buku sajak penggal keempat

tersebab kita melayu

tersebab kita melayu

Penulis: taufik ikram jamil
Desain Sampul: Abiel
Penata Letak: Abiel
Penerbit: Salmah Publishing
Tahun Terbit: 2026
Jumlah Halaman: viii + 64 hlm. 14.8 x 21 cm


sajak-sajak: taufik ikram jamil

menulismu lagi dan lagi

akan kutulis lagi engkau 
karena kerinduanku padamu
makin lama makin mengabur 
menghampiri kisah seperti gambar
yang kepada bunyi selalu menghindar
mungkin juga suara
terhadap cahaya yang berpendar
karena keputusan takdir
senantiasa mengulangi perbedaan
meski dalam satu ingatan 
yang besarnya selebar penglihatan

akan kutulis lagi engkau
karena tak ingin aku
engkau menjadi bagian yang terlupakan
tenggelam dalam waktu
yang bahkan tak sempat melakukan sesuatu 
juga tak mungkin disebut sebagai masa lalu
tertunduk dalam samar-samar pun tak
antara ada dan tiada menguap
hilang ruang di tempat yang pernah
tak secuil mengganjilkan 
sekepal tidak menggenapkan pula
begitulah kini kukumpulkan kenangan 
dalam gawai tanpa sempadan
kala tetikus dan kursor saling berpandangan
ditafsirkan layar sebagai lampiran
tapi alam maya serupa khayalan
menautkan abad bahkan detik 
dalam satu helaan tiada berlebih
lalu dipindai cinta menjadi sajak
sisanya adalah politik bahkan filsafat

tentu dapat kuingat
saat engkau membersihkan dawat
di halaman sulalatus salatin bertebar karat
pun saat kau pinjamkan pantun 
kepada dunia yang patut dituntun
tak ketinggalan seribu satu malam 
dirasuk manteramu di antara geram
sriwijaya biarlah kusimpan 
sebelum dapat kaubaca surat arabian
utusan tuhan yang penuh pengampunan

selebihnya adalah segala sesuatu
yang mengingatkan dirinya sendiri


tak satu-satu

kalian yang bersumpah bertanah air satu
berjanji pula berbangsa satu
dalam satu bahasa terlaung lantang
inilah kutukan dari semuanya itu: 
tak satu-satu

(tersebab lidah tak bertulang
lain di bibir lain di hati
akibat khianat diulang-ulang
kesetian berbagi dihalau pergi)

dan beginilah jadinya
tak satu-satu dimiliki satu per satu
satu-satunya satu adalah satu per satu
sebelum satu merasa kehilangan per
padahal tak akan pernah ada kata persatu 
sedangkan bersatu 
hanya untuk tidak bersatu
karena tak mungkin tercipta satu
dari keadaan satu-satu
adapun kesatuan dan persatuan
tercekik ke-an maupun pe-an
serupa pungguk merindukan bulan
bagai tak sudah menggantang asap
laksana berkayuh di hamparan paya
mungkin juga semacam katak
bercita-cita besar menjadi lembu
huh...

tak satu-satu
itulah kutukan dari semuanya
bagi kalian yang bersumpah bertanah air satu
berjanji pula berbangsa satu
dalam satu bahasa terlaung lantang