Jala Pertama Langsung Dapat Baung! Bupati Kampar Buka Tradisi Mancokau Ikan di Tanjung Belit

Jala Pertama Langsung Dapat Baung! Bupati Kampar Buka Tradisi Mancokau Ikan di Tanjung Belit

Beritariau.com, Tanjung Belit -- Tradisi Mancokau Ikan di Lubuk Larangan Sungai Subayang, Desa Tanjung Belit, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, berlangsung meriah dan penuh kebersamaan, Sabtu (5/9/2026).

Tradisi turun-temurun yang menjadi bentuk kearifan lokal masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya perikanan itu secara resmi dibuka Bupati Kampar Ahmad Yuzar melalui campakan jala pertama bersama Ninik Mamak Kenegerian Tanjung Belit.

Menariknya, jala perdana yang dilempar Bupati Ahmad Yuzar langsung membuahkan hasil. Seekor ikan baung berhasil ditangkap, menjadi tanda dimulainya panen ikan di Lubuk Larangan setelah kawasan sungai tersebut dijaga masyarakat selama satu tahun.

Jala Perdana Langsung Berbuah Hasil

Campakan jala diawali Ninik Mamak Kenegerian Tanjung Belit, di antaranya Datuok Godang Refri Zarman, Dt. Dubalang Setio dan Dt. Singo (Ujang).

Setelah itu, Bupati Kampar Ahmad Yuzar bersama Sekda Kampar Dr. Ardi Mardiansyah, S.STP., M.Si., Kepala Dinas Perikanan Zulfahmi serta Ketua Baznas Kampar Arizon, SE, turut menaiki sampan piaw dan turun langsung ke Sungai Subayang untuk melakukan campakan jala perdana.

Hasilnya cukup menggembirakan. Jala pertama yang ditebar Bupati langsung mendapatkan ikan baung.

“Alhamdulillah, tangkapan pertama ini mendapatkan ikan baung,” ujar Bupati Kampar Ahmad Yuzar penuh syukur.

Bagi masyarakat Tanjung Belit, momen tersebut bukan sekadar menangkap ikan. Panen di Lubuk Larangan merupakan hasil dari kesepakatan bersama untuk tidak mengambil ikan selama satu tahun agar populasi ikan tetap terjaga.

Setahun Dijaga, Kini Dipanen Bersama

Ahmad Yuzar menyebut tradisi Mancokau Ikan di Lubuk Larangan Tanjung Belit merupakan kegiatan luar biasa karena memperlihatkan hubungan harmonis antara masyarakat, adat dan alam.

“Kegiatan ini sungguh luar biasa. Kita beradaptasi langsung, menyatu dan bersahabat dengan alam,” kata Ahmad Yuzar usai turun langsung ke Sungai Subayang.

Menurutnya, hasil tangkapan yang diperoleh masyarakat menjadi bukti bahwa alam akan memberikan manfaat apabila dijaga dan dilestarikan dengan baik.

“ Kepedulian kita semua untuk menjaga alam sangat penting. Selama satu tahun kita tidak menangkap ikan. Setelah sampai masanya, ikan baru kita tangkap dan panen bersama-sama,” jelasnya.

Bupati Kampar juga memberikan apresiasi kepada Ninik Mamak, tokoh masyarakat dan seluruh warga Tanjung Belit yang konsisten menjaga kawasan Lubuk Larangan.

Menurutnya, kearifan lokal tersebut layak dipertahankan karena bukan hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga membantu menjaga ekosistem sungai dan keberlangsungan sumber daya ikan.

Tradisi Adat yang Harus Diwariskan

Ahmad Yuzar mengajak masyarakat untuk terus mempertahankan tradisi Mancokau Ikan dan mewariskan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya kepada generasi muda.

“Mari kita lestarikan dan kita lanjutkan untuk generasi mendatang,” pungkasnya.

Usai campakan jala perdana, Bupati Kampar juga mengikuti proses penangkapan ikan menggunakan pukat. Ia bahkan kembali turun ke sungai dan berbaur bersama masyarakat dalam suasana penuh gotong royong.

Tradisi Mancokau Ikan di Lubuk Larangan Tanjung Belit pun menjadi gambaran nyata bahwa menjaga alam secara bersama-sama dapat memberikan manfaat kembali bagi masyarakat.

Di balik tradisi tersebut terdapat nilai adat, gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan yang menjadi kekuatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam di Kabupaten Kampar. (*)