Petani Bagan Minta Pemerintah Buatkan Patokan Standar Harga TBS

Ilustrasi | Beritariau.com 2015
Beritariau.com, Bagan Batu - Di tengah harga-harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi, warga Bagan Batu yang umumnya bergantung dari hasil kelapa sawit semakin resah. Pasalnya, harga komoditas ini tidak stabil. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat minta pemerintah segera turun tangan dalam hal kebijakan harga TBS (Tandan Buah Segar).
"Kemarin-kemarin sempat senang juga karena harga naik, walaupun cuma Rp 1.330 per kilonya. Tapi ini udah turun 40 rupiah lagi perkilo, apa nggak kecewa kami ini," keluh Kodir, petani kebun sawit dari Bagan Batu, Jumat (4/6/15).
Akan lain jika pemerintah bisa terlibat langsung dalam penentuan patokan harga kelapa sawit, karena bisa menjaga kestabilan harga. Saat ini para petani sangat tergantung dengan keputusan harga dari pihak perusahaan, tanpa punya daya tawar yang tinggi.
Hal yang senada juga dilontarkan oleh warga lainnya, Baharuddin. Ia juga minta kepada pemerintah untuk serius dalam menangani permasalahan harga jual sawit.
"Pemerintah sebagai pelindung masyarakat hendaknya bisa membuat peraturan yang bermuara kepada kepentingan rakyat banyak. Jangan hanya membiarkan segelintir orang yang mengambil keuntungan dari para petani kecil seperti kami ini, harus adil dan bijaksanalah pemerintah kita ini," harap Baharuddin.
Sementara itu, salah seorang pengelola Ramp (penampungan, red) kelapa sawit di Simpang Martabak Bagan Batu, Saiman, mengutarakan keprihatinannya atas turun naiknya harga kelapa sawit.
"Kalau sudah begini, kasihan para petani, apalagi yang punya lahan cuma 2 hektar, katakanlah 4 hektar, ya nggak cukuplah hasilnya dibagi. Apalagi yang sudah terlanjur ada hutang di bank atau kredit sepeda motor dan lainnya.
Seandainya pemerintah membuat kebijakan tentang standar harga, kami sebagai pelaku usaha, kami pasti setuju, karena kami rakyat juga yang harus tunduk terhadap segala bentuk aturan yang berlaku," pungkasnya. [bim]

