SP3 kasus Eva, Kapolda dituding terima suap ratusan milyar

Ilustrasi | Beritariau.com 2014
Beritariau.com, Pekanbaru - Sekitar 10 orang mahasiswa yang menamakan diri Himpunan Mahasiswa Ocu Kampar (HMOK-Pekanbaru), berunjukrasa didepan gerbang Mako Polda Riau, Selasa (30/12/14). Mereka menuntut kejelasan kasus dugaan penganiayaan terhadap Nur Asmi yang diduga dilakukan oleh anggota DPRD Riau Eva Yuliana yang istri Bupati Kampar Jefry Noer.
Dengan membawa spanduk yang bertuliskan "Catatan akhir tahun Kapolda Riau dan Kajati Riau 'Gatal' (gagal total)," mahasiswa memulai aksi dengan longmarch dari jalan Cut Nyak Din menuju depan gerbang Mapolda Riau.
Para mahasiswa menuding Kapolda Riau Brigjend Pol Dolly Bambang Hermawan menerima suap, dan menyampaikan 6 tuntutan terkait mandegnya beberapa kasus besar.
Mahasiswa meminta agar Polda Riau menangkap Eva Yuliana dan ajudannya yang sudah menjadi tersangka kasus penganiayaan Nurasmi. Berikutnya mendesak Jefri Noer segera mundur sebagai Bupati Kampar.
Mahasiswa juga meminta KPK untuk menuntaskan kasus korupsi Bupati Kampar. Kemudian meminta Kejati Riau memeriksa dan menangkap Bupati Kampar, istri dan anaknya yang dinilai menghabiskan APBD untuk jalan-jalan keluar negeri, serta meminta agar Kapolda Riau, untuk mundur dari jabatannya.
"Kapolda Riau telah menerima uang suap ratusan Miliar, sehingga kasus demi kasus dihilangkan. Pak Dolly Bambang Hermawan ada kepentingan disini, khususnya terkait kasus Eva Yuliana istri Bupati Kampar," teriak Rahmat sebagai Koordinator demo.
Menurutnya, Eva Yuliana sudah jelas-jelas melanggar hukum, sesuai Peraturan Presiden No 65 tahun 2005 tentang Komnas Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, serta UU No 26 tahun 2006 tentang pengadilan hak azasi manusia dan KUHP Pasal 351 dan pasal 170 tentang penganiayaan.
"Pak Kapolda, turun kesini, atau siapa saja perwakilan kepolisian, mari dialog dengan kami. Keluar Kapolda, atau kami yang menerobos masuk," ancam Rahmat.
Beberapa menit menyampaikan orasi, mahasiswa selanjutnya bergeser ke kantor Kejati Riau yang letaknya tak begitu jauh dari Mapolda Riau.
"Jika Kapolda masih menghindari kami, kami akan turunkan masa lebih besar dari sekarang," kata Rahmat sambil berjalan bersama temannya menuju Kejati Riau. [Pan]

