Soal Ekonomi Rakyat, Tanya ke Penjual Bunga

Curhat ke relawan LE, Penjual Bunga: ekonomi sulit, rakyat tak mampu lagi beli keindahan

Curhat ke relawan LE, Penjual Bunga: ekonomi sulit, rakyat tak mampu lagi beli keindahan

TAMAN BUNGA ARIFIN - Foto Usaha Taman Bunga Fredy di Arifin Ahmad. Hanya Taman Ini Menjadi Harapannya. Sejak Himpitan Ekonomi Melanda Rakyat Riu, Fredy Terpaksa Merelakan Taman Bunganya di Jalan Soekarno Hatta Ditutup | Istimewa

Beritariau.com, Pekanbaru - Beragam keluhan masyarakat atas kondisi perekonomian yang makin terpuruk kembali bermunculan. Kali ini, datang dari kalangan pedagang penjual bunga di kota bertuah Pekanbaru.

Fredy, salah seorang penjual Bunga di kawasan Jalan Arifin Ahmad, Pekanbaru mengaku omzetnya beberapa tahun belakangan menurun drastis. Beragam jenis bunga yang dijual oleh Ia dan istrinya di taman di kawasan itu semakin hari semakin tipis harapan dilirik oleh para pembeli. Kondisi ini, sudah berlangsung cukup lama.

Awalnya, dia memiliki dua tempat taman ‎berjualan bunga. Namun, lama-kelamaan pembeli makin sepi. Masyarakat jarang berbelanja bunga lagi.

Dengan berat hati, akhirnya, di medio tahun 2016 lalu, tamannya di kawasan Jalan Soekarno Hatta terpaksa ditutup.

"Kalau ada yang bilang ekonomi bagus, itu orang goblok. Jadi begini, kalau mau tahu soal ekonomi rakyat, jangan tanya pedagang sembako.," kata Fredy, saat ditemui Eddy RM, Ketua Tim Relawan Bakal Calon Gubernur Riau Lukman Edy (LE), Selasa (31/10/17) siang

Pasalnya, terang Fredy, sesulit apapun ekonomi, orang pasti akan makan dan beli bahan makanan. Menurutnya, indikatornya bukan harga beras dan harga cabai dan lainnya.

"Jadi, tanya ke kami pedagang bunga. Sebab, orang yang mau beli bunga itu, pasti urusan 'kampung tengahnya' (perut, red)‎ sudah aman. Jadi, mampu memikirkan dan membeli keindahan dengan bunga di sekitar rumah. Bunga itu, keindahan itu, dibeli. Mana ada lagi orang ke hutan pergi nyari bunga. Belinya ya dari kami," curhat Fredy berapi-api.

Soalnya, lanjut Pria beranak satu ini, bisnis jualan bunga ini, sangat tergantung dari kondisi ekonomi masyarakat.

"Jangan tanya ke kelompok bisnis ini, bisnis itu, tanya ke kami. Jika ekonomi rakyat baik, pasti ‎akan beli bunga untuk keindahan rumah. Jika ada uang, kaum ibu pasti beli bunga dulu baru belanja lainnya, seperti furniture alat-alat rumah lainnya," ulangnya.

Ia pun akhirnya merincikan dan blak-blakan. Saat ini, penjualan rata-rata perhari bunganya hanya berkisar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.

"Beberapa tahun lalu, ibu-ibu pedagang pasar pagi arengka masih sempat singgah membeli bunga untuk ditanam di rumahnya. Sekarang, jangankan (pembeli, red) yang naik mobil‎, ibu-ibu itu pun tak pernah lagi singgah walaupun cuma melihat-lihat," ucapnya.

‎Ia melihat, kondisi ini semakin parah hari demi hari. Omzetnya yang semakin menurun itu membuat Ia mengurangi karyawan pengurus taman.

"Dulu ada 3 hingga orang. Terpaksa sebagian saya lepas. Karena untuk bayar sewa tempat pun masih kurang, ya mau gimana lagi, Bos," beber pria yang tinggal di kawasan Panam ini.

‎Tanpa menuduh, namun menurut Fredy, kondisi ini sejak pemerintahan ‎Presiden Joko Widodo.

"Semua teman bilang, sejak Jokowi kita jadi begini. Memang dia (Jokowi, red) lagi banyak membangun disana-sini, tapi program yang langsung untuk membantu ekonomi rakyat itu malah nihil. Kami lah yang paling kena," terang Fredy.

‎Belum lagi, sambungnya, Pemerintah Provinsi Riau saat ini seakan tak ada solusi atas kesulitan ekonomi saat ini. Ia pun sama sekali tak melihat ada perhatian Gubernur Arsyadjuliandi alias Andi Rachman terhadap rakyat jelata.

"Apa kerja Andi ini? Kita tengok spanduk Germas ‎dia itu dipajang disana-sini. Itu lah kalau pemimpin cara pandangnya bukan dari sisi rakyat. Orang yang bisa hidup sehat itu, kalau bisa makan. Kalau makan aja sulit, gimana mau sehat dan indah. Kok tak dipikirnya sampai kesitu," kata Fredy geram.

‎Fredy mengaku sama sekali tak memikirkan politik lagi. Siapapun yang nanti bakal jadi Gubernur Riau, termasuk LE sendiri kalau terpilih, Ia berharap sudah punya solusi untuk keadaan sekarang.

"Kita tak urusi politik bos. Yang penting kita bisa hidup layak aja sudah syukur. Kalo bang LE maju pesan saya, pikirkan rakyat ini, jangan cuma dirinya dan kelompoknya saja. Apalagi kalau LE sudah duduk, jangan bos aja (Eddy RM) yang diurus. Urus kita ini juga," sindirnya tersenyum sambil menyuguhkan kopi kepada Eddy RM.

‎Ia juga menyindir keinginan Andi Rachman maju kembali jadi Calon Gubernur. Ia pun mempertanyakan 'modal' Andi kembali maju.

"'Modal' dia apa? Bukan modal duit, kalau itu (duit, red) kabarnya dia kan orang kaya. Maksud saya 'modal' itu adalah apa keberhasilannya, apa yang dibuatnya untuk rakyat yang susah ini. Mungkin 'modal' dia ya dari dukungan elit-elit sekelilingnya. Saya sangat ragu rakyat bersama dia," tutup Fredy.

Cerita Fredy ini hanya bisa disimak dan didengar Eddy RM. Ia tak banyak menanggapi curhat Fredy.

‎Fredy sendiri, sepertinya sudah capek dengan urusan politik. Bahkan Ia menolak difoto saat ngobrol.

"Kalau memuat berita wawancara ini boleh. Tapi tak usah difoto. Rata-rata pedagang bunga di Arifin ini sudah kenal kok gimana saya," ujarnya kepada wartawan.

"‎Sabar ya bang. Tetap semangat untuk keluarga. Salah satu program LE (Lukman Edy, red) itu ya membantu usaha-usaha rakyat. Makanya kita lebih sering kunjungi pelaku usaha kecil, yang di kaki lima dan gerobak-gerobak lainnya. Hampir semua mengeluh seperti tak ada solusi ekonomi," kata Eddy.

Dituturkan Edy, slogan 'Riau Bangkit' yang diusung LE, merupakan cerminan harapan dari rakyat. Ekonomi rakyat bangkit, kata Eddy, maka Riau Bangkit dan ‎sejahtera.

"Slogan LE itu harapan dari rakyat yang ditemui LE dan relawannya. Bukan cuma gagah-gagahan dari LE sendiri bang. Ini bukan kampanye tapi memang kami harus bertanya kepada rakyat," ucap Eddy RM dan kemudian berpamitan. [red]