Korban Harap Laporan Perampokan Dituntaskan

Polda Riau Menangkan Gugatan Pemilik Gudang Tersangka Penggelapan Sembako, Ini Kata Korban..

KEPERGOK DI GUDANG SEMBAKO - Huidiyanto Selaku Pemilik Gudang (Kiri/Tersangka), Fernando Selaku Sales UD Jaya Mandiri (Tengah/Tersangka) dan Rekan Huidiyanto Bernama Joni (Kanan/Saksi) Saat Dipergoki Korban Membongkar Barang Sembako Dari Mobil Korban di Gudang Milik Tersangka Huidiyanto | Screenshot Video Yang Direkam Pihak Korban

Beritariau.com, Pekanbaru - Hakim di Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Zepri Mahilda Harahap, menolak seluruh gugatan Praperadilan yang dilayangkan Huidiyanto (32), Pemilik Gudang Jalan Riau, yang jadi tersangka Penggelapan Barang Sembako yang merugikan korban senilai Rp3,7 Milyar.

Pengadilan menyatakan, tindakan Polda Riau dalam menetapkan, menangkap dan menahan Huidyanto Sah secara Hukum.

"Menolak permohonan pemohon seluruhnya, menyatakan penetapan tersangka, penangkapan dan penahanan yang dilakukan oleh termohon sah secara hukum, menolak permohonan penghentian penyidikan oleh pemohon, menolak ganti rugi dan rehabilitasi oleh pemohon, menyatakan tindakan hukum termohon yang berkaitan dengan perkara aquo sah secara hukum," demikian bunyi Amar Putusan yang dibacakan, Senin (18/10/21).

Dalam pertimbangannya, Hakim menyatakan bahwa penetapan tersangka yang dilakukan oleh Polda Riau terhadap Huidiyanto sah secara hukum karena sudah berdasarkan bukti permulaan yang cukup, yaitu adanya keterangan saksi dan bukti surat / dokumen yang mengacu kepada pada 1 angka 14 KUHAP dan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 21/ PUU- VIII/ 2014  sebagaimana termuat dalam pasal 184 KUHAP.

Kemudian, terhadap Penangkapan dan Penahanan yang dilakukan oleh Polda Riau terhadap Huidiyanto, sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan sah secara hukum. Karena berdasarkan alasan yuridis yaitu bukti yang cukup serta surat penangkapan dan penahanan telah diberikan kepada tersangka dan keluarga.

Atas putusan ini, Kabid Humas Polda Riau menyatakan Kepolisian mematuhi apapun putusan Pengadilan. Kepolisian, katanya, dalam melakukan Penyidikan selalu berpedoman kepada mekanisme yang berlaku.


"Kepolisian Daerah Riau selalu profesional dalam menangani setiap perkara. Apapun putusan Peradilan kita hormati. Putusan ini memperkuat penyidik melanjutkan perkara ini ke tahap selanjutnya," ungkap Sunarto saat dikonfirmasi terkait putusan.


Ditanya soal adanya kemungkinan tersangka lain, Sunarto menyatakan hal tersebut tergantung perkembangan dalam penyidikan. Tidak tertutup kemungkinan lain dalam perkembangan.


"Semua tergantung perkembangan penyidikan, saksi dan alat bukti," ucapnya.


Sebelumnya, tak terima dijadikan tersangka Huidiyanto (32), menggugat Kapolda Riau. Ia melayangkan gugatan Pra Peradilan ke PN Pekanbaru.

Dalam permohonannya yang Huidiyanto meminta hakim Menerima seluruh Permohonannya diterima oleh Pengadilan, termasuk menghukum Kapolda Riau untuk membayar ganti kerugian Materiil sebesar Rp3 juta dan Kerugian Immateriil Rp1 Milyar Rupiah. Sehingga total kerugian seluruhnya sebesar Rp.1 003.000.000, yang dibayar secara tunai dan sekaligus kepada dirinya.

Huidiyanto juga meminta Pengadilan menghukum Kapolda Riau untuk Meminta Maaf secara terbuka kepada dirinya melalui Media Massa selama 3 hari berturut-turut.

Namun, seluruh permohonan tersebut ditolak oleh Hakim.

Atas putusan ini, Keluarga Korban, Amri Manurung, mengapresiasi sikap Majelis Hakim. Selanjutnya, Amri berharap agar penyidik segera mengembangkan tersangka lain karena menurutnya, setiap barang Sembako mereka tiba di Gudang langsung dibagi 2 oleh rekan Huidiyanto bernama Joni.


"Barang kami itu bukan hanya ke Huidiyanto, tapi juga ke Joni. Joni juga harus dimintai pertanggungjawaban dihadapan Hukum. Termasuk orang-orang dibelakang mereka ini. Ini ada oknum dibelakangnya," ucap Amri.


Amri juga berharap Polda Riau segera menuntaskan laporan pihak Huidiyanto dan Joni melalui Pengacaranya Doni Warianto yang menuduh pihak Korban dan Oknum Brimob serta Oknum Polda Riau sebagai perampok.


"Kami berharap laporan itu segera tuntas apakah dilanjutkan atau tidak. Kami yakini itu adalah Laporan Palsu. Juga Konferensi Pers mereka itu jelas fitnah dan mencemarkan nama baik," tegas Amri.


Diketahui, penyidikan kasus ini bermula dari Laporan Polisi UD Jaya Mandiri Nomor : LP/B/330/VIII/2021/SPKT/Riau tanggal 24 Agustus 2021. Laporan tersebut terkait dugaan Penggelapan dalam jabatan dan atau pertolongan jahat yang dimaksud dalam Pasal 374 jo Pasal 55 ayat 1 KUHP dan atau Pasal 480 KUHP, yang dilayangkan oleh Pemilik Usaha Sembako UD Jaya Mandiri, Sumarni.

Ia melaporkan barangnya digelapkan oleh oknum karyawannya bernama Fernando Tobing dan kawan-kawannya

Dalam keterangannya, Pemilik UD Jaya Mandiri mencium adanya kejahatan ini pada tanggal 19 Agustus 2021 lalu, ketika Supir nya memberitahukan tentang kecurigaan terhadap Sales mereka bernama Fernando, diduga membuat orderan fiktif.

Lalu, pada tanggal 23 Agustus 2021, Fernando memesan sembako lagi dari gudang atas pemesanan dari pihak Toko yang mengaku dari Kabupaten Siak. Setelah barang sembako dimuat, Fernando ternyata menyuruh supir untuk mengantarkan sembako ke Pemesan yang mengaku di Siak.

Pemesanan berlanjut, pada tanggal 24 Agustus 2021, Fernando kembali memesan sembako dari gudang Korban, juga atas pesanan dari pihak dari Siak. Kembali, Ia menyuruh supir untuk mengantarkan sembako tersebut ke Pemesan.

Curiga, keluarga Korban karyawannya, membuntuti mobil truk tersebut menuju lokasi si pemesan. Ternyata, gudang itu bukan di Kabupaten Siak melainkan di Jalan Riau Kota Pekanbaru.

Disitu, pihak korban mendapati beberapa orang sedang membongkar atau memindahkan barang sembako milik mereka dari 3 (tiga) unit mobil pick up yang juga milik mereka, ke dalam gudang milik Huidiyanto.
FOTO : KEPERGOK DI GUDANG SEMBAKO - Para Pihak Terkait Saat Muatan Mobil Korban Dibongkar di Gudang Milik Tersangka | Screenshot Video Yang Direkam Pihak Korban

Suami korban pun menyuruh para pekerja gudang anak buah Huidiyanto untuk memindahkan barang-barang milk korban yang telah dibongkat dari 3 unit mobil pick up itu dan dimuat kembali ke dalam mobil mereka dan membawa kembali barang-barangnya itu kembali ke gudang UD Jaya Mandiri.

Menurut Adik Korban, Amri, masih ada barang-barang mereka di dalam Gudang tersebut yang diduga hasil penggelapan selama ini. Namun saat itu, kedua belah pihak sepakat agar barang-barang itu tidak keluar dari Gudang selama proses hukum dari kepolisian usai mereka melapor.

"Jadi saat itu, kita (Pihak Korban dan Tersangka, red) minta itikad baik mereka. Sama-sama sepakat agar barang-barang sembako yang ada di dalam Gudang itu, untuk tidak keluar dari Gudang. Menurut kami, sebagian besar adalah milik kami yang digelapkan oleh Fernando. Jadi sama-sama menggembok ruko dan malam harinya pun pihak Huidiyanto dan Joni mengirimkan para karyawannya ke kantor kami untuk sama-sama menghitung," ujar Amri beberapa waktu lalu.

Dalam pengakuan Fernando kepada pihak korban, selama ini Ia bekerja sama dengan Huidiyanto. Ia menjual barang-barang sembako milik korban kepada Huidiyanto dengan harga murah (dibawah harga modal, red) dan menyuruh supir mengantarkan barang-barang sembako ke gudang Huidiyanto.

Fernando membuat faktur penjualan palsu agar korban tidak mengetahui barang-barang sembako tersebut dijual kepada Huidiyanto dengan harga murah.

Bahkan, Fernando malah tidak menyerahkan uang pembayaran barang-barang sembako sesuai 46 faktur penjualan sejumlah kurang lebih Rp3,4 miliar kepada Korban. Ia menyuruh Huidiyanto mengirimkan uang pembayaran barang-barang sembako itu ke rekening orang tuanya sendiri, berisinial NS.

Fernando mengaku, Ia menggunakan uang hasil pembayaran barang-barang sembako tersebut untuk keperluan pribadi dan keluarganya.

Selang beberapa hari sejak dilaporkan ke Polisi, pihak Korban yang mendapat informasi bahwa Huidiyanto dan Joni ternyata mengosongkan Gudang mereka. Pihak Korban pun langsung turun ke lokasi Gudang di Jalan Riau itu.

"Kami pun mendatangi Gudang tersebut untuk cek barang dan ternyata sudah kosong. Kami disambut dengan sikap tidak koperatif. Barang-barang kami sudah hilang. Sikap mereka beda, kalau tanggal 24 Agustus lalu mereka tidak membantah. Tapi awal September itu, sepertinya kami dipancing. Kami ditantang-tantang. Kami duga kami mau dijebak supaya memukul lalu nanti dilaporkan ke Polisi. Kami pulang dan tidak melakukan apa-apa," ucap Amri.

Ternyata, Huidiyanto dan Joni semakin melawan. Pada 07 September 2021, mereka melapor ke Polda Riau dan menggelar jumla pers di Mapolda Riau yang disampaikan Kuasa Hukumnya, Doni Warianto SH. Mereka mengaku dirampok oleh pihak korban berjumlah 9 orang.

Doni secara langsung menyatakan, 2 dari 9 terduga perampok itu adalah anggota Polisi dari Brimob dan anggota Polda Riau

"Kami membuat laporan secara resmi di Polda Riau terkait dugaan adanya Perampokan, Pencurian dan Perampasan yang terlibat di dalamnya, yang mana 1 oknum dari Satbrimobda Polda Riau," ucap Doni.

FOTO : Jumpa Pers - Doni Warianto (Baju Putih, red), Pengacara Huidiyanto (Tersangka, red) dan Joni (Saksi / Kiri), Saat Jumpa Pers di Mapolda Riau Melaporkan Sejumlah Orang Termasuk 2 Anggota Polisi Dengan Tuduhan Perampokan | Screenshot Video Konpers.

Laporan Huidiyanto dan Joni itu ternyata diterima oleh Polda Riau.

"Kok kami disebut perampok, kami korban. Saat kami grebek, barang kami dari truk itu ternyata dikirim dan dibongkar ke gudangnya, ya kami ambil lagi lah barang yang diturunkan dari Mobil kami itu. Tapi, barang-barang kami yang sudah lama di dalam Gudang itu, tidak ikut kami ambil. Karena sama-sama sepakat barang itu akan jadi jaminan selama proses hukum Kepolisian," kata Amri.

Lalu, kata Amri, malam harinya, pihak Huidiyanto dan Joni justru mengirim para karyawannya sebanyak 3 orang.

"Malamnya, justru mereka (Huidiyanto dan Joni, red) mengantar sebagian barang kami dengan mobil mereka sendiri dan karyawannya untuk menghitung faktur dan barang kami yang selama beberapa bulan ini masuk ke Gudangnya. Ada kok bukti dan videonya. Tapi, kok tanggal 7, malah kami dilaporkan merampok. Laporan palsu itu sebenarnya," kata Amri.

Ternyata, dari hasil penyidikan kepolisian, Penyidik menemukan bukti Huidiyanto terlibat dalam dugaan kasus ini bersama Fernando.

“Dari hasil pemeriksaan, aksi ini ternyata sudah berlangsung sejak bulan Mei 2021 dimana HD (Huidiyanto, red), si Pemilik Gudang Jalan Riau ini lah yang mengajak FT (Fernando/Sales, red) untuk bekerja sama menjualkan barang-barang sembako dari UD JM kepada dirinya dengan harga murah dan membuat faktur barang fiktif dan akan dibayarkan secara bertahap kepada Fernando,” ungkap Sunarto.

Setelah disepakati kerja sama tersebut, kata Narto, Fernando memesan atau order barang-barang sembako kepada korban untuk diantarkan ke bebarapa toko yang berada di Kabupaten Siak dan Pelalawan.

Kemudian, Fernando menyuruh supir mengantarkan barang-barang sembako tersebut ke gudang milik Huidiyanto di Jalan Riau Kecamatan Payung Sekaki Kota Pekanbaru.

Setelah menerima barang-barang tersebut, Huidiyanto diduga menyuruh Fernando untuk membuat faktur penjualan fiktif agar tidak diketahui oleh korban bahwa barang sembako tersebut dijual kepadanya dengan harga murah.

Akhirnya, Polda Riau, Jumat (10/09/21) lalu, menangkap Huidiyanto. Sedangkan rekannya bernama Joni, berstatus sebagai saksi.

"Barang itu dibagi dua dengan JN (Joni, red), saat ini JN masih terus kita dalami,” tutup Sunarto, Rabu 15 September 2021 lalu.

Namun, Huidiyanto kembali melawan dan menggugat Pra Peradilan di PN Pekanbaru.

Huidiyanto menggugat Kapolda Riau atas Penetapan, Penangkapan dan Penahanan dirinya sebagai tersangka dalam kasus itu. (*)