Minta Polda Riau Jalin Komunikasi dengan Masyarakat

Bravo! Kapolri: Saya minta maaf atas kejadian di Meranti

Bravo! Kapolri: Saya minta maaf atas kejadian di Meranti

Kapolri Jenderal Tito Karnavian Saat di Mako Brimobda Polda Riau

‎Beritariau.com, Pekanbaru - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyampaikan permintaan maaf atas tragedi di Kepulauan Meranti yang terjadi pada Kamis (25/08/16) kemarin. Penyataan disampaikan langsung dihadapan Gubernur, Bupati/Walikota se Provinsi Riau dalam acara ramah tamah, dan jamuan makan malam yang digelar di Kediaman Gubernur Riau, Senin (29/08/16) malam.

"Saya pribadi meminta maaf warga Riau dan warga Meranti. Memang ada beberapa hal yang kurang pas," ujarnya.

Pernyataan berwibawa ini, menguatkan pernyataan maaf yang juga telah disampaikan ‎Kapolda Riau Brigjen Pol Supriyanto pasca terjadinya kerusuhan itu. Sikap Kapolda ini ternyata senada dengan sikap Pimpinan Tertinggi Polri tersebut.

Tito mengaku, penanganan kasus itu, diserahkan kepada Kepala Divisi (Kadiv) Provesi dan keamanan (Propam) Mabes Polri dan Asisten Operasi (Assops) untuk menindaklanjuti kejadian di Meranti tersebut.

"Perintah kepada Kapolda melakukan langkah-langkah penegakkan hukum termasuk kepada anggota. Diback Up Kadiv Propam, dan Assops, dua orang bintang dua ke sini," sebutnya.

Selain itu, menurutnya pergantian pucuk pimpinan di Polres Meranti juga telah dilakukan. Ke depan jelasnya juga akan dilakukan penyegaran di jajaran Polres Meranti.

Bahkan, tindakan tegas telah dilakukan. Karena 3 orang oknum polisi telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Menurut Tito, hal ini untuk pembelajaran bagi yang lain. Karena kerja polisi tidak akan mentolerir anggota yang salah.

"Kami Polri 430 ribu orang tidak mungkin dikorbankan untuk melindungi oknum yang salah," jelasnya.

Ketiga tersangka yang telah ditahan di Mapolda Riau itu, Bripda AS sebagai anggota Serse Meranti, Brigadir DY yang bertugas di Polsek Tebing Tinggi, dan Bripda EM petugas SPKT Polres Meranti. Langkah tegas ini adalah sebagai bagian dari upaya reformasi Polri. Jendral Tito secara tegas melakukan reformasi culture di internal kepolisian.

"Kita reformasi culture, arogansi kekuasaan dan kewenangan di Polisi, pengunaan kekerasan di kepolisian. Ketika terjadi pelanggaran, maka kita tidak akan lindungi anggota," ujarnya menegaskan.

Saran Tito, dalam situasi Meranti yang sudah kondusif ini diharapkan adanya pembenahan dan perbaikan bangunan Mapolres yan rusak. Tak lupa Ia menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh jajaran Forkompinda, dan Tokoh masyarakat di Kabupaten Meranti dan Riau secara umum.

"Terimakasih kepada semua tokoh masyarakat, dan Forkompinda menormalisasi situasi. Sekarang sudah normal, tinggal langkah pemulihan, di antaranya perbaikan kantor," ujarnya.

Kedepannya, Tito meminta kejadian serupa tidak terulang. Tidak hanya di Riau, melainkan di Provinsi lain di Indonesia. Sebab, menurutnya, peristiwa ini merupakan tindakan oknum Polisi yang mengakibatkan rendahnya kepercayaan masyarakat kepada Polisi.

Sehingga beberapa prestasi yang diukir anggota Polisi, seketika menurun akibat ulah oknum Polisi tersebut.

"Ini adalah pengalaman pahit, setelah adanya upaya Polri mencari kepercayaan masyarakat," ujarnya.

Oleh karena itu, Tito menyarankan kepada Kapolda Riau, hingga jajaran kebawah, harus dapat membangun hubungan baik kepada seluruh pihak terkait atau stake holder dan masyarakat.

Ini dilakukan guna meningkatkan kepercayaan dan membangun kehidupan bermasyarakat yang baik dan damai. Contoh kerusuhan di Kepulauan Meranti menunjukkan mekanisme ini belum berjalan baik.

"Saya minta teman-teman di Polda agar membangun hubungan lebih dekat dengan Stakeholder, Pemerintah, TNI, unsur-unsur pemerintah lainnya, termasuk tokoh masyarakat, ormas, civil sosiety, LSM dan lainnya. Kasus Meranti menjadi pelajaran pahit bahwa mekanisme itu belum terbangun dengan baik," mbaunya, Selasa (30/08/16) siang.

Tito mengungkapkan. jika sinergisitas Polri dan masyarakat dilakukan, akan menciptakan kondisi yang kondusif, dan keamanan ketertiban akan terbangun. Kejadian Meranti menurutnya cukup satu kali menjadi pelajaran berharga.

"Kepada jajaran Polda termasuk Polres-polres lain, dapat mengambil pelajaran ini sebagai pelajaran pahit untuk tidak terjadi di tempat lain. Untuk itu perlu langkah-langkah perbaikan dan sinergi dalam rangka hubungan lebih dekat dengan masyarakat," himbaunya. [red]