Menuju Three Zero 2030, Wabup Rohil Tegaskan Penguatan Layanan dan Pendampingan ODHIV

Menuju Three Zero 2030, Wabup Rohil Tegaskan Penguatan Layanan dan Pendampingan ODHIV

Beritariau.com, Bagansiapiapi -- Wakil Bupati Rokan Hilir (Rohil), Jhony Charles, menegaskan pentingnya penguatan layanan kesehatan dan pendampingan bagi orang dengan HIV (ODHIV) sebagai bagian dari upaya mengejar target Three Zero HIV/AIDS pada 2030.

Hal itu disampaikan Jhony Charles saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Rohil di Aula Lantai 4 Kantor Bupati Rohil, Rabu (7/10/2026).

Rakor mengusung tema “Penguatan Layanan dan Pendampingan ODHIV Menuju Three Zero di Rokan Hilir”. Kegiatan tersebut diikuti jajaran Dinas Kesehatan, Forkopimda, pengurus KPA Rohil, pimpinan instansi vertikal, kepala OPD, camat, kepala puskesmas se-Rohil, organisasi masyarakat serta sejumlah mitra yang peduli terhadap penanggulangan HIV/AIDS.

Dalam arahannya, Jhony Charles mengatakan target Three Zero merupakan komitmen global dan nasional yang harus diterjemahkan melalui langkah nyata di daerah.

Target tersebut mencakup Zero New HIV Infections, yakni menekan hingga tidak ada penularan HIV baru; Zero AIDS-Related Deaths, atau tidak ada kematian akibat AIDS; serta Zero Discrimination, yaitu menghapus stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV.

"Komitmen global dan nasional telah menetapkan target capaian Three Zero pada tahun 2030. Target tersebut meliputi Zero New HIV Infections, Zero AIDS-Related Deaths, dan Zero Discrimination," ujar Jhony Charles.

Menurutnya, target tersebut tidak mungkin dicapai hanya oleh pemerintah atau sektor kesehatan. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan fasilitas kesehatan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat serta seluruh elemen masyarakat.

Ia menilai penguatan akses dan kualitas layanan kesehatan harus menjadi perhatian utama. ODHIV harus memperoleh layanan secara berkelanjutan, mulai dari deteksi dini, pengobatan hingga dukungan psikososial.

"Fokus utama kita saat ini adalah memperkuat akses serta mutu layanan kesehatan. Kita harus memastikan saudara-saudara kita yang hidup dengan HIV mendapatkan hak kesehatan secara optimal, mulai dari deteksi dini, keberlanjutan obat Antiretroviral (ARV), hingga pendampingan psikososial yang humanis," tegasnya.

Jhony juga meminta Dinas Kesehatan, kepala puskesmas dan pengurus KPA melakukan pemetaan ulang terhadap berbagai persoalan yang masih ditemukan di lapangan.

Pemetaan tersebut dinilai penting agar pemerintah daerah dapat menyusun langkah penanganan yang lebih konkret, tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi masyarakat di masing-masing wilayah.

Selain layanan kesehatan, ia menekankan pentingnya edukasi publik. Menurutnya, pemahaman masyarakat mengenai HIV/AIDS harus terus diperkuat agar pencegahan dapat dilakukan sejak dini sekaligus menghilangkan stigma terhadap ODHIV.

"ODHIV adalah bagian dari masyarakat kita yang membutuhkan dukungan, bukan pengucilan," katanya.

Usai membuka rakor, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan kondisi terkini penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Rohil oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Rohil.

Pemaparan tersebut menjadi bahan utama dalam pembahasan rakor untuk memetakan tantangan di lapangan sekaligus menyusun strategi penguatan layanan dan pendampingan ODHIV menuju target Three Zero 2030. (*)