Diproyeksikan Jadi Ikon Baru Riau
Flyover Simpang Garuda Sakti Panam Usung Arsitektur Melayu

Visualisasi desain arsitektur rencana pembangunan flyover Simpang Panam, Pekanbaru (Sumber: Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Riau)
Beritariau.com, Pekanbaru -- Rencana pembangunan Flyover Simpang Garuda Sakti Panam di Kota Pekanbaru tidak hanya mengedepankan fungsi sebagai solusi kemacetan, tetapi juga mengusung konsep arsitektur bernuansa Melayu yang diharapkan menjadi ikon baru Provinsi Riau.
Desain visual flyover tersebut dipaparkan Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Riau, Yohanis Tulak Todingrara, di hadapan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto beserta jajaran Pemerintah Provinsi Riau dan instansi terkait.
Flyover yang direncanakan mulai memasuki tahap konstruksi pada 2027 itu akan dibangun di simpang Jalan HR Soebrantas–Jalan Garuda Sakti, salah satu titik dengan tingkat kepadatan lalu lintas tertinggi di wilayah barat Kota Pekanbaru.
Kehadiran flyover ini akan melengkapi empat jembatan layang yang telah lebih dahulu beroperasi di Pekanbaru, yakni Flyover Sudirman–Tuanku Tambusai, Sudirman–Imam Munandar, Soekarno Hatta–Tuanku Tambusai, dan Soekarno Hatta–HR Soebrantas.
Kepala BPJN Riau, Yohanis Tulak Todingrara, mengatakan pembangunan flyover bertujuan meningkatkan kelancaran arus kendaraan sekaligus mengurangi kemacetan yang selama ini terjadi di kawasan Panam.
"Flyover ini difungsikan agar arus lalu lintas lebih lancar sekaligus mengurai titik kemacetan kendaraan," ujarnya.
Berdasarkan rancangan yang dipaparkan, struktur flyover akan membentang lurus di atas Jalan HR Soebrantas menuju arah perbatasan Pekanbaru–Kampar. Seluruh pembangunan fisiknya direncanakan menggunakan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Secara teknis, proyek tersebut memiliki panjang penanganan sekitar 644 meter dengan lebar kawasan mencapai 40 meter, sesuai Surat Penetapan Lokasi (Penlok) Pemerintah Provinsi Riau. Dimensi tersebut dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan lalu lintas saat ini maupun perkembangan kawasan pada masa mendatang.
Selain aspek teknis, BPJN Riau juga memberikan perhatian pada nilai estetika. Flyover akan dihiasi berbagai ornamen khas Melayu sebagai identitas budaya lokal yang memperkuat karakter infrastruktur tersebut.
Yohanis berharap perancangannya turut melibatkan para budayawan dan pemangku kepentingan di bidang kebudayaan agar ornamen yang diterapkan benar-benar merepresentasikan kekayaan budaya Melayu Riau.
"Kami berharap pihak kebudayaan dapat memberikan masukan terkait ornamen Melayu yang akan diterapkan sehingga flyover ini tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur transportasi, tetapi juga menjadi ikon strategis dan kebanggaan masyarakat Riau," katanya.
Dengan menggabungkan fungsi transportasi dan nilai budaya, Flyover Simpang Garuda Sakti Panam diharapkan menjadi salah satu landmark baru yang mencerminkan identitas Melayu sekaligus mendukung kelancaran mobilitas di Kota Pekanbaru. (*)

