Panen Semangka di Sungai Apit, Bupati Afni Soroti Manfaat Dana Desa bagi Warga

Beritariau.com, Siak -- Hamparan tanaman semangka di Kampung Harapan, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, menjadi bukti bahwa Dana Desa dapat dikelola menjadi program produktif yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Bupati Siak Afni Zulkifli melihat langsung hasil pengembangan pertanian tersebut saat menghadiri panen semangka, Kamis (20/8/2026).
Afni mengapresiasi pemerintah kampung yang memanfaatkan Dana Desa untuk mengembangkan sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
“Saya kalau diundang panen dari sesuatu yang berasal dari Dana Desa, saya senang. Saya ingin menunjukkan bahwa tidak semua perangkat desa atau Dana Desa itu dikorupsi. Pasti masih banyak aparatur desa yang amanah, dan ini buktinya,” kata Afni.
Program pengembangan lahan semangka dan melon di Kampung Harapan telah berjalan secara bertahap sejak 2024. Modal awal yang bersumber dari Dana Desa mencapai sekitar Rp219 juta.
Program tersebut mulai memberikan hasil. Pengelolaan lahan pertanian mampu meningkatkan Pendapatan Asli Kampung (PAK) hingga 200 persen serta membuka lapangan pekerjaan bagi warga.
Sekitar 50 hingga 60 masyarakat terlibat dalam aktivitas pertanian tersebut. Tidak hanya laki-laki, kaum ibu juga ikut bekerja mulai dari penanaman, perawatan hingga proses penyerbukan tanaman.
Bagi warga, kegiatan tersebut menjadi sumber pendapatan tambahan. Salah seorang warga bahkan mengaku dapat memperoleh sekitar Rp30 ribu dari pekerjaan selama kurang lebih dua jam.
Menurut Afni, keberhasilan Kampung Harapan menunjukkan bahwa Dana Desa dapat menciptakan manfaat berantai jika dikelola secara tepat dan diarahkan pada kegiatan produktif.
“Dari Dana Desa mereka menanam semangka, kemudian Pendapatan Asli Kampung naik. Kampung menjadi lebih maju dan masyarakat juga mendapatkan pekerjaan. Ini yang harus kita dorong,” ujarnya.
Meski demikian, Afni mengingatkan pemerintah kampung menghadapi tantangan berupa keterbatasan ruang fiskal akibat berkurangnya alokasi anggaran. Kondisi tersebut membuat pemerintah desa harus lebih cermat menentukan prioritas antara ketahanan pangan, pembangunan infrastruktur dan kebutuhan masyarakat.
Ia meminta program produktif yang telah terbukti memberikan manfaat tetap dipertahankan.
“Sekarang semua kena potong. Jadi jangan marah kepada penghulu. Kami juga terus berjuang. Saya ingin menunjukkan bahwa Dana Desa itu memang dibutuhkan masyarakat desa. Sesungguhnya Dana Desa harusnya ditambah, bukan dipotong,” tegasnya.
Dalam kunjungan tersebut, Afni juga menyerap aspirasi masyarakat terkait kondisi infrastruktur. Salah satu yang disampaikan warga adalah kerusakan Jalan Sudirman yang dinilai menyulitkan kendaraan melintas.
Afni mengakui keterbatasan kemampuan keuangan daerah membuat pemerintah belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan pembangunan sekaligus. Namun, ia menegaskan kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bekerja.
“Saya bukan tipe pejabat yang suka berjanji. Kalau bisa, saya bilang bisa. Kalau tidak bisa, saya bilang tidak. Kalau duit belum ada, ya saya sampaikan duit belum ada. Tapi bukan berarti kita menyerah,” ujarnya.
Ia memilih turun langsung ke berbagai kecamatan untuk melihat kondisi masyarakat sekaligus mencari solusi sesuai kemampuan pemerintah daerah.
“Apakah kita menyerah? Apakah bupati sembunyi menunggu gaji? Kan tidak. Saya keliling ke kecamatan. Kita lihat langsung persoalan masyarakat dan kita cari jalan keluarnya,” kata Afni.
Afni berharap keberhasilan Kampung Harapan dapat menjadi contoh bagi kampung lainnya di Siak dalam mengelola Dana Desa secara transparan dan produktif.
Menurutnya, setiap rupiah anggaran yang dipercayakan kepada pemerintah kampung harus mampu memberikan manfaat nyata dan kembali dirasakan masyarakat.
“Yang penting sekarang kita maju ke depan. Mari kita tunjukkan bahwa setiap rupiah Dana Desa yang dititipkan kepada penghulu dan perangkat desa digunakan untuk kemaslahatan rakyat,” pungkasnya. (*)

