Panen 30 Ton Semangka dari Lahan Tidur, Bumkam Kota Ringin Jadi Contoh Ketahanan Pangan Siak

Beritariau.com, Mempura -- Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan kini berubah menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat Kampung Kota Ringin, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Riau.
Melalui pengelolaan Badan Usaha Milik Kampung (Bumkam) Amanah Kota Ringin, lahan pinjam pakai seluas 1,5 hektare berhasil dikembangkan menjadi areal budidaya semangka. Dalam satu siklus tanam, lahan tersebut mampu menghasilkan lebih dari 30 ton semangka.
Keberhasilan itu mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Siak. Bumkam Amanah Kota Ringin kini didorong menjadi salah satu contoh pengembangan program ketahanan pangan berbasis kampung yang dapat diterapkan di wilayah lain.
Wakil Bupati Siak Syamsurizal mengatakan, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa program dan anggaran yang dikelola pemerintah kampung dapat diarahkan untuk kegiatan produktif yang memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat.
Hal itu disampaikannya saat memimpin panen raya semangka di Dusun 1 Sungai Pinang, Kampung Kota Ringin, Jumat (7/8/2026).
"Ini merupakan terobosan terbaik. Pemerintah Kampung dan Badan Usaha Kampung bersama kelompok tani berhasil membuktikan bahwa pertanian bisa mendatangkan keuntungan nyata dan menambah pemasukan masyarakat. Ini patut dicontoh oleh kampung-kampung lain di Kabupaten Siak," kata Syamsurizal.
Program budidaya semangka tersebut dijalankan dengan memanfaatkan modal usaha yang bersumber dari Dana Kampung Kota Ringin. Sementara lahan yang digunakan merupakan lahan pinjam pakai dengan luas sekitar 1,5 hektare.
Dalam satu siklus budidaya yang berlangsung sekitar 90 hingga 100 hari, produksi semangka dapat mencapai lebih dari 30 ton. Pada panen kali ini, produksi diperkirakan berada di kisaran 7 hingga 11 ton dan merupakan bagian dari periode panen kedua.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa lahan yang sebelumnya belum produktif dapat memberikan nilai ekonomi apabila dikelola secara tepat. Selain menghasilkan komoditas pertanian, program tersebut juga membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan usaha dan memperoleh tambahan pendapatan.
Bagi Pemkab Siak, keberhasilan Kota Ringin bukan hanya soal jumlah produksi semangka. Lebih jauh, program tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah kampung, Bumkam, kelompok tani dan penyuluh pertanian dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal.
Syamsurizal meminta agar keberhasilan tersebut tidak berhenti di Kampung Kota Ringin. Ia mendorong kampung-kampung lain di Kabupaten Siak untuk mulai melihat kembali potensi lahan yang selama ini belum dimanfaatkan.
Menurutnya, lahan yang belum produktif dapat dikembangkan menjadi areal pertanian dengan memilih komoditas yang sesuai dengan kondisi tanah sekaligus memiliki peluang pasar.
"Pemerintah daerah akan memberikan peluang besar kepada kelompok tani di seluruh kampung. Kepada DPMK, segera siapkan regulasi agar aset lahan yang belum difungsikan bisa dikelola menjadi lahan pertanian produktif," tegasnya.
Ia mengatakan pengembangan pertanian tidak harus berfokus pada semangka. Kampung dapat memilih berbagai komoditas sesuai karakteristik wilayah dan kebutuhan pasar, mulai dari jagung, sayuran, tanaman umbi-umbian hingga komoditas pertanian lainnya.
Dengan pola tersebut, program ketahanan pangan di tingkat kampung diharapkan tidak hanya berorientasi pada ketersediaan bahan pangan, tetapi juga mampu menciptakan kegiatan ekonomi baru bagi masyarakat.
Dalam pengembangan pertanian, keberadaan penyuluh juga menjadi salah satu faktor penting. Penyuluh pertanian berperan mendampingi kelompok tani mulai dari proses budidaya hingga membantu petani memperoleh informasi mengenai benih, teknologi pertanian dan perkembangan pasar.
Menurut Syamsurizal, penyuluh tidak sekadar bertugas memberikan pendampingan teknis. Mereka juga memiliki peran sebagai edukator, fasilitator, motivator, mediator, inovator, pengawas sekaligus evaluator bagi kelompok tani.
"Dengan penguatan peran penyuluh, kita tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat kelembagaan petani dan pendapatan masyarakat. Inilah kunci mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan di tingkat desa," katanya.
Karena itu, Pemkab Siak ingin model yang diterapkan Bumkam Amanah Kota Ringin dapat menjadi inspirasi bagi kampung lainnya. Pemerintah daerah mendorong agar pemanfaatan lahan tidur dan aset kampung dapat dikembangkan secara terencana dengan melibatkan masyarakat.
Panen raya semangka tersebut turut dihadiri Kepala DPMK Siak, Camat Mempura bersama penghulu dan perangkat kampung, kelompok tani, penyuluh pertanian serta masyarakat Kampung Kota Ringin.
Ke depan, konsep pengembangan usaha pertanian berbasis kampung tersebut ditargetkan dapat diterapkan di wilayah lain hingga menjangkau 14 kecamatan di Kabupaten Siak.
Pemkab Siak berharap pengelolaan lahan secara produktif dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat. Dengan memanfaatkan potensi lahan yang tersedia, kampung tidak hanya dapat menghasilkan pangan, tetapi juga menciptakan lapangan usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Keberhasilan Kampung Kota Ringin menjadi contoh bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari tingkat paling dekat dengan masyarakat. Ketika lahan, anggaran, kelompok tani dan pendampingan dikelola secara bersama, lahan yang sebelumnya tidak menghasilkan dapat berubah menjadi sumber pangan sekaligus sumber ekonomi baru bagi warga. (*)

