisi kritis.

Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi berbagai tudingan di media sosial. Lianita menilai informasi yang beredar telah berdampak terhadap nama baiknya.

“Nama baik saya tercoreng, maka saya ingin diperbaiki,” ujar Lianita.

Ia meminta informasi mengenai dirinya dilihat berdasarkan fakta dan keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan berdasarkan tudingan yang belum terbukti.

Dalam konteks tersebut, klarifikasi menjadi penting karena perbedaan antara fakta, kesaksian, dugaan dan informasi yang beredar di media sosial dapat memengaruhi persepsi publik terhadap sebuah peristiwa.

Menanggapi klarifikasi Lianita, Sekretaris DPW NasDem Riau H. Yopi Arianto, mengatakan sebelumnya pihaknya telah turun langsung ke Kabupaten Kepulauan Meranti untuk menemui keluarga MA.

Menurut Yopi, kedatangan pengurus partai tersebut diterima oleh pihak keluarga.

“Kita sudah turun ke Meranti, bertemu dengan orang tua yang mendapat musibah. Kehadiran kita diterima oleh keluarga,” kata Yopi.

Yopi juga meminta persoalan yang berkaitan dengan pribadi Lianita tidak dibawa menjadi persoalan partai.

“Kalau ada sekelompok pihak yang tidak suka secara pribadi dengan Lia, jangan bawa-bawa nama partai,” tegas Yopi.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa NasDem Riau memilih memberikan ruang klarifikasi terhadap kadernya sekaligus meminta agar tudingan yang belum terbukti tidak langsung ditarik menjadi kesimpulan terhadap partai.

Kemudian Ketua Bappilu DPW NasDem Riau, Dedi Harianto Lubis, SH, juga mengatakan pihaknya melakukan penelusuran untuk meluruskan informasi yang berkembang di tengah masyarakat.

Dedi menegaskan, langkah tersebut menurutnya bukan untuk membela kader, melainkan memberikan perlindungan terhadap kader dari tudingan yang belum terbukti kebenarannya.

“Sebagai Pengurus Partai, kami bukan membela kader, tapi kami menjaga dari tudingan yang tidak benar. Kami sudah datang ke pihak keluarga pemuda yang meninggal,” katanya.

Dedi juga mengakui MA memang pernah mengikuti sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan Partai NasDem.

“Antara yang meninggal dengan anggota DPRD kita memang sering ikut kegiatan partai. Secara tidak langsung menjadi bagian dengan partai NasDem karena ada hubungan kegiatan,” jelasnya.

Namun, menurut Dedi, keterlibatan MA dalam kegiatan partai tidak dapat dijadikan dasar untuk mengaitkan kematian MA dengan Lianita maupun Partai NasDem.

Ditempat yang sama Ketua DPD NasDem Kepulauan Meranti, Roni Samudra, juga memberikan keterangan mengenai komunikasi antara MA dan Lianita pada malam kejadian.

Menurut Roni, komunikasi tersebut berkaitan dengan agenda kegiatan yang akan dilaksanakan di Meranti.

Kata Romi, Lianita juga menjelaskan bahwa dirinya mengetahui MA sebagai rekan dalam kegiatan. Ia membenarkan adanya pertemuan pada malam kejadian, tetapi menyebut pembicaraan tersebut berkaitan dengan agenda kegiatan.

“Dia  hanya saksi. Waktu malam kejadian ada komunikasi dan saling jumpa karena mau bicarakan event Telaga Air Merah di Meranti. Mereka berempat orang saat bicara. Setelah pembahasan, MA merasa sakit di kamar yang berbeda dengan Lia. Ia tidak tahu apa-apa, lia menegaskan dia  hanya sebagai saksi,” kata Romi 

Ujar Romi keterangan tersebut menjadi bagian dari versi Lianita mengenai rangkaian peristiwa sebelum MA ditemukan tidak sadarkan diri.

Sementara itu, pemberitaan sebelumnya juga memuat versi kuasa hukum Lianita mengenai perjalanan dan keberadaan kliennya di Hotel EVO pada malam kejadian.

Selanjutnya, Kuasa hukum keluarga MA, SSyophiadewi Marissa, S.H  menyampaikan bahwa orang tua almarhum, Sutrisno dan Arlina, telah mengikhlaskan kepergian MA sebagai musibah.

“Kami telah mengikhlaskan. Kami minta pihak kepolisian untuk tidak melanjutkan dan meminta pihak lain tidak lagi membuat pemberitaan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok,” kata Sofia dalam pernyataan yang ia bacakan.

Pernyataan keluarga tersebut menjadi bagian lain dari perkembangan kasus yang sejak awal mendapat perhatian publik.

Di sisi lain, sejumlah pihak di ruang publik masih menyoroti perlunya kejelasan mengenai rangkaian peristiwa yang menyebabkan MA ditemukan tidak sadarkan diri hingga meninggal dunia.

"Kami menegaskan setiap informasi mengenai penyebab kematian MA tetap perlu ditempatkan sesuai kewenangan yang melakukan pemeriksaan dan penyelidikan, bukan menyebarkan isu yang membuat keluarga MA merasa sedih, kami mengecam kepada tindakan pihak yang tidak bertanggung jawab," tegasnya.***red/rfm

Terkait