WALHI Riau Sebut Pemko dan DPRD Pekanbaru Belum Efisien Tangani Sampah

Beritariau.com, Pekanbaru - Yayasan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau menggelar diskusi terbuka membahas persoalan sampah yang terjadi di Kota Pekanbaru saat ini. 

Dalam diskusi tersebut, Walhi Riau menghadirkan Peneliti ICEL, Fajri Fadhila dan Duta Lingkungan Pekanbaru 2019, Hananni serta Ahlul Fadli dari Wahli Riau sebagai pembicara dalam diskusi yang diselenggarakan di rumah gerakan rakyat Walhi Riau Jalan. Belimbing Gg. Anggur II Pekanbaru. Kamis, (24/11/2022).

Ahlul Fadli dalam diskusi tersebut mengatakan, bahwa Pemerintah kota (Pemko) Pekanbaru terlalu banyak pencitraan tanpa ada tindakan nyata untuk menyelesaikan persoalan sampah yang ada di kota Pekanbaru saat ini. 

"Pj Walikota, Muflihun terlalu banyak pencitraan. Ini terlihat saat beliau menelepon Kadis DLHK terkait tumpukan sampah di Jalan."

"Selanjutnya, beberapa waktu yang lalu di Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru masyarakat memenangkan gugatan terkait penanganan sampah yang terjadi saat ini dengan putusan Pemko harus menyelesaikan persoalan sampah saat ini.   Namun, sangat disayangkan, Pemko Pekanbaru maupun DPRD selagi pengawas tidak bertindak dan menghargai putusan tersebut," sambungnya.

Ada beberapa poin yang harus dibenahi Pemko maupun DPRD Pekanbaru diantaranya, menerbitkan peraturan kepala daerah tentang pembatasan penggunaan sampah sekali pakai. Kemudian, mengeluarkan kebijakan bersifat mengatur dan melakukan tindakan terkait penanganan sampah. Selanjutnya, melakukan kewajiban pengawasan Pengelolaan sampah yang dilakukan oleh Pemerintah kota Pekanbaru secara maksimal, dan yang terakhir Mengalokasikan APBD kota Pekanbaru untuk Pengelolaan sampah. 

"Putusan ini harus digunakan. Jangan, anggaran yang mencapai 40 Miliar rupiah yang dimenangkan oleh rekanan. Kemudian, Pemko dalam hal ini Kadis DLHK Pekanbaru mengabaikan tupoksinya. Kemudian, DPRD seharusnya mengawasi dan menegur Kadis DLHK Pekanbaru ini. Karena,  hampir 6 (enam) kali dipanggil ke DPRD Pekanbaru, Kadis DLHK tidak pernah hadir. Kalau seperti ini terus kapan persoalan sampah ini terselesaikan dan masyarakat dapat menikmati keasrian dan keindahan lingkungan," kata Ahlul.

Tim Walhi sudah melakukan investigasi, dan hasil dari Investigasi tersebut ada sekitar 160 TPS (Tempat Pembuangan Sampah) yang tersebar di Pekanbaru, dan 2 TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Muara Fajar. Dimana, dari hasil Investigasi tersebut, banyak TPS yang tidak layak dan mengeluarkan aroma yang tidak bagus untuk kesehatan.

"TPS di Payung Sekaki misalnya, tuh tidak layak. Karena, aroma dan limbah dari sampah tersebut tercecer dijalan. Begitu juga hal nya dengan TPA yang di Muara Fajar banyak masyarakat disana mengalami iritasi kulit terkait limbah cairan dari tumpukan sampah. Seharusnya, ini menjadi perhatian serius bagi Pemerintah kita dan juga Anggota DPRD untuk mencari solusi dan jalan terkait sampah hari ini. Jangan, anggaran yang begitu besar proses nya hanya angkat,angkut,buang tanpa memikirkan dampak yang buruk bagi kesehatan masyarakat," ungkapnya.

Di Akhir diskusi, Ahlul menegaskan untuk Jangan Menyerah karena sampah ini merupakan Pekerjaan kita semua. Dan untuk menjadikan lingkungan yang asri dan indah, sampah tersebut harus dimulai kesadaran dari diri sendiri terlebih dahulu.

Ditempat yang sama, Peneliti ICEL, Fajri Fadhila mengatakan, bahwa Pemerintah harus bekerja ekstra dan jangan hanya heboh diawal saja. 

"Pemerintah mempunyai kekuasaan. Misalnya, program bank sampah yang sempat heboh. Tapi, saat ini tidak ada sama sekali kabar, malah setiap hujan turun sampai pasti berserakan di jalan maupun di sungai," kata Fajri.

Ada salah satu aktivis sampah mengatakan, bahwa untuk menjadikan lingkungan yang asri dan indah harus dimulai dari diri sendir. Akan tetapi, untuk teknis dan kenyataan yang diterapkan oleh Pemerintah lamban sehingga sering terjadi tumpukan-tumpukan yang sangat banyak.

"Hidupkan lagi bank sampah dan mari bersama-sama menyelesaikan persoalan sampah saat ini," singkatnya.

Kemudian, Duta Lingkungan Pekanbaru  2019, Hannani mengatakan, bahwa untuk meminimalisir dan menghindari persoalan sampah saat ini harus dimulai dari diri sendiri dulu dan menanamkan niat.

"Saya sampai hari ini selalu memilah sama organik dan non organik seperti plastik dan sampah rumah tangga. Dan keuntungannya, sampah yang dipilah bisa kita jual lagi," sampaikan Hannani.

Saat ini mari menjaga lingkungan, kenapa harus menjaga lingkungan, untuk kelanjutan pertumbuhan ekosistem anak dan cucu di kemudian hari, agar bisa menikmati keindahan dan keasrian lingkungan. tambahnya.

"Oleh karena itu mari bentuk kesadaran dan niat untuk menjaga lingkungan bebas dari sampah. Hal itu dapat terwujud mulai dari diri sendiri, lingkungan dan masyarakat luas asal ada kesadaran akan dampak sampah saat ini." (*)