Sejak Januari hingga Maret 2016

Miris! Di provinsi Riau nan kaya ini, ratusan Guru tak gajian, bahkan Guru suku Talang Mamak

Miris! Di provinsi Riau nan kaya ini, ratusan Guru tak gajian, bahkan Guru suku Talang Mamak

ilustrasi

Beritariau.com, Inhu - Kondisi memprihatinkan dialami sebanyak 432 Guru Bantu Daerah (GBD) Propinsi Riau yang bertugas di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Hingga pertengahan bulan Maret di tahun 2016 ini, mereka belum menerima gaji. Mirisnya, para pahlawan tanpa tanda jasa itu belum mengetahui berapa jumlah gaji mereka hingga saat ini.

"Iya, sejak Januari hingga pertengahan bulan Maret ini gaji GBD Provinsi belum dibayarkan, para guru sangat membutuhkan terlebih lagi guru bantu yang bertugas di daerah sulit dan terpencil," ujar Ketua Forum GBD Provinsi Riau di Kabupaten Inhu, R Muhammad Ali Nafiah SPd, Selasa (15/03/16).

Meski demikian, para guru mengakali hidup agar kebutuhan rumah tangganya sehari-hari bisa terpenuhi, sambil berharap keluarnya hak mereka selama mengajar anak didik.

"Tidak sedikit guru bantu mencari kerja sampingan setelah mengajar di sekolah, seperti menumpang jualan air galon, kerja bangunan, dan ada yang bercocok tanam," kata Ali.

Dikisahkannya, salah seorang guru bantu Provinsi Riau Mulyadi, yang bertugas di daerah sulit Dusun Sadan Kecamatan Batang Gansal kabupaten Inhu misalnya. Dia membanting tulang dengan mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

"Sebagai kepala keluarga, setiap hari libur Mulyadi keluar dari dalam hutan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT), tempatnya mengajar anak - anak suku Talang Mamak," ucap Ali.

Suku Talang Mamak ini merupakan penduduk asli kabupaten Inhu yang hidupnya belum tersentuh modernisasi dari pemerintah.

Jangankan berharap mendapatkan pendidikan yang sama dengan para pelajar pada umumnya seperti kecanggihan teknologi, di lokasi pedalaman Suku Talang Mamak ini belum dialiri listrik dari pemerintah. Meski demikian, Mulyadi tetap semangat mengajar para anak suku Talang Mamak itu dengan ikhlas meski tanpa diberi upah.

Jika hari libur, Mulyadi meninggalkan hutan tempatnya mengajar itu untuk pulang ke rumahnya. Mulyadi pulang untuk melihat anak istrinya di Desa Sibabat Kecamatan Seberida kabupaten Inhu, sekaligus bekerja mencari upahan menderes kebun karet milik orang lain.

"Dengan menderes kebun karet milik warga lain itulah, Mulyadi berusaha mememnuhi kebutuhan hidup keluarganya," ujar Ali.

Selain guru bantu Provinsi, hal yang sama juga dialami guru bantu daerah Kabupaten. Sebanyak 236 guru bantu daerah Kabupaten Inhu juga belum menerima gaji sejak bulan Januari 2016. [red]‎