Chevron Nyatakan demo Warga di Duri menuntut Para Rekanan

Ilustrasi | Beritariau.com 2014

Beritariau.com, Pekanbaru - Terkait aksi massa yang dilakukan Komite Reformasi Perjuangan Hak Putra Melayu Riau (KRPHPMR) yang menyandera sejumlah kendaraan operasional perusahaan di pintu masuk area NDD (North Duri Development) PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), Senin (24/11/14) pagi, Manager Communication PT CPI Tiva Permata membantah aksi itu dialamatkan ke pihaknya.

"Mereka (pendemo) menuntut agar perusahaan mitra kerja (rekanan) Chevron mempekerjakan tenaga kerja lokal khususnya warga Melayu," kata Tiva Permata melalui pesan singkatnya kepada Beritariau.com, Senin (24/11/14) malam.

Dikatakan Tiva, pihaknya menghormati adanya penyampaian pendapat yang dilakukan warga. Namun, Chevron juga menghormati hak setiap mitra kerja (rekanan) untuk mengelola usahanya, termasuk soal penerimaan tenaga kerjanya.

"Kami mewajibkan mitra kerja untuk mematuhi setiap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan senantiasa menghimbau untuk mengutamakan tenaga kerja tempatan," katanya.

Terkait masalah yang dituntut, pihaknya menyerahkan penyelesaian dilakukan oleh kedua belah pihak, yakni warga dan rekanan.

Seperti diberitakan sebelumnya, sedikitnya 500an (versi Chevron sekitar 100 orang) massa menamakan diri Komite Reformasi Perjuangan Hak Putra Melayu Riau (KRPHPMR), menghadang dan menahan mobil kontraktor PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) di Duri, Kabupaten Bengkalis.

Unjuk rasa itu, terkait tak adanya perekrutan warga tempatan sebagai tenaga kerja di perusahaan minyak itu, Senin (24/11/14). [Baca : Dinilai Tak Berkontribusi, Warga Duri Sandera 200 mobil Chevron]

Sekretaris Umum KRPHPMR, Ali Mujahidin mengatakan, ada sekitar 200 unit mobil kontraktor CPI yang mereka tahan (versi Chevron sekitar 100 mobil).

"Tak akan kami lepas sebelum pihak CPI dan mitra kerjanya melakukan pembicaraan dengan kami," katanya.

Massa menuntut komitmen PT CPI dan mitra kerjanya yakni kontraktor untuk mengakomodir warga tempatan asli Melayu sebagai tenaga kerja. Padahal sebelumnya, Chevron berjanji merekrut warga sebagai tenaga kerjanya, namun ingkar janji.

"Mereka (PT CPI) sudah ingkar janji, padahal sudah dua kali surat kesepakatan ditandatangani bersama pada tahun 2000 dan 2006," keluhnya.

Pendemo juga menuntut kejelasan dari pihak CPI soal dana Corporate Social Responsibility (CSR). Namun, dalam jawabannya, Tiva Permata tak menanggapi soal tuntutan itu. [Pan]