Gunung Berombak Laut Membeku

Penulis: Sulastri Yerni
Desain Sampul: Abiel 
Penata Letak: Abiel  
Penerbit: Salmah Publising Pekanbaru
Cetakan pertama, Juni 2026
vi + 110 hlm. 14.8 x 21 cm
ISBN: -
Harga: -


Suara dari Masa Lalu

Debu-debu halus tampak menari di bawah sorotan lampu panggung Gedung Daerah Pangkalan Kerinci yang mulai panas oleh riuh manusia. Aku menyeka keringat di dahi dengan ujung jilbab, mataku tak lepas dari barisan anak didiku yang duduk di sayap panggung. Sebagai seorang guru sekaligus pelatih, debar jantungku rasanya jauh lebih kencang daripada mereka yang akan tampil.

"Ingat, Ranti. Saat mendongeng nanti, bayangkan kau sedang bercerita pada nenekmu di beranda rumah. Jangan terburu-buru," bisikku pada salah satu siswaku yang tampak meremas ujung bajunya.

"Iya, Bu Halimah. Ranti takut lupa bagian puncaknya," jawabnya dengan suara bergetar.

Aku tersenyum, mencoba menyalurkan ketenangan yang sebenarnya tidak sepenuhnya kumiliki. "Ibu ada di sini, tepat di barisan depan. Lihat Ibu kalau kau mulai ragu."

Hari itu adalah perlombaan mendongeng cerita rakyat khusus Kabupaten Pelalawan. Sebuah ajang yang bagi sebagian orang mungkin hanya kompetisi biasa, namun bagiku, ini adalah cara menjaga napas tradisi di bumi Melayu ini agar tidak lekang dimakan zaman.

Setelah berjam-jam ketegangan, saat-saat yang mendebarkan itu tiba. Pembawa acara naik ke podium dengan amplop cokelat di tangan.

"Dan Juara Pertama lomba mendongeng tingkat kabupaten tahun ini jatuh kepada..." Ia menjeda sesaat, membuat seluruh ruangan menahan napas. "...Sekolah Dasar Negeri Pangkalan Kerinci!"

Sorak sorai pecah. Anak-anak didikku melompat kegirangan. Kami tidak hanya membawa pulang piala perunggu yang mengkilap itu, tapi juga hadiah uang pembinaan yang cukup besar. Saat aku naik ke panggung untuk mendampingi mereka, rasa bangga membuncah di dada. 
Namun, di tengah keriuhan itu, pandanganku justru tertuju pada sosok laki-laki yang duduk di meja juri paling ujung.

Dia tampak berbeda dari juri lainnya. Wajahnya tenang, dengan gurat-gurat kedewasaan yang menyiratkan banyak pengalaman. Namanya Erwan. Aku mengenalnya sebagai seorang penulis dan pelantun tradisi lisan yang namanya sering kudengar di kalangan pegiat budaya Pelalawan.

"Sebagai penutup kegiatan kita," suara pembawa acara kembali bergema, "mari kita dengarkan pelantunan tradisi lisan yang akan dibawakan oleh salah satu juri kita, Bapak Erwan."

Suasana gedung yang tadinya bising oleh tawa anak-anak mendadak senyap. Erwan bangkit dari kursinya, berjalan menuju tengah panggung tanpa membawa naskah apa pun. Ia memejamkan mata sejenak, mengambil napas dalam, lalu mulailah ia melantunkan sebuah tradisi lisan dalam bahasa Petalangan.

“Ooo... anak cucu di rimba kepungan sialang...”

Seketika, bulu kudukku meremang. Suaranya berat, namun mengalun seperti arus Sungai Kampar yang tenang namun sanggup menghanyutkan apa saja di atasnya. Setiap suku kata yang keluar dari bibirnya bukan sekadar bunyi; ada ruh di sana. Makna tersirat tentang hubungan manusia dengan alam, tentang kehormatan, dan tentang jati diri orang Petalangan tersampaikan begitu kuat melalui cengkoknya yang unik.

Aku terpaku di kursiku. Seolah-olah suara itu menarikku kembali ke masa lalu, ke pelataran rumah-rumah panggung di tepian sungai. Aku merasa kecil, menyadari bahwa apa yang kuajarkan pada anak-anakku barulah permukaannya saja.

Aku ingin bisa melantunkan itu, batinku dalam hati. Aku harus belajar darinya.

Setelah acara benar-benar usai, aku melihat Erwan bergegas membereskan tasnya. Ia tampak ingin cepat pulang. Rasa sungkan yang besar membuat langkahku tertahan di dekat pintu keluar. Hingga bayangannya hilang di balik pintu, aku masih terdiam.

"Bu Halimah, tidak ikut foto bersama lagi?" panggil salah satu rekan guru.

"Sebentar, Pak. Saya ada keperluan," jawabku cepat.
Aku melangkah menuju meja panitia pelaksana yang sedang sibuk membereskan berkas.

"Maaf, Mbak. Boleh saya minta nomor kontak Pak Erwan juri tadi?" tanyaku, mencoba terdengar biasa saja meski jantungku berdegup kencang.

Panitia itu menoleh, tampak sedikit terkejut. "Oh, Bang Erwan? Ada, Bu. Untuk keperluan apa ya? Mau undang beliau jadi narasumber?"

"Iya, sepertinya begitu. Suara beliau tadi sangat luar biasa," alibiku, padahal aku sendiri belum tahu apakah keberanianku akan sampai untuk menghubunginya.

Setelah mendapatkan nomor itu di secarik kertas kecil, aku menggenggamnya erat seperti sebuah harta karun. Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah di sela-sela hamparan sawit yang berbaris rapi, hanya suara lantunan Erwan yang terngiang di telingaku. Judul besar di kepalaku saat itu hanya satu: Aku harus menjadi muridnya.

Malamnya, di bawah temaram lampu kamar, aku menatap layar ponselku. Jari-jariku gemetar saat mengetik pesan pertama di WhatsApp.

“Selamat malam, Pak Erwan. Saya Halimah, pelatih yang tadi mengikuti lomba di Gedung Daerah. Mohon maaf mengganggu waktunya, Pak...”

Aku menarik napas panjang, lalu menekan tombol kirim. Di sinilah semuanya dimulai. Sebuah perjalanan yang tidak hanya tentang memenangkan piala, tapi tentang menemukan kembali akar budayaku sendiri.***