1 Juta Lebih Hektar Hutan Alam Diduga Dirusak APP

Jikalahari Desak Gubri Pecat Kadis LHK Riau

Penulis : admin | Selasa, 10 September 2019 - 17:41 WIB

Beritariau.com Pekanbaru - Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), Made Ali, mendesak Gubernur Riau (Gubri) untuk memecat kepala Dinas (Kadis) LHK karena diduga dengan sengaja membiarkan staf BLH hadir di tengah penanaman 10 ribu pohon bersama Asia Pulp & Paper (APP) Sinarmas grup.

"Pemerintah jangan sampai dijadikan legitimasi untuk membenarkan kejahatan yang mereka (APP,red) lakukan, menanam 10 ribu pohon, tapi merusak 1 juta lebih hutan alam,” kata Made Ali, dalam rilis yang disampaikan, Selasa (10/09/19).

Menurutnya, penanaman 10 ribu pohon yang dilakukan APP Sinarmas di Desa Sigintil, Teluk Rimba, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak, pada 3 September 2019 yang lalu, merupakan temuan investigasi Jikalahari sejak beroperasi hingga kini APP grup telah merusak hutan alam seluas 1 juta lebih hektare.

"APP menanam 10 ribu pohon seolah-olah telah memperbaiki hutan yang telah dia rusak. Peringatan 10 ribu pohon di tengah karhutla dan lebih dari 22 ribu warga Riau terkena ISPA hingga September 2019, juga untuk menutupi konsesi APP yang terbakar," jelasnya.

Hasil investigasi lapangan pada 20 Maret 2019, Jikalahari menemukan PT Satria Perkasa Agung terbakar lebih dari 10 hektar dengan kedalaman gambut 2 sampai 4 meter.

Hasil analisis hotspot di konsesi APP grup melalui satelit Tera-Aqua Modis, terdapat 875 titik hotspot sedangkan confidence diatas 70 persen ada 267 titik sepanjang Januari – September 2019. 

Rincian itu yakni, PT Rimba Rokan Perkasa 45 titik, PT Arara Abadi 41 titik, PT Satria Perkasa Agung 30 titik, PT Bhara Induk 28 titik, PT Bina Daya Bintara 19 titik, PT Balai Kayang Mandiri 9 titik, PT Sakato Pratama Makmur 9 titik, dan PT Suntara Gaja Pati 5 titik.

Terkait Komitmen FCP APP, hingga detik ini juga APP belum melakukan kewajibannya berupa merestorasi areal bekas terbakar pada 2015 seluas 45.960,39 hektar berdasarkan peta Restorasi Badan Restorasi Gambut (BRG). 

Hasil investigasi Eyes on the Forest sepanjang Juli – Desember 2018 menemukan beberapa perusahaan grup APP tidak melakukan restorasi dan bahkan perusahaan menanam kembali akasia diareal bekas terbakar tahun 2015. 

Perusahaan itu adalah PT Satria Perkasa Agung, PT Sakato Pratama Makmur distrik Hampar, PT Sakato Pratama Makmur distrik Humus, PT Bukit Batu Hutani Alam, PT Rimba Rokan Perkasa.

APP grup katanya, juga secara tidak langsung diduga merusak habitat harimau sumatera hingga mengakibatkan konflik harimau dan manusia. Dimana diketahui, pada 25 Agustus 2019, Darmawan diterkam Harimau hingga tewas di konsesi PT Bhara Induk APP grup. Sebelumnya masih di lansekap yang sama, Harimau terkam M. Amri hingga tewas, karyawan PT Riau Indo Agropalma juga APP grup.

Selain itu APP grup diduga terlibat merusak hutan alam di Riau melalui suap perizinan yang melibatkan Gubernur Riau Rusli Zainal, Bupati Siak Arwin AS dan Bupati Pelalawan melalui PT Satria Perkasa Agung, PT Mitra Hutani Jaya, PT Balai Kayang Mandiri dan PT Rimba Mandau lestari.

Dengan kejadian itu, Jikalahari juga mendesak Menteri LHK mencabut izin APP grup dengan cara mencabut seluruh izinnya di atas lahan gambut termasuk yang bekas terbakar, mengembalikan lahan masyarakat adat dan tempatan yang telah dirampas selama ini.

“Kalau pemerintah serius menghentikan karhutla, langkah pertama jangan memberi ruang pencitraan kepada perusahaan yang memang itu digunakan untuk membodohi publik dan menutupi kejahatannya.” tutupnya. [rls]

 

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :