SMR 2026 di Bengkalis, Sastra Pesisir Jadi Jembatan Tradisi dan Masa Depan

Beritariau.com, Bengkalis -- Festival Sastra Melayu Riau (FSMR) 2026 edisi keempat menghadirkan semangat baru dalam menjaga warisan sastra dan budaya Melayu pesisir. Untuk pertama kalinya, Bengkalis dipercaya menjadi tuan rumah festival yang sebelumnya digelar di Pekanbaru.
Mengusung semangat “Meneroka Sastra Pesisir”, FSMR 2026 digelar sejak 20 Agustus dan menghadirkan berbagai kegiatan yang sarat dengan tradisi Melayu. Mulai dari lomba berzanji, pelatihan syair, hingga lomba berbalas pantun antaran belanja menjadi bagian dari rangkaian festival.
Bengkalis dipilih bukan tanpa alasan. Sebagai daerah yang tumbuh di kawasan pesisir, Kabupaten Bengkalis memiliki kekayaan tradisi lisan serta jejak panjang sastra dan kebudayaan Melayu yang masih hidup di tengah masyarakat.
Ketua Suku Seni Riau, Marhalim Zaini, mengatakan pemilihan Bengkalis diharapkan dapat menghidupkan kembali geliat sastra pesisir sekaligus memberikan ruang yang lebih luas bagi sastrawan dan budayawan daerah.
“Bengkalis adalah negeri pesisir yang kaya akan sastrawan dan budayawan. Kami ingin sastra pesisir kembali bergairah dan mendapat panggung yang layak di tanah kelahirannya sendiri,” ujarnya.
Rangkaian festival kemudian ditutup melalui Seminar Sastra Pesisir yang berlangsung di Lantai 3 Gedung Perpustakaan IAIN Datuk Laksemana Bengkalis, Sabtu (22/8/2026).
Seminar menghadirkan Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi IAIN Datuk Laksemana Bengkalis, Dr. Amrun Jarir, M.Ag., serta sastrawan Riau sekaligus akademisi, Musa Ismail, M.Pd., sebagai narasumber.
Penutupan turut dihadiri Plt Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Kemendikdasmen RI Hidayat Widianto, M.Hum., dan Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau Umi Kulsum, S.S., M.Hum.
Wakil Bupati Bengkalis H. Bagus Santoso mengapresiasi pelaksanaan FSMR 2026. Menurutnya, tema “Meneroka Sastra Pesisir” sangat relevan dengan karakter Bengkalis sebagai daerah yang tumbuh dan berkembang di tepian laut.
“Di sini, sastra bukan sekadar tulisan di atas kertas. Ia mengalir bersama deburan ombak dan diwariskan dari mulut ke mulut di beranda rumah,” kata Bagus.
Ia menilai pelestarian sastra pesisir membutuhkan keterlibatan generasi muda agar warisan budaya tersebut tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Bagus mengajak generasi muda dan para pegiat budaya untuk menggali kembali kekayaan sastra Melayu, mendokumentasikan, mengembangkan, serta mewariskannya kepada generasi berikutnya.
“Jangan biarkan kekayaan sastra pesisir ini hanya tersimpan dalam ingatan orang-orang tua. Angkatlah kembali, pelajarilah, tuliskanlah, dan sampaikanlah kepada anak cucu,” pesannya.
Pemkab Bengkalis pun menyatakan komitmennya untuk mendukung berbagai kegiatan pelestarian budaya. FSMR 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi ruang lahirnya gagasan dan karya baru yang mampu menjaga identitas Melayu sekaligus menjawab tantangan zaman.
Melalui festival ini, sastra pesisir kembali mendapatkan panggung untuk berbicara—tentang sejarah, tradisi, identitas, sekaligus masa depan generasi yang akan meneruskannya. (*)

