Sejarawan Kesal, Pemerintah Tak Peduli
Hotel Furaya Pekanbaru Dulunya Stasiun Pelabuhan
Ilustrasi | Beritariau.com 2014
Beritariau.com, Pekanbaru - Sejarawan Riau, Prof Suhardi sangat menyayangkan belum diregistrasinya sejumlah peninggalan sejarah di Pekanbaru. Selain berpotensi terancam pupus, Ia juga mengungkapkan sejumlah peninggalan bersejarah yang telah hilang.
"Makam Panjang di Jondul yang hilang. Bahkan sudah jadi perumahan," ujarnya dengan nada kesal, Jumat (12/9/14).
Diungkapkannya, Mesjid Menara Condong yang Mihrabnya (istilah bagian bangunan, red) menghadap ke barat sudah hilang. Mesjid itu dulunya ada di Kecamatan Sail, menurutnya sekarang sudah berganti dengan bangunan sekolah menengah.
Suhardi juga bercerita tentang keberadaan kereta api di Pekanbaru. Konon, kereta api ini membawa batu bara dari Sawah Lunto melalui Pekanbaru untuk dijual ke Singapura.
Jalur lokomotif, lanjutnya bercerita, di Pekanbaru ada di dalam rumah orang sekarang. Ada yang mengaku kepadanya sudah digali. Tapi dia yakin masih ada keberadaan jalur yang bersejarah itu.
"Di kawasan Pelita Pantai. Pelabuhannya ada di pelabuhan Pelita Pantai untuk mengangkut Batubara ke Singapura. Nah, stasiunnya dulu ada di Hotel Furaya," ungkapnya melengkapi cerita hilangnya peninggalan bersejarah di Pekanbaru.
Sementara itu, Guru Besar Sejarah di Universitas Riau (UR) ini juga sangat menyayangkan simbol sejarah perjuangan Rakyat Riau seperti Tugu Bendera dan Kereta Api sebenarnya sudah dimasukkan sebagai benda bersejarah. Karena itu, dia berharap harus segera diregister.
"Kalau belum diregister, orang dengan mudah membongkar. Kalau dibongkar, hilanglah sudah nilai kepurbakalaannya. Artinya, kita hanya baru saja mau memulai. Orang lain sudah sampai ke UNESCO, sementara kita ke departemen aja kurang," ujarnya sambil berkeluh.
Terakhir, Sejarawan ini berpesan agar dinas terkait harus segera meng-inventarisir dan me-register ke pusat.
"Kita harap dinas terkait dapat meng-inventarisir dan me-register ke pihak nasional. Kalau perlu ke UNESCO. Dampaknya bagi generasi muda kedepan mereka tak lagi memiliki nilai luhur yang dibuktikan dengan benda-benda itu," tutupnya. [mar]
"Makam Panjang di Jondul yang hilang. Bahkan sudah jadi perumahan," ujarnya dengan nada kesal, Jumat (12/9/14).
Diungkapkannya, Mesjid Menara Condong yang Mihrabnya (istilah bagian bangunan, red) menghadap ke barat sudah hilang. Mesjid itu dulunya ada di Kecamatan Sail, menurutnya sekarang sudah berganti dengan bangunan sekolah menengah.
Suhardi juga bercerita tentang keberadaan kereta api di Pekanbaru. Konon, kereta api ini membawa batu bara dari Sawah Lunto melalui Pekanbaru untuk dijual ke Singapura.
Jalur lokomotif, lanjutnya bercerita, di Pekanbaru ada di dalam rumah orang sekarang. Ada yang mengaku kepadanya sudah digali. Tapi dia yakin masih ada keberadaan jalur yang bersejarah itu.
"Di kawasan Pelita Pantai. Pelabuhannya ada di pelabuhan Pelita Pantai untuk mengangkut Batubara ke Singapura. Nah, stasiunnya dulu ada di Hotel Furaya," ungkapnya melengkapi cerita hilangnya peninggalan bersejarah di Pekanbaru.
Sementara itu, Guru Besar Sejarah di Universitas Riau (UR) ini juga sangat menyayangkan simbol sejarah perjuangan Rakyat Riau seperti Tugu Bendera dan Kereta Api sebenarnya sudah dimasukkan sebagai benda bersejarah. Karena itu, dia berharap harus segera diregister.
"Kalau belum diregister, orang dengan mudah membongkar. Kalau dibongkar, hilanglah sudah nilai kepurbakalaannya. Artinya, kita hanya baru saja mau memulai. Orang lain sudah sampai ke UNESCO, sementara kita ke departemen aja kurang," ujarnya sambil berkeluh.
Terakhir, Sejarawan ini berpesan agar dinas terkait harus segera meng-inventarisir dan me-register ke pusat.
"Kita harap dinas terkait dapat meng-inventarisir dan me-register ke pihak nasional. Kalau perlu ke UNESCO. Dampaknya bagi generasi muda kedepan mereka tak lagi memiliki nilai luhur yang dibuktikan dengan benda-benda itu," tutupnya. [mar]

