Konflik Berlanjut, Polisi dan Wartawan di Riau Saling lapor

Beritariau.com, Pekanbaru - Kasus dugaan pengeroyokan terhadap wartawan yang meliput Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Pekanbaru, Zuhdy Febrianto, akhir tahun 2015 lalu ternyata masih berbuntut panjang. Kedua belah pihak, yakni polisi dan wartawan saling melaporkan satu sama lain.
"Baik laporan dugaan penganiayaan yang dialami ZF, maupun laporan anggota (polisi) yang mengaku dicaci maki, itu masih kita selidiki," ujar Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo Sik, Rabu (11/5/2016).
Dari pihak wartawan, Zuhdy mengaku dipukuli oleh anggota kepolisian saat melakukan liputan Kongres HMI di Gelanggang Remaja Pekanbaru. Dalam laporannya, saat itu Zuhdy yang disebut sebut juga anggota HMI itu mengambil gambar salah seorang peserta HMI yang diduga dipukuli polisi.
Tidak terima, beberapa polisi merampas kamera wartawan, sehingga para kuli tinta itu protes dan meminta agar polisi tidak menghapus gambarnya.
Sejurus kemudian, terjadi cekcok adu mulut sehingga terjadi aksi penyerangan oleh polisi dan berakibat fatal terhadap Zuhdy. Seketika itu belasan polisi memukul Zuhdy dengan rotan hingga kepala bagian belakangnya bocor. Korban akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Safira Pekanbaru.
Sementara itu, pihak polisi juga melaporkan balik para wartawan yang saat itu dinilai melecehkan petugas. Mereka mengaku, wartawan juga mencaci-maki polisi dengan menyebut nama hewan.
"Jadi bukan tanpa sebab, para polisi yang dilaporkan telah menganiaya Zuhdy itu mengaku emosi karena institusinya dilecehkan. Polisi mendengar. Zuhdy mengucap kata kotor terhadap Polisi dengan menyebutkan nama hewan. Ya, informasinya begitu (polisi dicaci maki). Itu masih kita dalam," jelas Guntur. [pan]

